22 Februari 2019
Jangan Terlalu Kaku Dalam Beragama

Jangan Terlalu Kaku Dalam Beragama

Oleh : Subairi

(Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukhlisin DDI Paria)

Seluruh perilaku Rasulullah SAW itu positif untuk kita tiru dan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak boleh kaku karena tidak semua apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW itu wajib kita ikuti sebagai ummatnya, tidak semua yang menjadi kepribadian Nabi, otomatis wajib kita lakukan. Sebagai salah satu contoh Nabi kalau makan pakai tiga jari ini bersumber dari hadis yang shahih, pertanyaannya apakah perlu kita tiru? jawabannya enggaklah, karena Nabi Muhammad itu makannya roti, sedangkan kita makannya nasik, coba kita bayangkan kalau kita makan nasik mengunakan tiga jari kapan kenyangnya.

Nabi Muhammad SAW melarang kencing berdiri, sedangkan kita sekarang banyak orang yang buat toilet dengan model diperuntukkan khusus berdiri, seperti di bandara, rumah-rumah makan dan ada di sebagian masjid-masjid. Pertanyaannya, apakah ini melanggar ajaran Rasulullah SAW?  Menurut hemat saya tidak, karena pakaian yang dipakai bangsa Arab adalah pakaian gamis (terusan dari ujung keujung). Kira-kira bagaimana reaksi kita seandainya ada orang yang memakai gamis lalu kencing berdiri dan tidak jongkok. Sementara kita khususnya di Indonesia tradisinya mengunakan celana maka secara otomatis model kita saat buang air kecil atau kencing dalam kondisi berdiri. Jadi kita harus mampu memilah dan memilih serta menempatkan peryataan Rasulullah SAW pada tempatnya.

Pernyataan Nabi itu sesuai dengan konteknya pada waktu itu, dan kita sekarang ini kecuali kalau yang sifatnya atau khitabnya itu amar dan nahi yang konotasi syariah. Intinya jangan kita beragama terlalu kaku. Nabi itu adalah seorang diplomat. Menjelang shalat magrib, Rasulullah sudah mau takbir tapi tidak jadi, karena beliau mencium bau kentut atau aroma yang tidak sedap hampir mirip dengan baunya daging unta. Nabi tidak jadi sholat lalu Nabi mengatakan siapa yang kentut silahkan keluar dan mengambil air wudhu. Ternyata sahabat tidak ada yang mau keluar, mungkin mereka merasa malu atau apa. Tiba-tiba Nabi meralat pernyataannya dengan ungkapan siapa yang sudah makan daging unta silahkan keluar dan mengambil air wudhu. Ini kalau dipahami secara tekstual akan berbahaya karena akan beranggapan bahwa daging unta itu najis, padahal sebenarnya Nabi itu tidak mau menyinggung dan menyakiti hati para sahabatnya yang kentut.

Suatu saat ketika perebutan kota Makkah, Abu Sofyan sebagai panglimanya sudah angkat tangan dan menyerah menunggu dirinya diekskusi, tetapi Nabi mengatakan antum tulaka (kalian semua bebas) haza yaumun marhamah (ini adalah hari kasih sayang). Ternyata ada sahabat yang terlambat datang dari kota Madinah menuju kota Makkah, setibanya di kota Makkah, sahabat yang terlambat ini mengatakan dengan keras haza yaumun malhamah (ini adalah hari balas dendam), tiba-tiba Abu sufyan datang menghadap Nabi dengan mengatakan Wahai Rasulullah, yang benar ini yang mana apakah hari kasih sayang atau hari balas dendam dan saling membunuh. Apa jawaban Nabi saat itu, Nabi mengatakan ini adalah hari kasih sayang. Berkaitan dengan ucapan sahabat tadi yang mengatakan haza yaumun malhamah (ini adalah hari balas dendam), itu hanya salah ucap atau karena dia adalah orang yang cadal sehinga tidak bisa mengucapkan haza yaumun marhamah. Sebenarnya apa yang diucapkan sahabat itu benar, tetapi Nabi tidak mau menakut-nakuti orang lain sekalipun itu adalah musuhnya. Berkat kesantunan Nabi itulah banyak orang kafir yang simpati kepada Rasulullah dan memeluk Agama Islam termasuk Abu Sofyan sendiri.

Jangan pernah kita membayangkan bahwa Rasulullah adalah sosok atau figur yang suka bersandar dan santai di masjid, tasbih dan urusan Agama semata. Tidak, Nabi Muhammad adalah seorang pedagang, seniman dan atlet. Di zaman Rasulullah, masjid itu dijadikan sebagai balai pertemuan, masjid juga dijadikan sebagai tempat pertunjukan seni, itu ada dalam hadis shahih Bukhari Muslim, Nabi mengundang secara periodik seniman untuk menghiburnya. Makanya di dalam bukunya Imam Al-Ghazali (kitab Ihya Ulumuddin), ada suatu bab besar yang membahas tentang seni, seni bagi ummat Islam itu penting, saya tidak tau kenapa kok ummat Islam banyak yang anti seni bahkan membid’ahkannya.

Nabi Muhammad itu atlet, pernah ada seorang pemain gulat namanya Rukanah, orangnya besar, tinggi dan tidak ada orang yang pernah mengalahkannya. Lalu ada seorang yang mengajak Rukanah untuk berkompetisi bersama dengan seorang pemuda yang bernama Muhammad. Tenyata Rukanah kali ini harus melawan Rasulullah dalam bergulat. Ketika kompetisi itu digelar, Rukanah tidak berdaya dan menyerah secara total kepada Rasulullah SAW, itu pertanda bahwa Rasulullah adalah seseorang yang sehat, kuat, dan tangguh. Dalam sejarah Rasulullah tidak pernah sakit kecuali pada saat menjelang wafatnya.

Wallahu A’lam bish Shawab

Editor : Hamzah Alias

Dibaca : 804 kali

0 Komentar