Kegiatan KUA Bontomarannu

Barazanji Dulu Baru Berangkat Umrah, Penyuluh KUA Bontomarannu : Semua Doa Ada di Dalam Kitab Ini

Proses pembacaan Barzanji di rumah warga

Bontomarannu (Humas Gowa). Masyarakat Bugis Makassar memiliki adat kebiasaan yang masih dipertahankan oleh sebagian dari mereka dengan Mabbarazanji (Membacakan Kitab Barazanji) pada acara hajatan.

Baik dalam acara perkawinan, aqikah, syukuran masuk rumah, bahkan sebelum berangkat menunaikan Umrah dan Haji sebagaimana yang diselenggarakan salah satu warga Borongloe, Jumat (21/10/2022).

Abd. Rasyid, Penyuluh Agama KUA Kec. Bontomarannu, menyampaikan maksud shahibul hajat dalam memanggil dirinya untuk membacakan kitab Barazanji.  "Mabbbarazanji adalah bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah karena bisa berangkat umrah bersama keluarga. Sekaligus mereka bersedakah kepada para tamu undangan agar ibadahnya ketika melaksanakan Umrah di Mekkah berjalan lancar, dimudahkan dan dalam keadaan sehat wal afiat tanpa ada hambatan," ulasnya.

Seperti diketahui bersama, nama Barzanji diambil dari nama pengarangnya yaitu Syekh Ja'far al-Barzanji bin Hasan bin Abdul Karim. Ia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj.

Karya tersebut sebenarnya berjudul 'Iqd al-Jawahir (Bahasa Arab, artinya Kalung Permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, meskipun kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Berzanji atau Barzanji ialah kumpulan doa-doa, pujian-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad saw yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada yang biasa dilantunkan ketika kelahiran, khitanan, pernikahan dan maulid Nabi Muhammad saw.

Abd. Rasyid menyampaikan ketika ditanyakan kenapa harus Barazanji bukan yang lain. "Semua doa-doa ada dalam kitab ini. Itumi mereka memanggil seorang pemuka agama untuk melantukannya," jawabnya kemudian. (iar/OH)


Daerah LAINNYA