12 April 2019
Muballigh: Syahwat Popularitas vs Misi Kekhalifahan

Muballigh: Syahwat Popularitas vs Misi Kekhalifahan

Oleh: Atifatul Mukarrama, S.Pd.

(Guru MTs. DDI Tarumpakkae)

Dakwah bagi ummat Islam sesungguhnya menjadi kewajiban yang menyeluruh. Ummat Islam yang dimaksud adalah yang termasuk dalam kategori (mukallaf) individu yang sudah bisa dikenai beban tanggung jawab dan (mumayyiz) individu yang telah mampu membedakan antara yang benar dan salah serta baik dan buruk.

Namun dalam kehidupan bermasyarakat, kewajiban berdakwah kemudian diperankan oleh para pengemban Risalah Nabi Muhammad saw, yakni para ulama, da’I, atau muballigh. Karena tugas menyampaikan risalah agama itu harus dilakukan secara tertib dan kontinyu, sehingga memerlukan keahlian dan pemahaman agama yang lebih baik disamping ketentuan- ketentuan yang lain.

Dakwah secara esensial bukan hanya berarti usaha mengajak masyarakat (mad’u) untuk beriman dan beribadah kepada Allah swt, tetapi juga menyadarkan manusia terhadap realitas hidup yang harus mereka hadapi dengan berdasarkan petunjuk Allah dan RasulNya. Jadi, dakwah dipahami sebagai seruan, ajakan, dan panggilan dalam rangka membangun masyarakat islami berdasarkan kebenaran islam yang hakiki.

Dalam menyampaikan pesan ajaran agama kepada masyarakat , seorang muballigh harus memiliki bekal ilmu pengetahuan keagamaan yang baik serta memiliki sifat-sifat kepemimpinan. Selain itu, muballigh juga dituntut untuk memahami situasi sosial yang sedang berlangsung. Ia harus memahami transformasi sosial baik secara kultural maupun sosial keagamaan. Transformasi antara lain berlangsung dalam bentuk transisi dari suatu masyarakat yang tertutup, sakral dan tunggal ke arah masyarakat yang terbuka dan plural.

Dunia muballigh adalah dunia popularitas. Kita bisa menyaksikan bagaimana sensasi para da’i dan ulama dalam menghegemoni proses transformasi sosio kultural masyarakat. Dengan berbagai macam metode pendekatan yang dilakukan, mereka terjun berdakwah di setiap event akbar di berbagai daerah. Bahkan tidak sedikit bagi mereka yang maju ke jalur politik melalui pencalonan diri sebagai anggota legislatif, pemerintah daerah, dan momentum politik yang lain dengan bekal popularitas sebagai seorang alim ulama yang dikenal publik.

Berkecimpung di dunia muballigh di era digital age ditambah tahun perhelatan politik memang syarat akan godaan duniawi. Banyak diantara mereka yang terlena dan menikmati popularitas. Tidak peduli calon yang menggandengnya berceramah dari panggung ke panggung adalah kriteria pemimpin yang baik atau tidak, yang penting adalah bagaimana mereka bisa eksis di dunia nyata maupun dunia maya. Menekan syahwat popularitas di zaman digital juga tidak mudah bagi para juru dakwah islam. Dunia media sosial dimanfaatkan untuk mendongkrak popularitas, dengan mengupdate status dakwah, video ceramah, foto selfie setiap ceramah di mana- mana, berlomba memperbanyak follower dengan beragam improvisasi yang diterapkan.

Pertanyaannya adalah, seberapa besar efektifitas pesan yang mereka sampaikan dalam memperbaiki tatanan kehidupan yang semakin kompleks dari hari ke hari. Atau mungkin ada erosi keikhlasan yang mengarah pada disorientasi dakwah. Ini yang berbahaya di kalangan muballigh, jika tugas sebagai penyampai risalah kenabian atas dasar misi kekhalifaan justru terkontaminasi dan tertekan oleh syahwat popularitas. Sehingga para muballigh mengarahkan ummat tidak diawali dengan pembacaan dinamika zaman secara detail, tetapi hanya menggunakan perasaan.

