19 Maret 2019
Reposisi Perempuan dalam Kepemimpinan

Reposisi Perempuan dalam Kepemimpinan

Oleh : Subairi

(Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukhlisin DDI Paria)

Al-Quran itu tidak pernah menghalangi dan merintangi perempuan untuk tampil sebagai seorang pemimpin, jadi seandainya ada yang merintangi dan menghalangi perempuan menjadi pemimpin, dengan mengatakan tidak boleh jadi pemimpin, saya kira itu interpretasinya (penafsirannya) terhadap ayat, tetapi kalau itu penafsiran berarti kita juga bisa dong mempunyai penafsiran lain, karena yang namanya penafsiran adalah merupakan hak setiap orang dengan catatan memenuhi kreteria atau persyaratan yang ada.

Kita sebagai ummat Islam, jangan pernah bermain-main terhadap perempuan, sekalipun dulu perempuan itu dianggap sebagai iblis sedangkan laki-laki seperti separuh tuhan, bahkan kalau tidak salah ada sebuah teori yang bernama mesogenis. Teori ini mengajarkan agar kita harus membenci makhluk yang namanya perempuan, gara-gara perempuanlah kita meninggalkan surga.

Perempuan adalah makhluk yang mulia, sebab dialah yang memperoleh pujian dan sanjungan di dalam Al-Quran dengan ungkapan baldatun tayyibatun warabbun gafuur (negeri yang sangat indah, ramai, dengan tuhan yang tampil sebagai maha pengampun). ini adalah negara ideal, cuman sayang sekali hanya sekali tampil ayat ini yang di tujukan terhadap seorang pemimpin yang memimpin masyarakat pada waktu itu adalah seorang ratu yang bernama Ratu Balqis.

Mari sejenak kita berfikir andaikan perempuan dikatakan tidak boleh menjadi pemimpin, lalu apa artinya dan bagaimana mungkin Allah SWT mendemontsrasikan bahwa ada beberapa sosok atau figur perempuan dalam Al-Quran yang sangat hebat, kalau untuk tidak dijadikan sebagai contoh bahwa perempuan juga bisa.

Coba kita mengkaji dan mempelajari Al-Quaran dengan cermat, maka pasti kita akan mendapatkan satu surah, namanya surah saba'. Saba' ini merupakan sebuah kaum yang dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Ratu Balqis yang mana satu-satunya pemimpin yang mendapatkan gelar laha arsyun azhim (pemilik super power), belum pernah ada laki-laki yang mendapatkan predikat ini.

Kaum perempuan harus berterima kasih dengan hadirnya Islam yang dibawa oleh baginda Rasullullah SAW, bahkan ada sebuah aktikel yang ditulis oleh seorang guru besar kelahiran Lebanon yang beragama Katolik, dia mengatakan "seandainya bukan karena Nabi Muhammad SAW, kaum perempuan masih belum dianggap sebagai makhluk mulia dan terhormat,". (Ed: Hmz/wrd)

Dibaca : 375 kali

0 Komentar