Hasil Pembinaan Penyuluh Agama Islam, 100 Warga Binaan Lapas Takalar Ikuti Wisuda Santri.
Kontributor
Takalar, Kemenag Takalar,.....Sebanyak 100 orang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Takalar mengikuti prosesi Wisuda Santri setelah dinyatakan lulus oleh para pembina santri dari Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Takalar.
Dari jumlah tersebut, 6 orang di antaranya merupakan warga binaan perempuan.
Prosesi wisuda berlangsung khidmat di Aula Lapas Kelas IIB Takalar, Rabu 11 Maret 2026.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Selatan yang diwakili oleh Kepala Bidang Pembinaan dan Pelayanan Tahanan, Mutzaini.
Wisuda santri warga binaan ini juga turut disaksikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Takalar Solihin bersama Kepala Lapas Kelas IIB Takalar Mansyur, serta jajaran pejabat Lapas , Kepala KUA Pattallassang dan KUA Polongbangkeng Utara dan para penyuluh agama Islam yang selama ini membina para warga binaan.
Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Takalar, Mansyur dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan wisuda santri ini merupakan bagian dari program pembinaan kepribadian bagi warga binaan yang secara rutin dilaksanakan melalui kerja sama antara Lapas Takalar dan Kementerian Agama Kabupaten Takalar.
Menurutnya, pembinaan keagamaan menjadi salah satu aspek penting dalam proses pembentukan karakter warga binaan agar mereka dapat memperbaiki diri selama menjalani masa pembinaan di dalam lapas.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Takalar Solihin dalam sambutannya menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kerja sama yang telah terjalin dengan baik antara Lapas Kelas IIB Takalar dan Kementerian Agama Kabupaten Takalar dalam pembinaan keagamaan bagi warga binaan.
Ia menegaskan bahwa kehadiran para Penyuluh Agama Islam di Lapas merupakan bagian dari komitmen Kementerian Agama dalam memberikan pelayanan dan pembinaan keagamaan kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan.
“Kami sangat mengapresiasi kesempatan yang diberikan kepada para penyuluh agama Islam untuk melakukan pembinaan di Lapas Takalar. Ini merupakan bagian dari tugas kami dalam membina umat agar semakin memahami nilai-nilai agama,” ungkap Solihin.
Ia juga menyampaikan bahwa para Penyuluh Agama Islam Kemenag Takalar secara rutin dan bergantian melaksanakan pembinaan keagamaan di Lapas Kelas IIB Takalar.
“Melalui pembinaan ini, para warga binaan tidak hanya diajarkan membaca dan menulis Al-Qur’an, tetapi juga diberikan pemahaman tentang akhlak, ibadah, serta nilai-nilai keagamaan yang diharapkan dapat menjadi pedoman hidup mereka ke depan,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Kabid Pembinaan dan Pelayanan Tahanan Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Sulawesi Selatan, Mutzaini yang mewakili Kepala Kantor Wilayah menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kementerian Agama Kabupaten Takalar atas kontribusi nyata dalam memberikan pembinaan keagamaan kepada warga binaan di Lapas Takalar.
Ia mengapresiasi dedikasi para Penyuluh Agama Islam yang selama ini dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan hadir memberikan pembinaan dan pendampingan kepada warga binaan.
“Kami sangat berterima kasih kepada Kementerian Agama Kabupaten Takalar yang telah mengerahkan para penyuluh agama Islam untuk melakukan pembinaan keagamaan di Lapas. Kegiatan ini sangat membantu dalam membentuk mental dan spiritual warga binaan,” ujarnya.
Mutzaini juga menyampaikan bahwa selama beberapa tahun terakhir, warga binaan Lapas Kelas IIB Takalar secara konsisten mendapatkan pembinaan keagamaan dari seluruh Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Takalar yang datang secara bergantian.
Ia berharap program pembinaan keagamaan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya pembinaan warga binaan agar mereka mampu menjadi pribadi yang lebih baik dan siap kembali berbaur dengan masyarakat setelah menyelesaikan masa pembinaan di lembaga pemasyarakatan.
Prosesi wisuda santri warga binaan ini pun menjadi momentum yang membanggakan bagi para peserta, karena menjadi bukti bahwa keterbatasan ruang tidak menghalangi mereka untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada nilai-nilai agama. ( D, Tola ).