22 Agustus 2019
PENTINGNYA KEHIDUPAN KEBER-AGAMA-AN DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

PENTINGNYA KEHIDUPAN KEBER-AGAMA-AN DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

oleh

Alamsyah Sa'ban Miru

Laman Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makna “baik” dan “damai”. Hakikatnya, hidup bersama dalam masyarakat dengan kesatuan hati dan bersepakat untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran. Bila pemaknaan tersebut dijadikan pegangan, maka  “kerukunan" adalah sesuatu yang ideal dan didambakan oleh masyarakat, dimana mereka berada dalam situasi bebas konflik tanpa pertikaian.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sepanjang sejarah kehidupan manusia, pertikaian ini sulit dihindari.  Kerukunan sulit diciptakan lantaran manusia belum menyadari bahwa musuh sesungguhnya adalah dirinya sendiri dan bukan siapa yang ada dihadapannya.

Tak terkecuali Indonesia sebagai negara yang majemuk, baik dari segi kebudayaan dan agamanya. Api perpecahan serta pertikaian begitu mudah terpantik di antara kelompok suku dan agamanya.

Dalam beberapa kejadian kemudian menjadi konflik yang sangat rumit dimana penyelesaiannya cenderung berlarut-berlarut karena adanya ego dari suatu kelompok kepentingan, yang mendapatkan keuntungan dari adanya konflik. Sementara itu, arus informasi dalam pemberitaan media, kerap kali di tuding menjadi suatu pemicu semakin meluasnya suatu konflik, terutama dari pemberitaan media yang terlalu provokatif dalam menempatkan judul beritanya seakan mengajak para pembacanya terlibat lebih jauh.

Menyikapi peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini termasuk aksi demonstrasi yang terjadi di wilayah Papua dan sekitarnya, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kab. Pinrang selaku mitra pemerintah menilai bahwa peran pemuka agama penting dan dibutuhkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang beragam. Oleh karena itu, kami menghimbau kepada seluruh pihak untuk senantiasa menjaga beberapa hal berikut ini guna menciptakan kesepahaman dan menyamakan persepsi dalam rangka memperkuat toleransi dan kerukunan umat beragama.


1 . Mengendalikan emosi.

Ketika kita mendengar orang menghina kita atau sesuatu yang berhubungan erat dengan kita, seringkali kita merasa tersinggung. Karenanya, kita harus berusaha mengendalikan emosi. Jangan pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, namun dengan kebaikan.

2. Jangan memanggil orang lain dengan julukan berdasarkan SARA.

Hal ini mungkin tidak bermasalah bagi beberapa orang karena kedekatan atau canda gurau saja. Namun, julukan dapat pula menyinggung perasaan orang lain. Sedekat apapun hubungan kita dengan seseorang, sebisa mungkin jangan menyinggung atau memberi julukan berkaitan dengan masalah SARA ini agar tidak melukai hatinya.

3. Jangan menghakimi dan berpikiran negatif terhadapa suku, agama, ras, dan golongan yang berbeda.

Saat menjumpai beberapa orang dari golongan tertentu yang memiliki sifat buruk sama, jangan pernah menghakimi atau menghina golongan tersebut.  Dengan menghakimi orang lain, berarti anda  merasa lebih baik darinya padahal semua orang sama-sama pernah berbuat dosa dan memiliki kelemahan. Jangan pula membanding-bandingkan antara suku, agama, ras, dan golongan satu dengan yang lainnya. Karena masing-masing memiliki keunikan, kelebihan, dan kekurangan.

Sebagai manusia modern hendaknya kita bisa menempatkan diri di lingkungan masyarakat. Kita tidak bisa hidup secara individual. Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti berinteraksi satu sama lain dan saling membutuhkan. Inilah pentingnya berkomunitas dalam masyarakat.  Dengan bersosialisasi dan membaur dalam lingkungan masyarakat diharapkan tercipta sebuah kondisi yang rukun dan damai. (alsyah)

SALAM KERUKUNAN.

Dibaca : 339 kali

0 Komentar