20 Februari 2019
Hijrah, ‘Faith or Fun’ ?

Hijrah, ‘Faith or Fun’ ?

Oleh : Atifatul Mukarrama

(Guru MTs. DDI Tarumpakkae)

Hijrah sekarang menjadi the new way of life, pilihan baru bagi hidup muslim zaman now, terutama kebanyakan kaum millennial Indonesia. Melirik fenomena kekinian para generasi muda Indonesia dimana ada tren baru yang kita saksikan sedang ramai, yaitu hijrah. Hijrah kini menjadi sesuatu yang happening, heboh, dan nampak keren. Terbukti di akhir tahun 2018 kemariin, ramai digelar festival hijrah atau populer dengan istilah hijrah fest. Salah satunya di JCC Jakarta yang luar biasa diminati dan viral di media sosial. Tak hanya itu, banyak diantara selebriti muda Indonesia yang berbondong-bondong menyatakan diri berhijrah meninggalkan dunia keartisan berubah  dengan tampilan yang islami, aktif dalam kajian islam, dan aktifitas positif yang lain.

Pertanyaannya, hijrah dikalangan anak muda ini karena dasar apa, faith (keimanan) or fun (kesenangan)?

Hijrah secara harfiah berarti meninggalkan, dimaknai juga sebagai perpindahan atau peralihan dari satu ke kondisi yang lain. Secara historis, hijrah pertama kali dilaksanakan oleh Rasulullah Muhammad SWT sebagai bagian dari strategi dakwah dalam mengemban misi kenabiannya. Beliau berhijrah dari Mekkah ke Madinah untuk menyukseskan misi dakwahnya. Namun, Hijrah dalam konteks perkembangannya dimaknai sebagai upaya meninggalkan suatu kondisi yang buruk menuju ke kondisi yang lebih baik. Hijrah tak hanya soal fisik, tapi juga transformasi akal pikiran dan spiritual sebagai ruh kekuatan ummat islam.

Apakah mereka yang mengklaim diri dan aktif mengkampanyekan hijrah paham akan esensi hijrah yang sesungguhnya?

Zaman ini paradoks, yang ditampilkan diluar terkadang berbanding terbalik dengan kenyataan internal. Penulis mengamati beberapa kaum  millennial dan komunitas-komunitas anak muda hijrah akhir- akhir ini. Ada yang unik dan perlu menjadi bahan renungan kita semua.

Tatkala para perempuan muda islam berkompetisi mengenakan style syar’I, mulai dari gamis, kaos kaki, hijab panjang, dan cadar. Masya Allah, ini fenomena positif yang patut disyukuri. Namun masalahnya, jika hijrah penampilan mereka tidak didasari dengan faith atau keimanan. Tapi hanya karena ikut tren fashion tanpa ada dasar keilmuan yang cukup. Banyak yang kita temukan anak muda dengan style syar’I aktif menggelorakan hijab di media sosial, Indonesia tanpa pacaran, dan berbagai macam istilah islami yang berjejeran di dunia maya. Ironisnya, postingan dan penampilan mereka tidak diimbangi dengan upaya memperbaiki diri dengan ilmu. Tak mampu berdialektika ketika ditanya persoalan ayat dan hadis. Bahkan bacaan Al Qur’annya masih kurang tartil, ibadahnya berantakan, dan sensivitas sosialnya tumpul.

Aktivis hijrah katanya, tapi mereka kebanyakan nongkrong di mall, café, dan warkop. Asyik shopping, bergunjing, dan berselfie lalu diupload di akun sosial media masing- masing. Anehnya, mereka terkadang lupa waktu dan shalat menjadi korban.

Mereka ikut larut dalam budaya konsumtif dan terkalahkan oleh rekayasa pasar. Setelah mengklaim diri berhijrah, yang dilakukan bukannya memperdalam ilmu agama, tapi justru sibuk mengoleksi brand pakaian muslimah. Karena mereka tak punya pemahaman bagaimana islam memandang budaya konsumtif dan hedonis sebagai perilaku mubadzir.

Melalui tulisan ini, penulis mengajak para millennial islam untuk kembali berkontemplasi dan mengintenskan diri belajar ilmu agama, menghijrahkan diri dari kebodohan menuju kecerdasan. Memahami agama sebagai the way of life, bukan sekadar menjadi lifestyle. Sehingga hijrah kita kembali pada nilai substansial, bukan karena cultural dan ikut-ikutan.

Masih ada waktu untuk generasi muda memperbaiki niat dan menjadikan Allah swt sebagai alasan atas seluruh kegiatan di permukaan bumi ini.

Untuk meguatkan semangat hijrahmu, berikut kutipan ayat dan hadis yang bisa menjadi moodbooster ;

“Semua perbuatan bergantung niatnya, dan(balasan) bagi tiap-tiap orang(bergantung) apa yang diniatkan, barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasulnya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada yang diniatkan(H.R. Bukhari:52)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang- orang yang bertaqwa”(Q.S Ali Imran:133)

Setelah memantapkan diri berhijrah, maka perbanyaklah belajar, bukan memperbanyak belanja (mengoleksi fashion islami dengan brand- brand tertentu) dan mohonlah ampunan kepada Allah swt setiap saat.

Luruskan niat dan istiqamahlah !                                                                                                          

 Editor : Hamzah Alias

Dibaca : 392 kali

0 Komentar