Bontomacinna,  (MTsN. 1 Bulukumba) - Yayasan Indonesia Mengabdi Bekerjasama UNICEF mengadakan Webinar Program ROOTS (Pencegahan Anti Bullying)d engan Tema "Menjadi Generasi  Berperilaku Positif  Untuk Menghilangkan Perilaku Bullying di Sekolah", Sabtu (17/10/2020).

Kepala madrasah MTsN 1 Bulukumba Muhammad Asdar  memfasilitasi seluruh  peserta webinar diadakan di madrasah. Kami adakan di dua titik karena pengaruh jaringan tidak mendukung jika masing-masing siswa membuka zoom, olehnya itu hanya diminta untuk 2 titik saja dengan mengandalkan layar LCD di dua ruangan, ungkap Muhammad Asdar.

Asdar juga berharap kepada seluruh pasilitator yang telah mengikuti program pelatihan Roots dan seluruh wali kelas untuk tetap siaga mendampingi peserta didik selama mengikuti webinar dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dengan cuci tangan, mengukur suhu tubuh dan menggunakan masker serta jaga jarak. 

Unicef ​​bersama Yayasan Indonesia Mengabdi (YIM) menyelenggarakan webinar Roots ini dalam rangka pencegahan kekerasan dan Bullying di Sekolah yang berlangsung secara virtual hari ini 17/10/20.

Sebanyak 100 siswa MTsN 1 Bulukumba menjadi Peserta webinar di 2 ruang yaitu di lab.komputer dan ruang kelas MTsN 1 Bulukumba.

UNICEF meluncurkan program ROOTS sebagai program yang dapat menanggulangi masalah Bullying dilingkungan sekolah. Program ROOTS adalah sebuah program kegiatan ekstrakurikuler siswa dimana siswa akan dilibatkan secara aktif sebagai agen perubahan.

Peserta webinar dari MTsN 1 Bulukumba sangat antusias mengikuti webinar ini, setelah pembukaan webinar  dapat mengetahui apa itu Program Roots  dan mengurangi perilaku Bullying di sekolah melalui program Roots.

Para fasilitator juga akan melakukan pendampingan terhadap peserta didik nantinya yang akan menjadi agen perubahan di madrasah, ungkap Mutahara salah seorang fasilitator MTsN 1 Bulukumba yang juga sebagai wakamad akademik MTsN 1 Bulukumba.

Dalam webinar ada 2 siswa yang mengajukan pertanyaan yaitu Fikri Akhyar Mukti yang menanyakan tentang apa tugas-tugas jika terpilih sebagai agen perubahan dan Afifah Nurani Putri menanyakan tentang apa saja kriteria untuk menjadi agen perubahan, keduanya dijawab oleh ibu Faridah Ariyani dari YIM yang kesimpulannya 

pencegahan kekerasan dikalangan teman sebaya, dengan upaya membangun iklim yang aman disekolah dengan mengaktifkan siswa sebagai Agen berpengaruh atau Agen Perubahan.

 Hasilnya terdapat perubahan karakter siswa dalam kehidupan sehari –hari baik dilingkungan sekolah,sesama teman dan terhadap guru dan lingkungan keluarganya. (Erna) 

Penulis Syaiful
Editor Andi Baly.