Hadapi Fenomena Fatherless, KUA Makale Utara Perkuat Ketahanan Keluarga Menuju Sakinah Maslahat
Kontributor
Rantelemo (Kemenag Tana Toraja) --Setelah melaksanakan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di Masjid Nurul Swadaya Rantelemo, KUA Makale Utara kembali mengintensifkan Program The Most KUA melalui kegiatan Bimbingan Keluarga Muslim yang menyasar kelompok Majelis Taklim dan pengurus Masjid Nurul Swadaya Rantelemo. Kegiatan ini dilaksanakan pada Ahad (1/3/2026) di lokasi yang sama.
Kegiatan diawali dengan tahsin Al-Qur’an Q.S. Al-Hasyr ayat 1-3 yang dipandu oleh Penyuluh Agama Islam KUA Makale Utara, Andi Fitri Nur Hidayah. Suasana pembukaan yang khidmat tersebut menjadi pengantar spiritual sebelum memasuki sesi pembinaan inti.
Memasuki sesi utama, kegiatan pembinaan keluarga muslim dipandu oleh Muh. Mi’raj Pasegeri yang bertugas mengawal jalannya diskusi dan mendampingi fasilitator Bimbingan Perkawinan (Bimwin). Plt. Kepala KUA Makale Utara, Miftah Farid, bertindak sebagai fasilitator dengan menyampaikan materi tentang strategi memperkokoh ketahanan keluarga menuju sakinah di bulan suci Ramadan.
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa persoalan keluarga saat ini semakin kompleks dan menuntut perhatian serius.
“Jika dahulu problem keluarga lebih banyak berkutat pada relasi suami dan istri, hari ini tantangannya jauh lebih luas karena menyangkut pola asuh, keteladanan, serta masa depan anak-anak kita,” ujarnya.
Salah satu fenomena yang disoroti adalah munculnya gejala fatherless dan motherless, yakni kondisi ketika anak tumbuh tanpa keterlibatan emosional yang utuh dari orang tua, khususnya figur ayah atau ibu, dalam proses pengasuhan dan pembinaan karakter.
Menurutnya, fenomena tersebut kian terasa di tengah perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin terdistraksi oleh penggunaan gawai.
“Sering kali orang tua dan anak sama-sama sibuk dengan gadget masing-masing. Interaksi berkurang, kedekatan emosional melemah. Akibatnya, nilai ta’dzim atau penghormatan anak kepada orang tua memudar, dan pada saat yang sama orang tua pun kehilangan sentuhan rahmah yang seharusnya menjadi fondasi pengasuhan,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa Ramadan semestinya menjadi momentum refleksi dan rekonstruksi hubungan dalam keluarga, memperkuat komunikasi, menghadirkan keteladanan, serta membangun kembali kehangatan rumah tangga sebagai basis lahirnya generasi yang berakhlak dan tangguh.
Melalui program Bimbingan Keluarga Muslim ini, KUA Makale Utara berharap kegiatan tidak berhenti pada tataran seremonial, melainkan menjadi bagian dari proses pembinaan berkelanjutan yang berorientasi pada peningkatan pemahaman, kesadaran, dan perubahan sikap peserta.
Alhamdulillah, kegiatan berlangsung interaktif dengan adanya dialog, tanya jawab, serta pertukaran pengalaman antar peserta sesuai dengan karakteristik kelompok sasaran. Dinamika tersebut menunjukkan bahwa isu ketahanan keluarga bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Program ini menjadi bagian dari komitmen Kementerian Agama melalui KUA untuk terus menghadirkan layanan pembinaan yang berdampak, memperkokoh keluarga sebagai fondasi utama dalam membangun masyarakat yang sakinah, maslahat, dan berdaya. (Frd)