KHUTBAH IDUL FITRI MENYENTUH HATI, MENUJU JIWA YANG SUCI
Kontributor
Oleh: Saddam Husain Amin, M.A.
(Mubalig As’adiyah Pusat Sengkang dan Dosen STAIN Majene)
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لا إِلهَ إلا اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَاللهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي وَفَقَنَا الإِثْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَنَا عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ, وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّينَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْMِ الدِّينَ أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ:
قُلْ يَعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ج إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Hari ini rasa haru bahagia bercampur satu dalam kesedihan. Rasa
bahagia karena datangnya hari kemenangan, namun dilain sisi akan ada rasa sedih
atas kepergian bulan Ramadhan.
Bulan yang penuh dengan keberkahan. Rasulullah saw bersabda,
"Apabila malam terakhir bulan Ramadhan tiba, maka menangislah langit,
bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad saw.".
Rasulullah ditanya, "Musibah apakah itu ya Rasulullah? Nabi saw menjawab,
"Perginya bulan Ramadhan, karena di bulan Ramadhan itu semua doa diijabah,
semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan siksa
dihentikan." (Diriwayatkan dari Jabir).
Rasa sedih ini hanya dirasakan oleh orang yang merasakan nikmatnya
Ramadan. Sebuah pepatah mengungkapkan:
مَنْ ذَاقَ
حَلَاوَةَ الوِصَالِ ذَاقَ مَرَارَةَ الفِرَاقِ
Artinya:
“Siapa yang merasakan manisnya kebersamaan, akan merasakan pahitnya
perpisahan.”
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, tetes air mata karena rasa
sedih melepas kepergian Ramadhan, telah bercampur rasa haru bahagia karena
telah diberi kesempatan berkumpul bersama keluarga.
Bahagia suka cita karena diberi kesempatan merayakan hari lebaran
bersama-sama dengan orang yang terkasih dan yang tercinta.
Dilain sisi pula, ada mata yang menangis sedih, tertunduk sambil
mengingat merenung, dimana sosok yang terkasih pada lebaran-lebaran sebelumnya
masih berjabat erat, dan memeluk tubuh dengan hangat namun kini tak lagi
bersama dengannya karena telah lebih dahulu menghadap kepada Tuhan. Terniang
dan terekam dengan jelas canda tawa dan kebersamaan dengan sanak saudara,
suami, isteri atau anak, dan cucu, namun kini sudah tak lagi.
Rasa sedih yang lebih mendalam, dirasakan oleh seorang anak yang
merayakan lebaran tanpa sosok ibu bapaknya. Mengalir deras kerinduan saat
mengenang terakhir berlebaran bersama, bersuka cita berangkat dengan penuh
bahagia, di mana tangan masih bisa berjabat dengan erat dan merasakan pelukan
yang penuh dengan kehangatan, memohon dan restu. Tetapi semua hal tersebut
hanya menjadi ingatan yang terikat oleh kerinduan yang mendalam. Hanya untaian
doa bersama kerinduan, semoga Tuhan mengumpulkan kelak di surganya nanti.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, dalam suasana seperti ini,
di suatu waktu sebagaimana yang riwayatkan oleh Ka'ab bin Ujrah r.a.. Ketika
Rasulullah menaiki tangga mimbar yang pertama, beliau berkata,
"Amin." Ketika beliau menaiki tangga yang kedua, beliau pun berkata,
"Amin." Ketika beliau menaiki tangga yang ketiga, beliau pun berkata,
"Amin.". Setelah Rasulullah saw. turun dari mimbar, kami pun berkata,
"Ya Rasulullah, sungguh kami telah mendengar dari engkau pada hari ini,
sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya.". Rasulullah saw.
bersabda:
أَرْغَمَ اللهُ
أَنْفَ عَبْدٍ أَوْ بَعْدَ دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ : آمِينَ
Artinya:
"Celakalah orang yang mendapati bulan
Ramadhan yang penuh berkah, tetapi tidak memperoleh keampunan." Maka aku
berkata, "Amin".
