19 Maret 2019
Sarjana Pendidikan : Kuantitas Melimpah, Krisis Kesadaran

Sarjana Pendidikan : Kuantitas Melimpah, Krisis Kesadaran

Oleh: Atifatul Mukarrama

(Tenaga Pendidik MTs. DDI Tarumpakkae)

Dewasa ini peningkatan guru di Indonesia secara kuantitas cukup menggembirakan dan membangun optimisme dunia pendidikan. Peminat jurusan ilmu pendidikan dan keguruan membeludak setiap tahunnya. Perguruan tinggi negeri maupun swasta menamatkan sarjana pendidikan dengan jumlah fantastis setiap tahunnya. Kampus yang berbasis di ibukota Kabupaten saja, mayoritas membuka jurusan keguruan dengan jumlah lulusan ratusan, apatahlagi perguruan tinggi di kota besar tentu angka lulusannya lebih dari itu.

Setelah menempuh pendidikan untuk menjadi insan terdidik yang akan siap mendidik generasi, dengan bekal sarjana pendidikan yang melekat bertebaran mengabdikan ilmunya sebagai guru atau tenaga edukasi di sekolah- sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Meskipun ada juga yang mengambil jalur profesi yang lain karena tidak ada passion untuk mengajar.

Image ideal yang diharapkan mampu ditampilkan pada seorang guru yang telah digembleng perihal ilmu mendidik adalah sosok yang cerdas, inspiratif, visioner, jujur, dan berkesadaran tinggi. Karena merekalah yang menjadi tumpuan pendidikan untuk menebarkan aura positif dalam membangun karakter anak bangsa. Namun, sejauh mana pengaruh jumlah angka sarjana pendidikan memberikan kontribusi berarti dalam mencetak generasi masa depan?

Kasus korupsi, prostitusi, tindakan kriminalitas siswa terhadap guru, dan berbagai kasus kriminal yang populer di telinga kita dimana pelakunya adalah kaum terpelajar, anak sekolahan, di bawah bimibingan guru, menimbulkan tanda tanya. Mengapa masih sering terjadi di sekitar kita?. Sementara bertahun-tahun pemerintah aktif menggaungkan pendidikan karakter. Kurikulum direvisi dan dirancang untuk membentuk sikap spiritual, sosial, terampil, dan berpengetahuan tinggi. Namun, pada kenyataanya aksi kriminalitas oleh kaum terpelajar masih marak di berbagai daerah. Penilaian dari berbagai pihak pun bermunculan. Ada yang menitikberatkan permasalah pada sistem penegakan hukum, kurikulum pendidikan, dan ada juga yang menyalahkan guru.

Jumlah sarjana pendidikan yang melimpah, namun zaman kekinian sulit ditemukan sosok guru teladan di sekolah dan masyarakat. Kurang sekali guru yang mampu menjadi patron dan tokoh inspiratif di kalangan pelajar. Hal ini dipengaruhi banyak faktor. Misalnya arus globalisasi yang menuntut semua serba instan, guru disibukkan dengan kecanduan game online, lebih fokus mengurus bisnis online karena gaji guru yang rendah, apalagi yang berstatus honorer. Namun pada hakikatnya, problematika yang menjadi akar pemasalahannya adalah krisis kesadaran yang melanda kebanyakan tenaga pendidik Indonesia.

Banyak ditemukan guru yang bergelar sarjana pendidikan, namun kesadaran profesionalitasnya rendah bahkan hilang. Guru hanya sampai pada tingkat kesadaran naïf, sebatas mengerti dan tahu, tetapi tidak mampu memetakan persoalan anak didik dan tidak menawarkan solusi.

Krisis kesadaran guru juga melanda pada wilayah kejujuran. Manusia dengan gelar sarjana pendidikan diimpikan sebagai manusia yang terdidik secara intelektual dan moralitas. Namun nilai- nilai kejujuran mengalami erosi tak terkendali saat mengabdikan diri di dunia kerja.  Pada gelaran UN dan USBN misalnya. Mereka menempuh berbagai macam cara untuk memperoleh nilai tinggi. Kecurangan dan perilaku ketidakjujuran ditempuh sekolah semata-mata untuk membangun citra sekolah dan meningkatkan daya tarik sekolah di masyarakat.

Krisis kesadaran akan kedisiplinan juga kita saksikan mewabah di dunia pendidikan kita. Peserta didik ditekan untuk disiplin dalam waktu, pakaian, tindakan, dan sebagainya. Namun di sisi lain, guru yang melanggar aturan. Kurang menghargai waktu, selalu menunda- nunda pekerjaan dan terkadang hanya menuntaskan tanggung jawab administrasi pembelajaran di saat pengawas akan datang memeriksa. Apa yang tertera di perangkat pembelajaran pun tidak terlaksana sepenuhnya di dalam kelas.

Beberapa krisis kesadaran di atas berefek pada hilangnya kesadaran akan pentingnya keteladanan. Guru kebanyakan fokus pada aspek kognitif yang bersifat kuantitatif saja. Mereka kadang lupa bahwa mendidik itu bukan tanggung jawab jangka pendek. Padahal mendidik adalah tanggung jawab yang berefek jangka panjang. Mendidik bukan sekadar mencapai target siswa mengatahui apa yang kita ajarkan, dan mampu mencapai standar nilai saat ujian. Lebih dari itu, anak didik adalah investasi masa depan.

Peran guru sangat strategis dalam membangun karakter dan melukis masa depan dan cita- cita generasi bangsa. Karakteristik guru yang ditampilkan sehari- hari di sekolah, akan terekam oleh memori jangka panjang peserta didik. Guru yang sering memarahi siswa dengan kata- kata yang kasar, menjatuhkan mental akan mempengaruhi kondisi kejiwaan mereka. Guru yang masa bodoh, malas-malasan, diskriminatif terhadap siswa, tidak rapi, menyepelekan perkara agama, sering konflik dengan rekan sesama guru, semua akan berimplikasi pada proses pembentukan karakter siswa.

Pepatah mengatakan “sapu yang kotor, tidak akan mampu membersihkan lantai yang kotor, tetapi justru akan menambah kotor.” Guru yang tidak memiliki kesadaran, akan sulit juga menyadarkan peserta didiknya.

Sebagai sarjana pendidikan dalam mengemban tugas sebagai pendidik tidak hanya melaksanakan proses transformasi ilmu (transfer of knowledge), akan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah transformasi nilai (transfer of value). Harus ada upaya meningkatkan kesadaran, dari kesadaran naïf menuju kasadaran kritis. Kesadaran yang mampu menganalisis persoalan peserta didik, menawarkan solusi, membangun relasi guru dan siswa yang bersifat multicommunication.

Tidak hanya sampai pada kesadaran kritis, seorang pendidik diharapkan mampu mencapai tingkat kesadaran transformatif, yaitu adanya keseimbangan antara ide, perkataan, dan tindakan yang progresif. Dengan internalisasi kesadaran dalam pribadi seorang pendidik, maka pada akhir prosesnya, pendidikan akan membebaskan manusia dari belenggu kebodohan, ketertindasan, dan kedzholiman. Serta pendidikan dapat menjadi alat untuk mengembalikan manusia pada fitrah penciptaannya.

Tetaplah optimis dan bergerak maju menyongsong masa depan pendidikan Indonesia. (Ed : Hmz/wrd)

Dibaca : 336 kali

0 Komentar