Gowa, HUMAS SULSEL - Bertempat di MTsN Gowa, Pembelajaran Digital Terintegrasi Siap Saji secara resmi dilaunching oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof Dr. H. Nizar Ali, M.Ag. Jumat 2 Oktober 2020.

Launching ini ditandai dengan penekanan tombol digital oleh Prof. Nisar, didampingi Kakanwil Kemenag Sulsel KH.Khaeroni, Kabag Tata Usaha H. Fathurrahman, Kabid Pendidikan Madrasah H.Masykur, Kabid PHU H.Kaswad Sartono, Kakan Kemenag Kab.Gowa, Hj. Adliah serta Kasubbag Tata Usaha, H. Faried Wajedi.



Kepala MTsN Gowa, Zulfikahnur, S.Pd.I, M.Pd.I dalam laporannya menyampaikan bahwa tujuan program Pembelajaran Digital Terintegrasi Siap Saji ini adalah untuk meningkatkan kualitas mengajar guru, serta memberi kesempatan kepada guru untuk lebih profesional dalam mengolah bahan ajar yang siap saji dengan menggunakan aplikasi auotplay.

Selanjutnya Kakanwil Kemenag Sulsel KH.Khaeroni mengungkapkan masih banyaknya madrasah yang kondisinya sangat terbatas. "Seperti madrasah ini sangat mewah, mepet sawah", ucapnya berseloroh.

KH.Khaeroni juga menyampaikan keinginannya menggandeng bank yang telah bermitra dengan Kemenag Sulsel selama ini untuk dapat membangun gedung atau ruang kelas di madrasah-madrasah terpencil.

Sementara itu, Plt. Sekjen Kemenag RI, Prof. Nizar Ali mengatakan bahwa saat ini kita memiliki tantangan era industri 4.0, yaitu era dimana kita dituntut untuk menguasai IT dan harus mampu berkreasi ditengah pendemi covid 19.


Olehnya itu, Prof Nizar mengimbau untuk mensupport program ini, karena menurutnya, salah satu indikator kemajuan madrasah adalah adanya antisipasi dibidang IT.

Plt. Sekjen yang juga menjabat sebagai Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah ini kemudian menyampaikan berita gembira, bahwa dalam waktu dekat ini Kementerian Agama akan melaksanakan layanan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), dimana pemerintah pusat akan membagikan pulsa data untuk tingkat RA, 23 GB, tingkat MTs/MA sebanyak 35 GB sedangkan Perguruan Tinggi mendapat 40 GB. "Pulsa data ini tentunya diperuntukkan bagi guru dan seiswa, begitupun mahasiswa dan dosennya", urai Prof. Nisar.

“Sedangkan bantuan subsidi untuk guru honorer sebanyak 600rb/bulan, dengan kriteria belum menerima BSU, belum menerima kartu pra kerja dan tidak berpenghasilan kurang lebih dari 5 juta,” ujarnya menambahkan.

Lanjutnya, bahwa pembelajaran itu tidak perlu dikelas tapi bisa diluar atau via virtual seperti zoom meeting. Yang penting, menurutnya, bagaimana siswa merasa enak dan menyenangkan.

"Pembelajaran biar sedikit tapi berkualitas jadi sama dengan pasukan elit ala militer. Pasukan elit itu tidak banyak jumlahnya tapi berkualitas", pungkasnya. (RZK/AB)

Penulis Andi Baly
Editor Andi Baly.