Alangkah ruginya orang yang menyia-nyiakan bulan Ramadhan. Di saat
Ramadhan, tuhan membuka pintu surga, namun dia enggan memasukinya, saat tuhan
menutup pintu neraka namun dia memaksakan diri hendak masuk ke dalamnya. Rugi
seragilah kita.
Kelak di akhirat, saat hari pembalasan telah tiba, setiap perbuatan
dipertanggung jawabkan, yang hadir hanya penyesalan tiada tara, sebagaimana
yang tergambarkah oleh Allah Swt. Surah as-Sajadah/32 Ayat 12:
وَلَوْ تَرَى
إِذِ الْمُجْرِمُوْنَ نَاكِسُوا رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوْقِنُوْنَ
Artinya:
"Dan seandainya engkau melihat para pendurhaka itu menundukkan
kepala mereka disisi Tuhan mereka, Tuhan kami, kami telah melihat dan
mendengar, maka kembalikanlah kami, kami akan mengamalkan yang sholeh,
sesungguhnya kami adalah orang yang yakin.".
Rasa sesal telah membuat orang durhaka ingin kembali untuk
mengerjakan amal Shaleh didunia. Tapi apalah daya penyesalan tinggallah
penyesalan. Jatuh tetes air matanya, merengek memohon agar diberi kesempatan
untuk memperbaiki diri, tetesan air mata membasahi pipi, penyesalannya tak
henti. Namun semua itu tidak ada artinya, kesempatan itu telah putus sejak
nyawa telah dicabut dari raga.
Menyesallah, sebelum penyesalan itu tidak ada arti, menangislah
sebelum pada akhirnya tangisan itu tak memberi manfaat, dan bertaubatlah
sebelum pada akhirnya pintu taubat itu telah ditutup!.
Bertaubatlah kepada Allah Swt. sebab Allah maha penerima taubat.
Walau dosa sebesar langit dan bumi, ampunan Allah jauh lebih luas. Q.S.
az-Zumar/39 ayat 53 sebagai berikut:
قُلْ يَعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya:
"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap
diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.'
Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah berfirman,
يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي
Artinya:
"Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta
ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni mu dan Aku tidak peduli."
Untuk itulah di hari berkumpulnya kita di tempat ini, di hari yang
fitri, hari yang suci, marilah kita menyucikan diri dengan bertaubat seraya
merenung, menyesali, dan menangisi khilaf yang telah diperbuat.
Kedua, ketika aku menaiki tangga yang
kedua, Jibril berkata:
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعْدَ ، ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، فَقُلْتُ : آمين
Artinya:
"Celakalah orang yang apabila namamu
disebutkan, dia tidak bersalawat ke atasmu." Aku pun berkata,
"Amin.".
Rasulullah adalah tauladan mulia bagi umat manusia. Segala bentuk
perjuangan dakwah Rasulullah saw adalah bentuk kasih sayang kepada umat manusia
agar memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.
Dalam sejarah disebutkan, perlakuan yang didapatkan oleh Rasulullah
begitu tragis saat berdakwah ke Kota Thaif. Utusan Allah ini justru menjadi
target pelecehan, penghinaan, umpatan, yang diluapkan dengan kata-kata kotor.
Jibril bertutur kepada sang Nabi, "Apakah engkau mau aku timpakan dua
gunung kepada mereka? Kalau itu kau inginkan maka akan aku lakukan.".
Namun, Rasul tidak menghendakinya. Bahkan dia mengharapkan Allah akan
menciptakan generasi bertakwa yang lahir dari tulang rusuk masyarakat di sana.
Kecintaan Rasulullah kepada umat sangat lah besar. Beliau bersabda,
"aku rindu dengan kekasihku?". Para sahabat bertanya, "Bukankah
kami adalah para kekasihmu?" Rasulullah menjawab, "Kalian memang
sahabatku, para kekasihku adalah mereka yang tidak pernah melihatku, tetapi
mereka percaya kepadaku.".
Atas dasar kecintaan Rasulullah itulah, sudah seharusnya kita
senantiasa bersalawat kepada Rasulullah.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya:
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk
Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.".
Ketiga, ketika aku melangkah ke tangga
ketiga, Jibril berkata:
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ
Artinya:
"Celakalah orang yang mendapati ibu bapaknya yang telah tua,
atau salah satu dari keduanya, tetapi keduanya tidak menyebabkan orang itu
masuk surga.". Aku pun berkata, "Amin.".