Sebagai seorang yang dituntut perannya dalam mengembangkan potensi fitrah fungsi kekhalifaan manusia dalam membentuk sistem kehidupan yang diridhai Allah swt, seorang muballigh sepatutnya memahami dinamika zaman. Objek dakwah adalah manusia yang senantiasa berubah karena aspek perubahan sosio kultural. Perubahan ini mengharuskan muballigh untuk selalu memahami dan memperhatikan kondisi dan problematika objek dakwah. Dalam hal ini, Nabi bersabda “hasibu al nas ‘alaa qadr uqulihim (berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kemampuan akalnya) (H.R.Muslim)”. Hal ini mengandung pengertian bahwa dakwah harus disesuaikan dengan konteks kehidupan masyarakat kekinian. Da’i harus mengembangkan pemikiran yang inovatif yang dapat mengubah kemapanan pemahaman agama dari literalisme ke arah kontekstualisme.

Seorang pendakwah tidak boleh hanya sekedar tampil konser di atas mimbar setiap momentum agar mereka dapat dikenal, eksis, dan memilih materi dakwah sesuai kehendak perasaannya saja. Pendakwah yang tidak berbasis pembacaan secara mendalam dan detail. Yang penting tampil, menyampaikan ayat dan hadis tanpa melalui proses pengkajian terlebih dahulu. Hal ini tidak akan memperbaiki tatanan kehidupan sebagaimana tujuan dakwah, akan tetapi justru menimbulkan situasi masyarakat yang agnostik. Dimana segala hal, disikapi dengan apriori.

Ibnu Mas’ud r.a mengatakan “Allah itu merahmati seseorang yang paham akan dinamika zamannya, maka jalan hidupnya itu lurus”. Dalam situasi kekinian, para muballigh dituntut benar-benar mampu menganalisis problematika ummat. Salah satu fenomena masa sekarang adalah terlalu banyak kegaduhan (noisy) di antara ummat. Noisy politik, noisy keagamaan, serta noisy media sosial.

Permasalahan ini harus mampu ditangkap secara empiris oleh mereka yang mengemban tugas sebagai pendakwah, pelanjut risalah Nabi sebagai pembawa misi kekhalifahan. Permasalahan dunia maya yang spektakuler tentu harus menjadi perhatian. Dalam dunia spektakuler, selalu menyisakan satu kesepian bagi manusia. Suatu suasana alienasi atau keterasingan. Mereka yang gaduh di media sosial, pada kenyataan sesungguhnya justru kesepian. Mereka yang terlihat harmonis di media sosial, aslinya justru berantakan. Bahkan, mereka yang terlihat alim dan paham agama di media sosial, justru kenyataan yang sesungguhnya sangat berseberangan. Inilah era revolusi industri, era digital yang mengkonstruksi dunia jadi-jadian.

Problematika tersebut mengancam tatanan kehidupan dan nilai-nilai keislaman masyarakat. Ummat Islam menjadi mudah diadu domba oleh media. Statement ulama yang satu dengan ulama yang lain diadu oleh media. Ummat pun sahut-sahutan tanpa basis pemahaman atas realitas yang sebenarnya.

Problematika di atas, hanya sebagian dari berbagai macam tantangan ummat Islam saat ini. Maka peran muballigh Islam sangat dibutuhkan untuk hadir menjadi aktor pencerah di tengah- tengah masyarakat. Menjawab realitas ummat, para muballigh diharapkan mampu melakukan engineering kesadaran. Muballigh harus lebih rajin membaca, baik membaca teks maupun konteks. Mereka harus mempertajam pisau bedah untuk menganalisis situasi dan isu strategis, isu global, isu keummatan, kemanusiaan, dan isu kebangsaan. Ummat saat ini tidak lagi terlalu membutuhkan motivasi, tetapi yang paling dibutuhkan adalah pemahaman akan apa yang sebenarnya terjadi, dan kemana mesti melangkahkan kaki. Perlu ada strategi atau momentum kontemplatif untuk merefleksi niat dan introspeksi pribadi secara terus menerus.

Ormas Islam atau organisasi dakwah yang membina atau mewadahi para muballigh mesti terus memformulasi konten, strategi, dan pendekatan dakwah. Begitu juga dengan lembaga pendidikan, perguruan tinggi pencetak ulama atau muballigh diharapkan untuk terus berbenah memperkaya referensi dan mendidik generasi muballigh yang well inform, well vision, dan Allah swt oriented. Bukan muballigh karbitan yang terorbit secara instan dan mudah terombang-ambing oleh arus popularitas yang membuat terlena akan hakekat mulia sebagai seorang penerus risalah kenabian.

Mari senantiasa mengontrol niat dan mengevaluasi diri sebagai insan yang diamanahkan tugas sebagai khalifatul fil ard (pemimpin di muka bumi).

Wallahu ‘Alam Bish-Shawaab...

Editor : hmz/wrd

Dibaca : 377 kali

0 Komentar