Daerah

Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa: Simpul Kokoh Ajaran Yang Terwariskan

Foto Kontributor
Ulya Sunani

Kontributor

Minggu, 08 Maret 2026
...

Di pinggir Jalan Poros Bantimurung, Kelurahan Turikale, Kecamatan Turikale, sebuah masjid berusia ratusan tahun berdiri dengan teduh nan bersahaja, seolah menahan laju waktu. Masjid bernama Urwatul Wutsqa, atau masyarakat sering menyebut Masjid Lompoe, bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga “buah tangan” ulama yang menyimpan jejak panjang sejarah Islam di Kabupaten Maros dan pesan dakwah yang terus berkumandang hingga kini.

Menapaki halaman masjid bagian selatan, di tangga pertama pengunjung akan dibawa kembali pada masa ratusan tahun, tepatnya 172 tahun lalu, ketika Raja keempat Turikale, mendirikan bangunan masjid ini.

Tertulis prasasti yang tertanam di dinding luar, bahwa Masjid Besar Urwatul Wutsqa Turikale Maros, didirikan oleh Kareang Turikale IV, H.A. Sanrima Dg. Parukka, bergelar Syeck Abdul Qadir Jaelani pada Jumat, 14 Muharram 1275 Hijriah, atau bertepatan dengan 5 Oktober 1854.

Menarik garis waktu pendirian masjid dengan perkembangan Islam Nusantara. Kala itu, perang Jawa telah usia dan pesantren sudah banyak berdiri. Lembaga pendidikan keagamaan yang menjadi wadah mantan bagi pasukan Pangeran Diponegoro untuk terus berjuang menjaga tata krama, adat dan akhlak yang berdasarkan nilai-nilai agama. Sementara, sang Pangeran Diponegoro pada 1854 sudah berada di masa pengasingan di Benteng Rotterdam, Makassar. Tepatnya, memasuki masa akhir usianya, karena pada 8 Januari 1955, sang Pangeran wafat. Tepat tiga bulan saat mercusuar syiar di Kabupaten Maros mulai menyala.

Seiring berjalannya waktu, masjid ini sudah mengalami pemugaran. Dalam prasasti juga tertera bahwa peresmian penggunaan setelah masjid dipugar oleh H. Z Wali Amrullah pada Sabtu, 26 Juni 1999. Zainal Wali Amrullah merupakan Kepala Badan Diklat Departemen Dalam Negeri 1994-1998. Ia diketahui juga merupakan kakak kandung mantan Bupati Maros ke-10, H. Nasrun Amrullah.

Muh. Yusuf Jufri, warga setempat mengenang betapa kokohnya bangunan asli Masjid Lompoe. “Itu yang ruang tengah temboknya tebal, batu batanya besar-besar. Tapi kondisi dinding yang sudah mulai tua saat itu, akhirnya direnovasi,” ungkapnya.

Secara arsitektur, Bangunan Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa memiliki keunikan berupa “dua lapis” dinding: bagian luar dengan pintu dan jendela-jendela besar dan bagian dinding tembok bagian dalam. “Model dan luas masjid ya seperti yang kita lihat sekarang. Tapi bagian-bagiannya sudah banyak perubahan,” jelasnya, Jumat (6/3/2026).

Masjid Lompoe memiliki 21 pintu yang menyusun estetikanya: 10 pintu bagian luar dan 11 pintu di bagian dalam. Pintu bagian dalam berbentuk kubah dengan masing-masing dua daun pintu berukir kaligrafi doa-doa. Sementara pintu luar masjid berbentuk segi lima dengan warna dominan hijau.

“Yang masih asli, kalau tidak salah hanya bedug. Dari dulu sampai sekarang, ya begitu bedugnya. Mimbar juga ada sedikit perubahan, tapi yang bagian atasnya—berbentuk nanas—dari dulu begitu.

“Dulu tempat wudhu ada kolam besar, sekarang sudah pakai kran. Posisinya ya di area wudhu yang sekarang di bagian depan sisi utara masjid,” jelasnya.

Masjid ini juga biasa disebut sebagian masyarakat sebagai Masjid Pasar Tua. Penamaan ini mempertegas ciri khas tata kota klasik di hampir seluruh daerah di Indonesia: di mana ada pusat keramaian ekonomi, di situlah jantung spiritual ajaran Islam berkumandang.

Masjid Lompoe ini, menjadi bukti bahwa ajaran Islam, tidak egois, tidak hadir eksklusif, tetapi tumbuh dan berkembang selaras dengan rutinitas masyarakat. Ia hadir mengisi ruang-ruang aktivitas, termasuk ketika di pasar yang riuh dengan strategi jual beli, transaksi duniawi, masjid terus menyeru, pengingat ukhrawi.

Ratusan tahun telah berlalu, namun napas syiarnya tak pernah pudar. Ia seakan menulis tarikhnya sendiri dalam lembaran sejarah Kabupaten Maros. Ketika bedung ditabuh dan azan berkumandang dari masjid ini, ia tidak hanya memanggil umat untuk bersujud, tapi sekaligus memanggil pada ingatan kita bahwa: pesan dakwah yang hadir dalam setiap relung aktivitas warga, merupakan tali pengikat sempurna—sebuah Urwatul Wutsqa. Ia simbol simpul kokoh ajaran kebaikan yang terus terwariskan melintasi zaman, pusaka sejarah yang selamanya patut dirawat bersama. 

Editor: Andi Baly

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default