Sungguh beruntunglah seseorang yang telah diberi kesempatan hidup
bersama ibu bapaknya, sebab dengannya itu dapat mengantarkan dia ke surga
selama dia mampu berbakti kepadanya. Namun celakalah orang yang memiliki ibu
bapak namun tidak dijadikannya sebagai jalan untuk berbakti.
Pesan orang terdahulu, "seorang ibu mampu merawat sepuluh anak,
tapi sepuluh anak belum tentu bisa merawat seorang ibu". Allah Ta'ala
berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Artinya:
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan
sebaik-baiknya." (Q.S. Al Isra'/17: 23) .
Sungguh, jasa orang tua apalagi seorang ibu begitu besar. Mulai saat
mengandung, tak ada tidur yang dia nikmati. dia mesti menanggung berbagai macam
penderitaan, Baru sekejap tertutup matanya, tangisan kita pun membangunkannya.
Puncak penderitaan seorang ibu Tatkala dia melahirkan. Satu kakinya berada di
dunia. Dan satunya lagi berada di kuburan. Kematian siap dia hadapi agar
anaknya bisa hidup. Begitu pula saat menyusui, yang sebenarnya waktu
istirahat baginya, namun dia rela lembur di saat si bayi kecil kehausan dan
membutuhkan air susunya.
Teramat besar jasa ibu bapak kita, sehingga jasanya sangat
sulit sekali
untuk dibalas,
walaupun dengan menggendongnya untuk
berhaji dan memutari Ka’bah.
Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman
yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya.
ثُمَّ قَالَ:
يَا ابْنَ عُمَرَ أَتُرَانِي جَزَيْتُهَا؟ قَالَ: لَا وَلَا بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ
Artinya:
“Kemudian ia berkata: ‘Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas
jasanya?’ Ia menjawab: ‘Tidak, bahkan tidak pula dengan satu tarikan napas
(yang ia keluarkan ketika melahirkanmu).’”
Puluhan kali pun kita membawa ibu bapak ke tanah suci,
meskipun dengan menggendong langsung,
itu tak akan bisa membalas jasa-jasa ibu bapak kepada kita. Lalu mengapa
masih ada seorang anak yang durhaka, membangkang atas perintahnya.
Marilah kita belajar sebuah kisah tentang pengabdian kepada orang
tua. seorang pemuda bernama Uwais Alqarni, pemuda yang soleh dan sangat
berbakti kepadanya Ibunya yang bertempat di Yaman. Ibunya adalah seorang wanita
tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya.
Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan. Yaitu menghajikan ibunya.
Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah
seekor anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi
Haji naik lembu. Ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi
beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila..
Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.
Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun
bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang
diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu
tak terasa lagi.
Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah
mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi
kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais
menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.
Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari
Yaman ke Mekkah! (1.200 km hingga 1.400 km). Subhanallah, alangkah besar cinta
Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi
keinginan ibunya.
Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya
terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu
dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana
dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampunnya dosa
Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku
ke surga.”
Uwais Al-Qarni sangat dicintai Rasulullah saw dan penghuni langit.
Dalam sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Muslim: “Sesungguhnya tabi’in
yang terbaik adalah seorang pria yang bernama Uwais. Ia memiliki seorang ibu
dan dulunya berpenyakit kulit (tubuhnya ada putih-putih). Perintahkanlah
padanya untuk meminta ampun untuk kalian,” demikian sabda Nabi kepada Umar bin
Khattab.
Nabi menjelaskan:
رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
Artinya:
"Ridha Allah tergantung pada ridha
orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.".
Sebaik apa pun kurirmu, setinggi apa pun pendidikanmu, seberapa
hebat kedudukanmu, jika durhaka kepada ibu bapakmu, maka semua itu akan sirna.
Jangankan mendapatkan kebahagiaan di akhirat, di dunia pun tak akan diperoleh
kalau durhaka kepada ibu bapak.
