15 Juli 2019
Toraja, Kematian dan Peran ASN Kemenag.

Toraja, Kematian dan Peran ASN Kemenag.

Makale, (Humas Kemenag Tator) - Begitu banyak julukan yang disematkan untuk Toraja sebagai daerah yang kaya akan tradisi, budaya, adat istiadat dan keunikan serta keelokan panorama alammya.

"Toraja is a slice of heaven on earth" (Toraja adalah potongan surga yang ada di bumi), kata orang-orang mancanegara mengungkapkan kekagumannya selepas berkunjung ke Toraja.

"Jangan mati sebelum ke Toraja". Begitu penyampaian Syahrul Yasin Limpo dalam mempromosikan pariwisata Tana Toraja ketika ia masih menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan.

Dari sekian keunikan yang dimiliki Tana Toraja, kematian berserta segala bentuk ritual yang menyertainya menjadi pembeda dengan daerah lain yang ada di mukuabumi ini.

Menghadiri sebuah "upacara" kematian (rambu solo') pada masyarakat toraja, itu nilainya memberi kesan yang jauh lebih mendalam bagi keluarga yang melaksanakan upacara tersebut dibanding ketika menghadiri acara rambu tuka' atau suka cita, seperti pesta pernikahan, syukuran rumah dan acara syukuran lainnya.

Ketika ada kerabat, sanak saudara, kolega, atau teman sejawat yang dirundung duka kemudian melaksanakan ritual atau prosesi upacara kematian, lantas anda tidak hadir disana tanpa alasan yang tepat, maka anda akan dicap sebagai orang yang tidak memiliki rasa empati dan bahkan dituding sebagai orang pelit.

Sesungguhnya ritual upacara kematian di Toraja itu adalah persoalan "take and give". Mungkin ini hari orang lain dalam lingkungan sosial anda yang mengalaminya dan anda hadir memberi bantuan atau sumbangsih sesuai kemampuan dan posisi hubungan anda terhadap orang tersebut, kemudian besok lusa anda yang mengalami hal serupa, maka tanpa diminta dia akan mengulurkan bantuannya sebagai bentuk kepedulian dan balas budinya.

Dalam masyarakat Toraja, orang-orang yang menutup diri dari lingkungan sosialnya atau lingkungan kerjanya, maka dia akan mendapatkan sanksi sosial berupa pengucilan, bahkan ketika melaksanakan hajatan maka hanya keluarga terdekatnya yang hadir. Itulah kenapa muncul ucapan umbai lama'lingka kalena lako kaburu'na kematei. Tentunya uapan ini ditujukan kepada orang-orang yang tidak peduli dengan lingkungan sosialnya.

Lalu dimana peran ASN Kementerian Agama dalam ritual seperti ini ?. Bagi ASN yang beragama Kristen, keterlibatan dalam ritual upacara kematian itu hal yang sudah sangat biasa, karena budaya ini telah diwariskan secara turun temurun dari leluhur orang Toraja. Dalam pelaksaan ibadah yang menyertai ritual ini pun tidak ada kendala sama sekali oleh karena pelayanan ibadahnya "secara otomatis" menjadi tanggungjawab pendeta dan majelis gereja dimana sang empunya hajatan berdomisili, sehingga ASN Kemenag cukup hadir sebagai bentuk empati kepeduliannya.

Lain halnya bagi ASN Kemenag yang beragama islam. Muballigh dan mubaligha atau penceramah di Tana Toraja saat ini jumlahnya sangat terbatas, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, maka para ASN Kemenag Tator yang memiliki basic ilmu agama dan dapat menyampaiakan ceramah dituntut untuk berperan ganda. Disamping fokus pada tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) sebagai ASN, juga harus bisa memberi pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan. Itulah tidak mengherankan jika seorang guru, staf atau penyuluh yang memang waktunya lagi lowong dan tiba-tiba meninggalkan kantor demi memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan, sebagaimana hadits Rasululluah Muhammad SAW خير الناس أنفعهم للناس (khoirunnas anfa'uhum linnas). Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. (AB)

Dibaca : 247 kali

0 Komentar