Opini

Pocong Radikal (Catatan Ringan tentang Radikalisme)

H. Aliem Bahri

Oleh : H. Aliem Bahri
Penulis adalah Penghulu Muda pada KUA Somba Opu, Gowa.


Suasana di kampung Yadendee tidak seperti biasanya. Ada suasana tegang menyebar di seantero kampung.

Sejak masuknya paham radikal yang dibawa oleh para pocong muda setelah menimba ilmu di luar negeri membuat suasana kampung menjadi tidak kondusif.

Rivalitas mulai nampak antara yang pro maupun yang kontra. Meski hanya segelintir kecil pocong yang terpengaruh oleh paham tersebut, tetapi giat anggotanya cukup aktif dan berkarakter militan.

Mereka mulai menyebarkan paham ekstrim yang bernuansa kekerasan.

Di awal gerakan, tokoh- tokoh mereka menyebarkan paham atau ajaran secara  eksklusif, terbatas dan sembunyi-sembunyi kepada para pengikutnya di kalangan masyarakat pocong.

Lalu saat merasa mendapat banyak pengikut, maka mulailah mereka menyebarkan narasi yang mereka klaim sebagai kebenaran mutlak.

Pada saat yang sama mereka pun mulai mempersoalkan nilai-nilai dan tradisi lokal yang selama ini dianut oleh mayoritas pocong.

Bahkan mereka ingin mengganti ideologi dan konstitusi yang  menjadi acuan dan  pegangan bagi pemerintahan kampung Yadendee. Hal inilah yang mulai meresahkan warga.

Pukul 22.00.
Malam makin kelam.
Suasana kuburan tua tempat kampung Yadendee berada mulai berdenyut.
Aktifitas warga mulai nampak.
Beberapa pocong sudah berkemas untuk pergi menakut-nakuti manusia.

Pocong lainnya sedang mempersiapkan tools atau alat bantu untuk menggoda manusia yang lewat di jalan gelap sendirian.

Pocong yang masih pada fase training juga telah bersiap, menunggu instruksi dari pocong senior untuk menentukan rute perjalanan ke lokasi yang akan dilalui para pejalan kaki yang pulang malam baik sendiri maupun berdua, maksimal bertiga.

Ada regulasi yang melarang keras para pocong mengganggu para pejalan kaki yang berjumlah empat orang atau lebih.
Kuatir para pejalan kaki itu yang berjumlah banyak itu tidak takut lagi pada pocong.

Tentulah hal itu sangat memalukan bila sampai pocong tidak lagi membuat takut manusia. Sungguh aib besar.

Berbeda dengan pocong lainnya.
Gelocong, Ammarcong dan Fadilcong memilih berdiskusi di rumah Gelocong yang letaknya strategis karena berada di ketinggian.

"Kita tidak boleh membiarkan mereka ini bertindak seenaknya," ungkap Gelocong membuka percakapan sambil mempersilahkan kedua sahabatnya menyantap kue buroncong, penganan tradisional yang terbuat dari tepung terigu, kelapa parut dan sedikit gula.

"Saya selalu mengamati aktifitas mereka dari rumah ini," ungkap Gelocong.

Ya, tentulah Gelocong relatif mudah mengamati kegiatan warga kampung karena bertempat tinggal di Coconus Nucifera alias pohon kelapa yang tinggi maksimalnya bisa mencapai 30 meter dengan produksi 80-120 buah kelapa perpohon setiap tahun.

Pohon kelapa tempat tinggal Gelocong adalah pohon yang begitu mudah ditemui di berbagai negara tropis basah di dunia.
Tetapi 94,64% produksinya datang dari kawasan Asia Pasifik seperti lndonesia, Filipina dan lndia.

Saat haus maka Gelocong cukup meminum air kelapa yang berkhasiat dapat menetralisir keracunan.
Mengatasi Osteoporosis, Memperlancar pencernaan, memenuhi kebutuhan vitamin B serta memperbaiki sirkulasi darah.
Apalagi air kelapa juga adalah alternatif minuman sehat sekaligus sebagai Isotonic water.

