Kontributor Humas Kemenag Sinjai Berziarah Ke Makam Dato Tiro

Illustrasi Foto (Kemenag RI Provinsi Sulawesi Selatan)

Sinjai Selatan ( Humas Sinjai ) Salah satu objek wisata religi andalan pemerintah dan masyarakat kabupaten Bulukumba adalah Makam Dato Tiro di kampung Hila-hila Kelurahan Eka Tiro, Kecamatan Bontotiro. Makam yang sudah berusia ratusan tahun itu di kunjungi oleh Kontributor humas kabupaten Sinjai dalam rangka study tour bersama para pendidik dan peserta didik MTs Darul Falah Bikeru. Kamis ( 24/03/2022)

Menurut penjelasan pengawai KUA Bonto Tiro, Basuki Rahmat yang mendampingi rombongan study tour menjelaskan bahwa ” Waliyullah Dato Tiro adalah pembawa agama Islam ke Bulukumba, sehingga makamnya memiliki nilai sejarah. Dato Tiro konon memiliki kesaktian, antara lain dari tarikan tongkat sehingga tak jauh dari makamnya terbentuk sebuah sumur panjang yang sudah berusia ratusan tahun, tetapi hingga kini airnya masih bening dan jernih. Sebagian masyarakat setempat percaya bahwa air yang bening dan jernih tersebut diduga kuat keluar dari celah-celah dinding batu, bukan dari pasir putih yang ada di dasar sumur. Tidak sedikit pula yang yakin bahwa dengan mandi di sumur panjang tersebut maka selain dapat menikmati sejuk dan segar air sumur, juga bisa membawa keberuntungan.” Jelasnya

Menurut M.Ilyas, kontributor humas kemenag Sinjai mengatakan bahwa ” Alhamdulillah hari ini dapat berziarah dan menggali sejarah waliyullah Dato Tiro di Bulukumba, selama ini hanya mendengar dan melihat namanya, tapi sekarang sudah bisa berkunjung langsung dan melakukan wawancara demi menggali ilmu dan meneladani kehidupan dan ajaran beliau.” Ungkapnya
Berdasarkan penjelasan Basuki Rahmat Makam Dato Tiro sudah menjadi objek wisata sejarah, budaya, dan religius. Maka tak perlu heran pula bahwa meskipun Dato Tiro adalah seorang ulama dan pembawa agama Islam di Bulukumba, tetapi wisatawan yang berkunjung juga berasal dari luar daerah Bulukumba.
Dari berbagai literatur diketahui bahwa Dato Tiro sebenarnya hanyalah sebuah gelar yang diberikan oleh masyarakat setempat atas penghargaan dan rasa hormat. Nama aslinya adalah Abdul Djawad. Abdul Djawad atau Al Maulana Khatib Bungsu datang ke Sulawesi Selatan bersama dua orang sahabatnya dari Sumatera, yaitu: Khatib Makmur yang lebih dikenal dengan nama Dato ri Bandang, dan Khatib Sulaiman yang lebih dikenal dengan Dato Patimang. Mereka bertiga adalah murid atau santri dari Pesantren Sunan Giri. Sunan Giri adalah nama salah seorang walisongo (wali sembilan yang merupakan penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-17) dan pendiri kerajaan Guru Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan tahun 1442. Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden ‘Ainul Yaqin, dan Joko Samudra. Ia dimakamkan di Desa Giri, Kebomas, Gresik. Pada tahun 1600-an Masehi, Abdul Djawad menyiarkan agama Islam di Tiro (Bulukumba) dan sekitarnya. Adapun raja yang pertama di Islamkan dalam kerajaan Tiro adalah Launru Daeng Biasa yang bergelar Karaeng Ambibia. Launru Daeng Biasa adalah cucu keempat dari Karaeng Samparaja Daeng Malaja yang bergelar Karaeng Sapo Batu yang merupakan raja pertama di Tiro. Kedatangan Abdul Jawad yang bergelar Al Maulana Khatib Bungsu ke Tiro (Bontotiro) dapat diterima oleh masyarakat setempat, karena dirinya memiliki kesaktian dan sentuhan ajaran Islam yang dibawanya menanamkan kesadaran religius keyakinan untuk hidup zuhud, suci lahir batin, selamat dunia akhirat, dalam kerangka tauhid atau lebih dikenal dengan ahli tasawuf.

Berbeda dengan sahabatnya (khatib Makmur atau Dato ri Bandang, dan Khatib Sulaiman atau Dato Patimang), khatib Abdul Djawad menekankan pelajaran tasawwuf sesuai dengan keinginan masyarakat yang lebih menyukai hal-hal yang bersifat kabatinan. Khatib Abdul Jawad inilah yang menjadi mubalig sampai akhir hayatnya di Tiro Kabupaten Bulukumba, sehingga masyarakat setempat memberinya gelar Dato Tiro. Kata dato digunakan oleh masyarakat setempat karena dialek mereka sulit mengucapkan kata datuk, tetapi dato sama artinya dengan datuk. Kata dato kemudian berubah arti menjadi kakek atau nenek atau orang tua yang dihormati. Waliyullah Dato Tiro sekarang diabadikan namanya dalam masjid kebanggaan masyarakat Bulukumba yaitu masjid Islamic Center Dato Tiro yang berada di jalan poros Bukumba Bantaeng.
Setelah berziarah ke makam Dato Tiro rombongan study tour selanjutnya menuju ke objel wisata pantai Bara untuk menikmati keindahan alam Bumi Panrita Lopi. (Ilyas/Arf)


Daerah LAINNYA