Daerah

Berkah Ramadan: Denyut Nadi Ekonomi Warga Di Ruas Batangase

Foto Kontributor
Ulya Sunani

Kontributor

Selasa, 03 Maret 2026
...

Saat Ramadan tiba, ruas Batangase selalu tampil beda dari hari-hari biasa. Ia tampak lebih sibuk. Bukan hanya oleh deru mesin dan klakson pengendara yang ingin buru-buru tiba lebih dahulu di tempat tujuan, tapi rautnya kemudian berubah menjadi ekosistem ekonomi warga.

Fenomena paling nyata, di sepanjang Jalan Poros Kariango, mulai Pasar Batangase hingga depan gerbang BTN Griya Maros Indah Tamarampu, Bontoa, Kecamatan Mandai, Maros.

Ruas sepanjang 900 meter ini, kiri-kanan jalannya dipenuhi lapak jualan: ada meja kayu bertabur beragam kue tradisional, booth container menjajakan makanan-minuman kekinian, maupun gerobak yang dari kacanya terlihat benderang tumpukan gorengan. Melewatinya, terasa berada di tengah etalase harapan dan perjuangan.

Menariknya, usaha-usaha kecil ini, tak hanya muncul saat Ramadan dan hilang ketika terdengar takbir Idulfitri. Ramadan di Batangase, bak awal musim tanam. Bagi para warga, bulan suci ini adalah momentum terbaik untuk  menancapkan tunas usaha, yang kemudian akan tumbuh subur dan berkembang di hari-hari berikutnya.

Ramadan, sekali lagi, seperti rintik hujan yang menyiram hamparan lahan gembur, di mana lapak bagi ekonomi warga berada.

Kalau dicermati, lima tahun terakhir paling kentara pertumbuhannya. Setidaknya hal ini disampaikan Ani, warga perumahan Batangase Permai. “Sejak saya pindah di sini pada 2021, saya lihat mulai ada penjual sayur di dekat lahan kosong itu. Awalnya, ya saya lihat penjual itu ada pada Ramadan,” jelasnya (2/3/2026).

Pergeseran pusat keramaian di area ruas Pasar Batangase—persebaran lokasi lapak jualan—bermula ketika terdapat beberapa penjual sayur, pasar kecil di depan Warung Boss Bakso-Pangsit. Mereka buka setiap hari, tanpa mengenal jadwal hari pasar, dan lapaknya baru tutup pada pukul 22.00 WITA. Inilah sebaran bibit awalnya. Ditambah, momen Ramadan yang menyiramnya setiap jelang buka puasa.

“Yang paling kelihatan, area di depan BTN Tamarampu. Sekarang sudah banyak penjual makanan minuman kekinian. Saya masih ingat, pada saat Ramadan, di situ baru ramai penjual, sebelumnya tidak ada, hanya bahu jalan kosong.

“Bahkan ada teman yang jual gorengan di situ, hingga kini masih tetap menjajakannya. Bukan saja saat menjelang buka puasa, tapi sudah menjadi aktivitas hariannya,” lanjutnya.

Posisi yang dimaksud, depan pertigaan Griya Tamarampu, Jalan Poros Kariango dan jalur menuju Perumahan Batangase Permai. Persisnya, di depan Harmonis. Deretan booth container menjajakan penganan dan minuman peruntukan anak muda. Sebarannya hingga ke perempatan Perumahan Griya Maros Indah dan Buana Batangase. Saat Ramadan tahun ini, container bertambah rapat dan eskalasi pengunjung juga berkali lipat. Kalau momennya, tak terlihat penjualnya.

Lain cerita dengan Nur Hayati, perempuan setengah baya yang menjajakan Buroncong. Usahanya masih tegak berdiri di tengah gempuran minuman boba dan makanan yang biasa berseliweran di status Medsos anak muda.

Bermodalkan gerobak kecil dan pembakaran mini, ia berjualan di Jalan Proros Kariango sejak delapan tahun silam. “Biasa di sudut sana (ia menunjuk titik selepas pertigaan dari Patung Polwan, jembatan lama) saya menjual,” ucapnya.

Lebih lanjut ia menceritakan bahwa gerobak itu biasa dikelola anaknya. “Tapi dua anakku sekarang menjual Coto di samping Grand Mall. Daripada saya di rumah dan bulan Ramadan biasa lebih ramai, jadi saya jualan Buroncong,” lanjutnya sembari tangan lincahnya menjepit satu-persatu penganan ini dari cetakannya.

Buroncong, merupakan kue tradisional khas Bugis Makassar yang berbahan tepung terigu, santan, gula, dan parutan kelapa muda. Dimasak menggunakan cetakan khusus berbentuk pipih setengah lingkaran, adonan ini dimasak di atas bara api atau kayu bakar. Rasa manis gurihnya, pas di sandingkan dengan teh hangat ketika berbuka puasa.

Ramadan, mendorong Nur Hayati untuk bergerak. “Rumah saya sebelah sana (menunjuk arah Pasar Batangase), tapi saya ambil tempat jualan di sini, karena lapak sebelumnya lumayan jauh. Kalau anakku yang jualan dia bisa kuat dorong gerobak sampai di posisi lapak saya semula,” tutupnya sambil membungkus Buroncong panas dengan alas daun pisang.

Hasil? menurutnya tak seberapa. Tapi sekecil apa pun usaha, Nur Hayati yakin, Ramadan selalu memberi berkah atas keringat dalam hidupnya.

Bak Hayati, para penjaja menu buka puasa, terutama yang berada di ruas Batangase pun memiliki keyakinan yang sama. Bahkan, beberapa telah nyata, para pelaku usaha ini mengawali usaha halal di bulan suci, menikmati tumbuh kembang dan buahnya setelahnya.

Ruas Batangase kini tak lagi hanya perlintasan poros menuju Kariango dan perumahan padat penduduk sekitarnya. Ia bukti nyata, bahwa Ramadan mampu menggerakkan sendi ekonomi warga, mengubah bahu jalan menjadi panggung terhormat untuk tiap usaha, per tetes keringat, dan bagi para pejuang ekonomi keluarga.

Editor: Andi Baly

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default