Ini pulalah jawaban mengapa Gelocong memiliki berat badan ideal karena dia rutin minum air kelapa yang bermanfaat bisa  menjaga pola makan dengan meningkatkan metabolisme, membatasi rasa lapar, mengubah lemak jadi massa otot serta membantu fungsi Tiroid dalam menurunkan berat badan.

Gelocong ini adalah pocong paling vokal menentang masuknya aliran yang bertentangan dengan apa yang berlaku di kampung Yadendee yang dicintainya.

"Kita harus ambil tindakan tegas agar mereka tidak berkembang," sambung Gelocong agak geram.

"Ya, setubuh, ehhh..setuju," timpal Fadicong sambil menggerakkan badannya yang terikat.

Fadicong adalah pocong yunior yang berdomisili di pohon mangga yang disebut juga Mangifera lndica. Nama mangga berasal dari bahasa Tamil yakni mangkay.
Pohon mangga sendiri, berasal dari daerah sekitar perbatasan lndia dengan Burma lalu menyebar ke asia tenggara 1500 tahun yang silam.

"Masalahnya mereka mulai menyasar anak-anak  muda," ujar Ammarcong, bernada keluh.

Ammarcong ini mengontrak bangunan tua tak berpenghuni di luar kampung.
Wajar Ammarcong mengeluh karena beberapa sahabatnya yang berusia muda telah terpapar paham radikalisme.

Ketiganya saling berpandangan lalu terdiam.
Sepi.
Hening.
Suasana kuburan tua tempat kampung Yadendee  berada nampak semakin menyeramkan.

Sesekali suara burung hantu menambah suasana menakutkan. Pun suara serak burung gagak juga berkontribusi aktif menambah rasa mencekam.
Suara-suara hewan malam bergantian menyanyikan nada-nada aneh yang membuat bulu kuduk  merinding.

"Lalu apa yang harus kita lakukan, bro?," kali ini Ammarcong memecah keheningan.

"Kita harus temui ketua kampung untuk membahas hal ini," usul Gelocong.

"Kita temui pak Akbarcong, sebagai ketua APKY (Assosiasi Pocong Kampung Yadendee). Saya pikir tentulah beliau memiliki kiat dan strategi menghadapi persoalan ini," sambung Gelocong.
Matanya menatap ke dua sahabat dekatnya seakan meminta persetujuan.

"Saya Setubuh, ehh..setuju!" Jawab Fadicong penuh semangat membara.
Kali ini kakinya yang terikat digoyangkannya pertanda sangat sepakat.

Ketiganya segera melayang menuju rumah Akbarcong yang berada di atas pohon beringin besar berusia ratusan tahun.

Ficus Benjamina adalah nama keren dari pohon beringin. Akar tunggang yang dimilikinya menyebar ke dalam tanah secara kuat hingga mampu menopang bobot keseluruhan pohon.

Perakarannya mirip jaring yang berfungsi sebagai  Safety Nutrition Network atau jaring pengaman nutrisi kebutuhan hidup pohon beringin.

Umumnya pohon beringin banyak tumbuh di kawasan hutan tropis pada ketinggian 600 mdpl (meter di atas permukaan laut).

"Saya sudah tahu apa maksud dan tujuan kalian datang ke sini," sambut Pak Akbarcong sembari mempersilahkan ketiga tamunya duduk.
Kemudian melanjutkan sambutannya.

"Hampir setiap saat saya menerima laporan warga yang merasa resah dengan masuknya kelompok yang mengusung paham radikal ke kampung kita ini," imbuhnya.

"Jadi bukan kami saja yang datang membawa keresahan tentang aktifitas mereka?," tanya Gelocong.

"Ya, bukan kalian saja. Berbagai pihak sudah datang menemui saya," ujar Akbarcong.

"Lalu apa arahan bapak kepada mereka yang menentang adanya kelompok ini?," kali ini Ammarcong melemparkan pertanyaan.

"Nah, menjawab pertanyaan kamu ini yang tidak mudah. Dibutuhkan sikap tenang dan komprehensif menangani kasus seperti ini," tukas Pak Akbarcong.

"Tenang dan komprehensif bagaimana?" tanya Gelocong bernada protes.

