Cegah Dini Kebutaan Pada Anak, Dinkes Maros Sosialisasi Ke Kepala Sekolah Dan Madrasah

Illustrasi Foto (Kemenag RI Provinsi Sulawesi Selatan)

Maros (Inmas Maros) Tingginya tingkat prevalensi kebutaan pada anak di Indonesia perlu mendapat perhatian khusus. Indonesia menempati peringkat 3 dunia dan peringkat pertama di asia tenggara. Catatan WHO pada tahun 2012 menyebutkan 3,5 juta warga dunia terpapar kebutaan, satu angka yang sangat tinggi dan butuh perhatian dan penanganan serius. Sulawesi Selatan menduduki peringkat ke 3 provinsi di Indonesia di bawah Maluku. Jika pada tahun 2012 saja data angka kebutaan sudah sebesar itu, maka apalagi pada saat sekarang ini dimana kemajuan sains dan teknologi tidak bisa lagi dihindari termasuk penggunaan gawai atau gadget pada anak. Dampak negatif dari penggunaan gadget inilah yang bisa menyerang dan mengancam penghlihatan anak melalui paparan radiasi. Untuk itu, Kabupaten Maros terus memacu diri ditengah terbatasnya anggaran, ditengah pembangunan infrastruktur untuk berkreasi melahirkan usaha pencegahan dini kebutaan terhadap anak berbasis Puskesmas dan UKS.

Hal ini diungkapkan oleh Wakil Bupati Maros H.A. Harmil Mattotorang saat memberikan sambutan pada pembukaan acara sosialisasi pencegahan kebutaan dini pada anak (Kamis, 08/08/19) di Hotel Grand Town Maros. Sosialisasi ini dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Maros bekerja sama dengan Hellen Keller Internasional, satu NGO yang konsen di bidang kesehatan anak khususnya kebutaan dan tuli. Kegiatan ini dihadir sekitar 40 peserta dari kepala sekolah dan madrasah se-Kabupaten Maros. Plh. Kakan Memenag Maros juga turut hadir sebagai undangan bersama dengan kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maros. Kadis Kesehatan Dr. Maryam Taba selaku narasumber membawakan materi Pengantar Kebutaan Pada Anak, dan narasumber perwakilan dari Hellen Keller Internasional Mawar Lestari.

Plh. Kakan Kemenag Maros H. Ramli, S.Ag, MM saat sesi diskusi sharing kepada narasumber dan peserta sebuah perspekstif agama yakni hikmah shalat untuk kesehatan. Menurut H. Ramli, menjelaskan salah satu hikmah dari perintah pada saat shalat untuk tidak menutup mata baik pada saat berdiri, ruku dan sujud adalah agar kornea mata mengalami terapi dengan melatih elastisitas fokus pandangan. Dari berdiri kemudian ruku dan sujud itu titik pandangannya berbeda-beda jaraknya sehingga melatih kornea lebih elastis. Karena itu, H. Ramli mengingatkan agar kepala sekolah merutinkan siswa shalat lima kali sehari karena secara otomatis ada terapi terhadap mata anak disamping mendidik anak agar taat pada perintah agama. Followup dari kegiatan ini nantinya akan dilanjutkan dengan sosialisasi kepada sekolah-sekolah di Maros oleh Hellen Keller Internasional. Menurut perwakilan Hellen Keller Mawar Lestari, guru adalah pihak yang pertama kali dapat mengidentifikasi gejala kebutaan pada anak di banding orang tuanya. Keterlibatan guru dalam proses pencegahan dini kebutaan pada anak ini adalah merupakan satu stretegi untuk mengurangi prevalensi kebutaan pada anak. (mdf/wrd)

 


Daerah LAINNYA