Berkah Ramadan: Denyut Nadi Ekonomi Warga Di Ruas Batangase
Kontributor
Saat Ramadan tiba, ruas Batangase selalu tampil beda dari
hari-hari biasa. Ia tampak lebih sibuk. Bukan hanya oleh deru mesin dan klakson
pengendara yang ingin buru-buru tiba lebih dahulu di tempat tujuan, tapi rautnya
kemudian berubah menjadi ekosistem ekonomi warga.
Fenomena paling nyata, di sepanjang Jalan Poros Kariango, mulai
Pasar Batangase hingga depan gerbang BTN Griya Maros Indah Tamarampu, Bontoa,
Kecamatan Mandai, Maros.
Ruas sepanjang 900 meter ini, kiri-kanan jalannya dipenuhi lapak
jualan: ada meja kayu bertabur beragam kue tradisional, booth container
menjajakan makanan-minuman kekinian, maupun gerobak yang dari kacanya terlihat
benderang tumpukan gorengan. Melewatinya, terasa berada di tengah etalase
harapan dan perjuangan.
Menariknya, usaha-usaha kecil ini, tak hanya muncul saat
Ramadan dan hilang ketika terdengar takbir Idulfitri. Ramadan di Batangase, bak
awal musim tanam. Bagi para warga, bulan suci ini adalah momentum terbaik untuk
menancapkan tunas usaha, yang kemudian
akan tumbuh subur dan berkembang di hari-hari berikutnya.
Ramadan, sekali lagi, seperti rintik hujan yang menyiram
hamparan lahan gembur, di mana lapak bagi ekonomi warga berada.
Kalau dicermati, lima tahun terakhir paling kentara
pertumbuhannya. Setidaknya hal ini disampaikan Ani, warga perumahan Batangase
Permai. “Sejak saya pindah di sini pada 2021, saya lihat mulai ada penjual
sayur di dekat lahan kosong itu. Awalnya, ya saya lihat penjual itu ada pada
Ramadan,” jelasnya (2/3/2026).
Pergeseran pusat keramaian di area ruas Pasar Batangase—persebaran
lokasi lapak jualan—bermula ketika terdapat beberapa penjual sayur, pasar kecil
di depan Warung Boss Bakso-Pangsit. Mereka buka setiap hari, tanpa mengenal jadwal
hari pasar, dan lapaknya baru tutup pada pukul 22.00 WITA. Inilah sebaran bibit
awalnya. Ditambah, momen Ramadan yang menyiramnya setiap jelang buka puasa.
“Yang paling kelihatan, area di depan BTN Tamarampu. Sekarang
sudah banyak penjual makanan minuman kekinian. Saya masih ingat, pada saat Ramadan,
di situ baru ramai penjual, sebelumnya tidak ada, hanya bahu jalan kosong.
“Bahkan ada teman yang jual gorengan di situ, hingga kini masih
tetap menjajakannya. Bukan saja saat menjelang buka puasa, tapi sudah menjadi
aktivitas hariannya,” lanjutnya.
Posisi yang dimaksud, depan pertigaan Griya Tamarampu, Jalan
Poros Kariango dan jalur menuju Perumahan Batangase Permai. Persisnya, di depan
Harmonis. Deretan booth container menjajakan penganan dan minuman peruntukan
anak muda. Sebarannya hingga ke perempatan Perumahan Griya Maros Indah dan Buana
Batangase. Saat Ramadan tahun ini, container bertambah rapat dan eskalasi
pengunjung juga berkali lipat. Kalau momennya, tak terlihat penjualnya.
Lain cerita dengan Nur Hayati, perempuan setengah baya yang
menjajakan Buroncong. Usahanya masih tegak berdiri di tengah gempuran minuman
boba dan makanan yang biasa berseliweran di status Medsos anak muda.
Bermodalkan gerobak kecil dan pembakaran mini, ia berjualan
di Jalan Proros Kariango sejak delapan tahun silam. “Biasa di sudut sana (ia menunjuk
titik selepas pertigaan dari Patung Polwan, jembatan lama) saya menjual,”
ucapnya.
Lebih lanjut ia menceritakan bahwa gerobak itu biasa
dikelola anaknya. “Tapi dua anakku sekarang menjual Coto di samping Grand Mall.
Daripada saya di rumah dan bulan Ramadan biasa lebih ramai, jadi saya jualan Buroncong,”
lanjutnya sembari tangan lincahnya menjepit satu-persatu penganan ini dari cetakannya.
Buroncong, merupakan kue tradisional khas Bugis Makassar yang
berbahan tepung terigu, santan, gula, dan parutan kelapa muda. Dimasak
menggunakan cetakan khusus berbentuk pipih setengah lingkaran, adonan ini dimasak
di atas bara api atau kayu bakar. Rasa manis gurihnya, pas di sandingkan dengan
teh hangat ketika berbuka puasa.
Ramadan, mendorong Nur Hayati untuk bergerak. “Rumah saya
sebelah sana (menunjuk arah Pasar Batangase), tapi saya ambil tempat jualan di
sini, karena lapak sebelumnya lumayan jauh. Kalau anakku yang jualan dia bisa
kuat dorong gerobak sampai di posisi lapak saya semula,” tutupnya sambil
membungkus Buroncong panas dengan alas daun pisang.
Hasil? menurutnya tak seberapa. Tapi sekecil apa pun usaha,
Nur Hayati yakin, Ramadan selalu memberi berkah atas keringat dalam hidupnya.
Bak Hayati, para penjaja menu buka puasa, terutama yang
berada di ruas Batangase pun memiliki keyakinan yang sama. Bahkan, beberapa
telah nyata, para pelaku usaha ini mengawali usaha halal di bulan suci, menikmati
tumbuh kembang dan buahnya setelahnya.
Ruas Batangase kini tak lagi hanya perlintasan poros menuju
Kariango dan perumahan padat penduduk sekitarnya. Ia bukti nyata, bahwa Ramadan
mampu menggerakkan sendi ekonomi warga, mengubah bahu jalan menjadi panggung
terhormat untuk tiap usaha, per tetes keringat, dan bagi para pejuang ekonomi
keluarga.