"Penanganan masalah radikalisme, ekstrimisme, terorisme atau paham-paham menyimpang lainnya membutuhkan pendekatan yang tenang dan komprehensif atau  menyeluruh.
Pendekatan yang keras hanya akan semakin mengobarkan semangat mereka untuk melawan," jawab Akbarcong.

Ya, Akbarcong benar. Ada ruang yang harus dibuka kepada mereka yakni ruang dialogis.

Mereka harus diajak untuk diskusi di ruang-ruang publik agar mereka menyadari bahwa paham mereka sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Pada saat yang sama, sosialisasi tentang bahaya ideologi radikal harus dilakukan di berbagai kalangan.

Menurut para ahli yang mengamati gerakan radikalisme, setidaknya ada empat kalangan yang berpotensi menjadi sasaran gerakan ini, yakni:

1. Kalangan usia muda. Merekalah sasaran empuk bagi penggerak kelompok radikal untuk mencari pengikut karena usia muda adalah usia labil dan sedang mencari jati diri sehingga mudah diinfiltrasi atau dimasuki oleh paham-paham yang radikal.

2. Masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Kalangan ini sangat berpotensi direkrut oleh jaringan radikal karena tawaran jihad  dengan imbalan surga  dapat dengan mudah dianggap sebagai jalan pintas menyelesaikan penderitaan mereka secara ekonomis di dunia ini.

3. Kaum perempuan juga menjadi sasaran empuk karena diharapkan dari wilayah domestik keluarga, si ibu akan menanamkan ajaran radikalisme di tengah keluarganya.
4. Para pendosa yang bertobat.
Mereka ini sangat ingin membersihkan dosa-dosanya secara instant dengan model pertobatan yakni menjadi Suicide Bomber atau pelaku bom bunuh diri yang selanjutnya segera bisa menikahi bidadari.


Sebenarnya secara umum hampir semua kalangan bisa saja terpapar ajaran radikalisme.

Sehingga dengan begitu maka sosialisasi bahaya ajaran sesat dan menyimpang termasuk paham radikalisme harus selalu disuarakan di berbagai forum.

Inilah urgensinya ajakan ke semua elemen masyarakat untuk membuka mata hati  bahwa bergabung dengan kelompok radikal justru akan merusak nama baik mereka, keluarga dan yang paling parah merusak nama mulia agama yang mereka anut selama ini.

Bagaimana mungkin agama yang sangat menyerukan kedamaian dan keselamatan malah dirusak oleh pemahaman segelintir orang yang mengusung ideologi kekerasan dan kebencian atas nama agama.

"Jadi tetap saja kita harus bekerja menanamkan nilai-nilai tentang nasionalisme, kita ajarkan generasi kita tentang sejarah dan tentu saja tentang ideologi yang kita pegangi bersama," pungkas Akbarcong, seakan ingin menutup pembicaraan.

Tangannya lalu menyetel musik keroncong di HPnya.

Gelocong, Fadicong dan Ammarcong paham isyarat dari Akbarcong.
Apalagi kue buroncong di atas meja sudah lama ludes di mulut Fadicong yang lapar.

"Baik, pak, kami pamit dulu. Terima kasih atas penjelasannya," pamit Gelocong.

"Kalian mau ke mana setelah dari sini?" tanya Akbarcong.

"Kami mau menakuti seorang pria yang bergaya seperti wanita," jawab Gelocong sambil melirik Ammarcong dan Fadicong. Bibirnya tersenyum lebar.

"Siapa dia?" tanya Akbarcong sambil menatap ketiga pocong yang seperti menahan tawa.

"Yang moncongnya bergincu tebal dan selalu mencong ke kanan atau ke kiri," kali ini Ammarcong menambahkan sambil mengelengkan kepala menahan tawanya.

"Siapa dia?" Akbarcong makin penasaran.

Gelocong, Ammarcong dan Fadicong sontak menjawab setengah berteriak.

"Bencong!!!"

(edited.OH)


Opini LAINNYA

Memetik Makna Haji 

Judi Online, Hiburan Pembawa Petaka

Berada di Tengah Itu Asyik

Cara Mengurus Produser Nikah

HAB Asasi Manusia