Hadiri Halaqah Pesantren, Ali Yafid Harap Jadi Ruang Konsolidasi Nasional Rumuskan Strategi Pesantren Yang Lebih Mengglobal
Kontributor
Makassar (Kemenag Sulsel) -- Kementerian Agama RI menegaskan pentingnya percepatan transformasi tata kelola pesantren sebagai bagian dari agenda strategis nasional. Pesan ini disampaikan Direktur Pesantren, Basnang Said, dalam Halaqah Penguatan Kelembagaan bertajuk “Transformasi Pendidikan Pesantren” yang digelar di Gedung Rektorat UIN Alauddin Makassar, Rabu (26/11/2025).
Kegiatan yang
berlangsung sejak pagi ini dihadiri Rektor UIN Alauddin Makassar, Kakanwil
Kemenag Prov. Sulsel, para pimpinan pesantren, akademisi, dan dua narasumber
utama yaitu Prof. Dr. K.H. Hamzah Harun Ar-Rasyid (Pimpinan PPTQ Halaqah
Hafizhah), dan Dr. Hj. Nurfadjri Fadeli Luran, M.Pd.
Dalam sambutannya,
Basnang Said menekankan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di
Nusantara. Ia mengingatkan adanya fase sejarah ketika pesantren sempat
terpinggirkan oleh modernisasi kolonial, sebelum kembali menunjukkan
kebangkitannya melalui berbagai program negara.
Ia mencontohkan program
PBSB era Menteri Agama M. Maftuh Basyuni yang berhasil membawa santri menjadi
lulusan terbaik di kampus-kampus besar seperti UGM dan IPB. Basnang juga
menguraikan penguatan posisi pesantren dari masa Presiden Gus Dur, penetapan Hari
Santri oleh Presiden Jokowi, hingga lahirnya UU 18/2019 tentang Pesantren.
“Undang-undang itu
mempertegas kembali martabat pesantren dalam sistem pendidikan nasional,”
ujarnya.
Namun, ia mengingatkan
tantangan baru yang muncul: berkurangnya kajian kitab-kitab klasik seperti
balaghah, mantik, dan arudh di pesantren yang terintegrasi sekolah formal.
Kemenag, kata Basnang, tengah menyiapkan langkah strategis untuk mengembalikan
kekayaan tradisi keilmuan tersebut.
Narasumber pertama,
Ketua Tanfidziyah PWNU Sulawesi Selatan, Prof. K.H. Hamzah Harun Ar-Rasyid,
menegaskan bahwa inti pendidikan pesantren terletak pada pembentukan karakter.
“Jika santri merasa
selalu dalam pengawasan Allah, ia tidak akan mungkin berkhianat, meskipun kelak
menjadi rektor atau menteri,” katanya.
Ia memaparkan enam
pilar pendidikan menurut Imam Syafi’i—mulai dari kecerdasan hingga ketekunan.
Namun menurutnya, era digital menuntut lebih: pesantren harus memperluas
jejaring internasional, menguatkan ekonomi, dan masuk lebih jauh ke dunia
digital.
Sementara Ketua Umum
YASDIC IMMIM, Dr. Hj. Nurfadjri Fadeli Luran menyoroti aspek manajerial. Dengan
42.000 pesantren dan 6 juta santri, ia menilai mayoritas masih dikelola secara
tradisional sehingga sulit berkompetisi.
Ia menjelaskan
perbedaan signifikan antara tata kelola pesantren tradisional dan modern,
termasuk penggunaan teknologi dan manajemen keuangan.
“Transformasi tidak
menghilangkan ruh pesantren. Keikhlasan dan keberkahan tetap nomor satu. Yang
berubah adalah kualitas pengelolaannya,” ujarnya.
Nurfadjri merinci bahwa
transformasi harus berjalan di tiga dimensi: struktur, proses, dan budaya
organisasi—mulai dari SOP, transparansi finansial, penguatan asrama sesuai UU
Pesantren, hingga kolaborasi dengan alumni dan lembaga global.
Para pimpinan pesantren
yang hadir menilai halaqah ini sebagai momentum penting penyusunan roadmap
transformasi pesantren Indonesia. Kesimpulannya tegas: perubahan bukan lagi
pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar santri mampu bersaing secara nasional
maupun internasional.
Basnang Said menutup
acara dengan penegasan yang menguatkan arah masa depan pesantren.
“Pesantren harus tetap
teguh pada tradisi, tetapi tidak boleh tertinggal oleh zaman. Dari sinilah
lahir pemimpin bangsa yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing,” pungkasnya.
Kakanwil Kemenag Prov.
Sulsel H. Ali Yafid Dalam Sambutannya menekankan bahwa pesantren memiliki posisi
historis yang tidak tergantikan dalam perjalanan bangsa. Menurutnya, negara
perlu hadir lebih kuat untuk menjaga dan mengembangkan lembaga yang telah
membentuk karakter dan peradaban Nusantara jauh sebelum Indonesia berdiri.
“Pesantren adalah pusat
ilmu sekaligus pusat peradaban. Ulama telah meletakkan fondasi bangsa ini
melalui pendidikan dan dakwah. Pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren
menjadi langkah penting untuk memperkuat ekosistem pesantren secara nasional,”
ujar Ali Yafid
Ia juga menjelaskan bahwa pembentukan Ditjen Pesantren menjadi kebutuhan mendesak, khususnya untuk mengintegrasikan trifungsi pesantren: pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Kakanwil Kemenag Sulsel
ini berharap menjadi ruang konsolidasi nasional untuk menyatukan visi,
memperkuat kelembagaan, serta merumuskan strategi pengembangan pesantren yang
lebih sistematis. Tujuannya jelas: menjadikan pesantren tetap berakar kuat pada
tradisi Nusantara, namun sekaligus siap melompat menjadi pemain penting dalam
peta pendidikan global.