كُلُّ الذُّنُوبِ يُؤَخِّرُ اللَّهُ مَا شَاءَ مِنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِلَّا عُقُوقَ الْوَالِدَيْنِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُعَجِّلُهُ لِصَاحِبِهِ فِي الْحَيَاةِ قَبْلَ الْمَمَاتِ
Artinya:
Rasulullah Shallallahun Alaihi Wasallam bersabada,”Setiap dosa-dosa,
Allah Ta’ala mengakhirkan (balasannya), sebagaimana yang Dia kehendaki dari
dosa-dosa itu hingga hari kiamat. Kecuali durhaka kepada kedua oranguanya,
sesungguhnya Allah menyegerakan (balasan) nya bagi pelakunya saat hidup di
dunia sebelum wafat.” (Riwayat At Thabarani dan Al Hakim, dishahihkan oleh Al
Hakim dan As Suyuthi)
Jika orang durhaka kepada ibu bapak, maka setiap yang dibangun akan
runtuh, setiap yang ditanam akan gagal, setiap usaha yang dia lakukan akan rugi.
Banyak orang yang jauh mencari kebahagiaan, mengejar surga hingga ke
mana-mana, namun lupa bahwa ada surga di rumahnya. Yaitu ibu bapak kita. Siapa
yang berbakti kepada ibu bapak. Maka itulah sumber kebahagiaan, mengabdi kepada
ibu bapak adalah cara kita memperoleh surga.
Hadiri yang dimuliakan Allah
Akan ada suatu saat, orang tua akan berpisah dengan kita, andai
malaikat maut menjeput, andai orang tua telah menjadi mayat, kita tak lagi
mendengar suaranya, gurauannya, nasihatnya, dan doa restunya.
Andai orang tua kita sudah dibungkus kain kafan, kita tak bisa lagi
membawa oleh-oleh kesukaannya, tidak bisa lagi memijat kakinya, tidak bisa
lagi mencium tangannya, memeluk hangat tubuhnya.
Andai kata orang tua sudah diusung ke pekuburan, dimasukkan ke liang
lahat, ketika tanah mulai menimbun.Itulah saat terakhir kita melihat jasadnya.
Sesudah itu hanya tinggal nisan yang bisa kita raba. yang tersisa hanya
penyesalan, mengapa selagi ada disia-siakan.
Ketika sampai ke rumah, kamarnya telah kosong, hanya tinggal foto
dan pakaian yang tergantung di dinding serta kepedihan, mengapa ketika ada
disiasiakan. Mengapa kita tak memiliki waktu untuk membahagiakan.
Selagi mereka masih ada, jangan sia-siakan
mereka.
berbaktilah sebaik-baiknya, Sepulang dari rumah, temui mereka, duduk
di hadapannya, ambil tangannya, cium, Raba tangan kulit yang kasar karena kerja
keras membanting tulang peluh keringat agar kita dapat hidup terjamin,
bersekolah, dan meraih cita-cita yang kita dambakan.
Peluk tubuhnya dengan penuh kehangatan, rasakan tubuh yang lagi tak
kekar itu, tubuh yang sudah semakin melemah, pundaknya yang tak lagi kekar
akibat terbakar panas terik matahari mencari nafkah untuk anak-anaknya.
Tatap wajahnya yang sudah mengerut karena menyimpan rasa sakit dan
kepedihan dari umur yang semakin menua. Berbaktilah kepada ibu bapak selagi
mereka masih hidup. Jangan sia-siakan mereka.
Namun jika mereka telah tiada, telah
menghadap keharibaan Allah. Maka doakan mereka
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya:
"Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan
Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil".
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Di hari raya idul fitri ini, marilah kita
menjaga kebersamaan, merajut tenun persaudaraan.
بَارَكَ اللهُ
لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِفَهْمِهِ إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الرَّحِيمِ
KHUTBAH
KEDUA
اللهُ أَكْبَرُ (۷) اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَرَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ تَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا ، فَقَالَ تَعَالَى : إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللَّهُمَّ نَوْرْ قُلُوْبَنَا بِالتَّوْفِيْقِ وَالْهِدَايَةِ وَاجْنُبْنَا الشِّرْكَ وَالْمُنْكَرَاتِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَجَمِيعَ عِبَادَاتِنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ
.. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبِي وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.