Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa: Simpul Kokoh Ajaran Yang Terwariskan
Kontributor
Di pinggir Jalan Poros Bantimurung, Kelurahan Turikale, Kecamatan
Turikale, sebuah masjid berusia ratusan tahun berdiri dengan teduh nan bersahaja,
seolah menahan laju waktu. Masjid bernama Urwatul Wutsqa, atau masyarakat
sering menyebut Masjid Lompoe, bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga “buah
tangan” ulama yang menyimpan jejak panjang sejarah Islam di Kabupaten Maros dan
pesan dakwah yang terus berkumandang hingga kini.
Menapaki halaman masjid bagian selatan, di tangga pertama
pengunjung akan dibawa kembali pada masa ratusan tahun, tepatnya 172 tahun lalu,
ketika Raja keempat Turikale, mendirikan bangunan masjid ini.
Tertulis prasasti yang tertanam di dinding luar, bahwa Masjid
Besar Urwatul Wutsqa Turikale Maros, didirikan oleh Kareang Turikale IV, H.A.
Sanrima Dg. Parukka, bergelar Syeck Abdul Qadir Jaelani pada Jumat, 14 Muharram
1275 Hijriah, atau bertepatan dengan 5 Oktober 1854.
Menarik garis waktu pendirian masjid dengan perkembangan
Islam Nusantara. Kala itu, perang Jawa telah usia dan pesantren sudah banyak berdiri.
Lembaga pendidikan keagamaan yang menjadi wadah mantan bagi pasukan Pangeran
Diponegoro untuk terus berjuang menjaga tata krama, adat dan akhlak yang
berdasarkan nilai-nilai agama. Sementara, sang Pangeran Diponegoro pada 1854 sudah
berada di masa pengasingan di Benteng Rotterdam, Makassar. Tepatnya, memasuki
masa akhir usianya, karena pada 8 Januari 1955, sang Pangeran wafat. Tepat tiga
bulan saat mercusuar syiar di Kabupaten Maros mulai menyala.
Seiring berjalannya waktu, masjid ini sudah mengalami
pemugaran. Dalam prasasti juga tertera bahwa peresmian penggunaan setelah
masjid dipugar oleh H. Z Wali Amrullah pada Sabtu, 26 Juni 1999. Zainal Wali
Amrullah merupakan Kepala Badan Diklat Departemen Dalam Negeri 1994-1998. Ia
diketahui juga merupakan kakak kandung mantan Bupati Maros ke-10, H. Nasrun
Amrullah.
Muh. Yusuf Jufri, warga setempat mengenang betapa kokohnya bangunan
asli Masjid Lompoe. “Itu yang ruang tengah temboknya tebal, batu batanya besar-besar.
Tapi kondisi dinding yang sudah mulai tua saat itu, akhirnya direnovasi,” ungkapnya.
Secara arsitektur, Bangunan Masjid Lompoe Urwatul Wutsqa memiliki
keunikan berupa “dua lapis” dinding: bagian luar dengan pintu dan jendela-jendela
besar dan bagian dinding tembok bagian dalam. “Model dan luas masjid ya seperti
yang kita lihat sekarang. Tapi bagian-bagiannya sudah banyak perubahan,”
jelasnya, Jumat (6/3/2026).
Masjid Lompoe memiliki 21 pintu yang menyusun estetikanya: 10
pintu bagian luar dan 11 pintu di bagian dalam. Pintu bagian dalam berbentuk
kubah dengan masing-masing dua daun pintu berukir kaligrafi doa-doa. Sementara
pintu luar masjid berbentuk segi lima dengan warna dominan hijau.
“Yang masih asli, kalau tidak salah hanya bedug. Dari dulu sampai
sekarang, ya begitu bedugnya. Mimbar juga ada sedikit perubahan, tapi yang
bagian atasnya—berbentuk nanas—dari dulu begitu.
“Dulu tempat wudhu ada kolam besar, sekarang sudah pakai
kran. Posisinya ya di area wudhu yang sekarang di bagian depan sisi utara
masjid,” jelasnya.
Masjid ini juga biasa disebut sebagian masyarakat sebagai
Masjid Pasar Tua. Penamaan ini mempertegas ciri khas tata kota klasik di hampir
seluruh daerah di Indonesia: di mana ada pusat keramaian ekonomi, di situlah
jantung spiritual ajaran Islam berkumandang.
Masjid Lompoe ini, menjadi bukti bahwa ajaran Islam, tidak egois,
tidak hadir eksklusif, tetapi tumbuh dan berkembang selaras dengan rutinitas masyarakat.
Ia hadir mengisi ruang-ruang aktivitas, termasuk ketika di pasar yang riuh dengan
strategi jual beli, transaksi duniawi, masjid terus menyeru, pengingat ukhrawi.
Ratusan tahun telah berlalu, namun napas syiarnya tak pernah pudar. Ia seakan menulis tarikhnya sendiri dalam lembaran sejarah Kabupaten Maros. Ketika bedung ditabuh dan azan berkumandang dari masjid ini, ia tidak hanya memanggil umat untuk bersujud, tapi sekaligus memanggil pada ingatan kita bahwa: pesan dakwah yang hadir dalam setiap relung aktivitas warga, merupakan tali pengikat sempurna—sebuah Urwatul Wutsqa. Ia simbol simpul kokoh ajaran kebaikan yang terus terwariskan melintasi zaman, pusaka sejarah yang selamanya patut dirawat bersama.