Bone, (Inmas_Sulsel) -- Lembaga Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Al-Junaidiyah Biru patut bersyukur atas keberhasilan enam alumni angkatan pertamanya yang berhasil lulus tes ke perguruan tinggi islam terbaik dunia, Universitas Al-Azhar. Meski terbilang baru lembaga tersebut telah mendobrak prestasi santri Pondok Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru, Kab. Bone. Keenam alumninya itu adalah salah satu bukti. Mereka dinyatakan lolos setelah mengikuti tes berbasis komputer (27/04/2021) dan wawancara via daring (04-05/05/2021), yang diselenggarakan oleh Kemenag RI.

Bersama sekitar enam ratus santri lainnya dari pondok pesantren yang tersebar di tanah air mereka menyisihkan ribuan pendaftar yang berminat melanjutkan kuliah strata satu (S1) di Al-Azhar Kairo tahun ini. Enam santri tersebut adalah A. Khairul Azwan, Fajrul Ulum, Rijalul Khair, Abdullah, Musfirah Wardani, dan Amaliah Putri Usman.

Kelulusan mereka tentu saja menjadi kebanggaan tersendiri karena punya kesempatan melanjutkan jenjang pendidikan di universitas tertua di dunia. “Saya sangat bersyukur karena sejak awal bermimpi bisa kuliah di Al-Azhar. Ada banyak yang berminat, ribuan santri, akan tetapi Allah memberi saya rezeki akan belajar di sana bersama kawan-kawan santri yang lulus.” Kata Azwan, alumni penghafal qur’an 30 juz itu sewaktu dihubungi via aplikasi Whatsapp.

Meski menurutnya tes kali ini cukup sulit karena keterbatasan alokasi waktu dan soal-soal teks bacaan yang menyita banyak konsentrasi. “Saya pribadi sempat kesulitan saat tes apalagi waktu kita terbatas bahkan boleh dianggap kurang. Padahal banyak soal-soal bacaan yang butuh banyak waktu.” Imbuhnya.

Kesempatan yang sama, Amaliah Putri Usman ikut berkomentar terkait tes kemarin. “Salah satu kendala dari tes berbasis komputer atau CBT , kita diburu waktu dan soal yang terlewatkan tidak bisa diteliti ulang.” Namun, pada berbeda dengan tes wawancara yang terlaksana sebulan setelahnya tergolong mudah, menurut pengakuan santriwati yang pernah menjuarai lomba baca kitab kuning se-Sulawesi Selatan ini. “Tes wawancara tidak sulit. Beberapa pertanyaan wawasan kebangsaan dan keislaman seperti jihad yang disalahpahami dan toleransi terhadap non-muslim ini cukup mudah.” Kenangnya. Hal itu juga diamini oleh santri yang lain, “wawancara kemarin memang mudah karena penguji berbahasa Indonesia! Adapun tes hafalan dan baca kitab bisa dilalui dengan baik karena terbiasa selama pembelajaran tiga tahun di kelas.” Ujar Fajrul Ulum.

Sebagai alumni angkatan pertama PDF Ulya Al-Junaidiyah Biru sejak berdirinya 2018 silam, mereka pun tidak lupa berterima kasih kepada pihak pondok dan para pengajar yang terus mendukung studi santri-santrinya. Bagaimanapun keberhasilan mereka melanjutkan studi di luar negeri tentu tidak terlepas dari peran ustaz dan ustazah yang selama ini membimbing mereka tanpa kenal lelah. “Kami sangat berterima kasih kepada semua guru-guru kami. Utamanya kepada Ustaz Andi Ridwan yang selalu menemani kami, semoga Allah membalas jasa-jasanya.” Tutup Amaliah.

Sekarang keenam santri tersebut sedang mempersiapkan berkas-berkas penerimaan mahasiswa sebelum pemberangkatan ke Kairo. Dan mereka berharap ke depannya PDF lebih baik dan sukses dalam membina santri-santri di Pondok Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru, Pesantren tertua di Kabupaten Bone ini.

(dilaporkan oleh Andi Fajar Awaluddin-Ketua Alumni PP Al-Junaidiyah) 

Penulis Muh. Fadli
Editor Muh. Fadli.