23 Agustus 2018
Ini Teks Khutbah  Idul Adha Dr. H. Mahmuddin, M.Ag

Ini Teks Khutbah Idul Adha Dr. H. Mahmuddin, M.Ag

Sinjai, (Inmas Sinjai) -- Kakankemenag Sinjai H.Abd Hafid dan Pj. Bupati Sinjai, H. Jufri Rahman Bersama dengan ribuan masyarakat Kabupaten Sinjai melaksanakan sholat Idul Adha (Ied) 1439 Hijriah tingkat Kabupaten Sinjai yang dipusatkan di Lapangan Sinjai Bersatu, Rabu (22/8

Adapun khatib yang akan membawakan khotbah pada Hari Raya Idul Adha ini adalah DR. H. Mahmuddin M,Ag, Wakil Dekan II Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Alaluddin Makassar, berikut Khutbah Idul Adha Dr. H. Mahmuddin, M.Ag selengkap nya 

IDUL ADHA DALAM SEJARAH DAN 
KETAATAN 

Salam dan berkat allah dan berkat-nya
Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Besar
Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Besar
Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Besar
Allah adalah orang-orang yang beriman dan bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di dalamnya. Saya bersaksi bahwa hanya allah yang Maha Esa Lagi Maha Mengetahui.

Di pagi hari yang penuh barokah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Baru saja kita laksanakan ruku’ dan sujud sebagai manifestasi perasaan taqwa kita kepada Allah SWT. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti. Tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang patut di sembah kecuali Allah.
Karena itu, campakkan jauh-jauh sifat keangkuhan dan kecongkakan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Sebab apapun kebesaran yang kita sandang, kita kecil di hadapan Allah. Betapapun perkasanya kita, masih lemah di hadapan Allah Yang Maha Kuat. Betapapun hebatnya kekuasaan dan pengaruh kita, kita tidak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya. 

Tenri sedding assisellengenna essoe nawennie, tajangnge na’ pettangnge, pella’e nakecce’e, mancajiwi bukti nanniya papparingerang ri’ idi umma sellengnge makkeda riwettu tuota sewwa wettu matti napoleiki amateng, riwettu magalatta engka wettu napoleiki lasa, riwettu malolota sewwa wettu napoleiki atowangeng. Wettu masagenata sewwa wettu napoleiki akasi-asingeng.

Ibadah haji adalah ibadah tertua bagi umat manusia dan ka’bah merupakan bangunan suci pertama di muka bumi ini. Lihat QS. Ali Imran (3: 96) 

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Konon sewaktu Nabi Adam diusir dari surga dengan segala kesedihannya, ada satu yang paling disedihkan, bahwa ia tidak lagi secara spiritual bisa mengikuti ibadahnya para Malaikat. Yaitu, berkeliling mengitari Singgasana Allah (‘Arasy). Kemudian menurut cerita itu, Adam dihibur oleh Allah dengan dibolehkannya membuat Ka’bah sebagai tiruan ‘Arasy (Singgasana Allah) dan di tempat itulah Nabi Adam melakukan ritual mengelilingi Ka’bah, yang dinamakan thawaf.


Thawaf adalah cara ibadah menirukan Malaikat mengelilingi Arasy dan ternyata seluruh mahluk makrokosmos surya, juga melakukan tawaf yang sama. Misalnya, bulan dan bumi bertawaf mengelilingi mata hari dan mata hari beserta seluruh fosil familinya juga bertawaf mengelilingi pusat galaksi, mereka semua dengan setia menyembah Allah.
Thowaf mengelilingi ka’bah tujuh kali putaran adalah perlambang kedekatan manusia dengan Sang Khaliq. Begitu harunya jiwa manusia ketika lebur mendekatkan diri pada Baitullah, seolah kedirian manusia hilang ditelan kebesaran-Nya. Thowaf dapat diartikan hilangnya diri terhanyut dalam pusaran Energi keilahiyan yang tak terkira. Thowaf adalah simbol hablum minallah yang hakiki, bahkan lebih dari itu. 

Namun demikian, kita jumpai jamaah kita, ketika tawaf, mereka asik berfoto-foto, ambil gambar, selfi-selfi, lalu diaplod di WA, di Line, di BBM dan semacamnya, mereka juga asik berdiskusi dengan temannya, dan bahkan ada yang menertawakan perilaku manusia dari bangsa lain. Jika thowaf menggambarkan hubungan dan kemanunggalan manusia dengan Sang Khaliq, maka sa’i menunjukkan bahwa kehidupan haruslah dijalani sesuai dengan hukum kemanusiaan. Bukan justeru semakin banyak musuh, semakin sombong, sebab ia sudah haji, sudah dijamin masuk syurga. Semuanya itu belum, walaupun selama di tanah suci ia sudah bersihkan segala dosanya yang lalu, tetapi belum tentu dihapus dosanya yang akan datang.


Tuhan Maha Besar Dan Tuhan, terima kasih
Dalam kehidupan sehari-hari manusia senantiasa menjalankan fungsi tawaf, orang-orang yang bertawaf di atas rel-rel yang benar, mereka itulah disebut orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus, jalan yang penuh kenikmatan, al-siratal mustaqim. .
Orang yang menyimpang dari rel siratal mustaqim, berarti nurani dalam hati mereka berangsur-angsur pudar diganti dengan hati dzulmani yang gelap gulita, cermin batin mereka gelap, membuatnya tidak mampu lagi menangkap Nur Cahaya Ilahi, cermin sosial mereka buang, membuatnya terpinggirkan dalam kehidupan dunia, hati mereka tidak lagi tergetar menyaksikan penderitaan dan kepedihan kaum duafa’.

Selain itu simbolisme dalam ibadah haji juga melekat pada Ka’bah Baitullah. Di sana ada hijir Ismail yang berarti ‘pangkuan Ismail’. Di sanalah seorang Ismail putera Ibrahim yang membangun Ka’bah pernah berada dalam pangkuan sang Ibu Hajar, seorang wanita hitam yang miskin juga seorang budak. Dengan ini Allah swt membuktikan bahwa seorang hamba pun dapat dimuliakannya dengan memposisikan kuburnya di samping ka’bah baitullah. Itu semua karena ketaqwaannya. Ketaqwaan Ibu Hajar yang mampu berhijrah menuju kebaikan dan kemuliaan.


Sedangkan padang Arafah sebagai tempat para haji menunaikan wuquf merupakan ruang luas yang terhampar untuk memasak diri seorang muslim hingga ia mengenal siapa jati dirinya sebagai manusia. Arafah adalah ruang berintrospeksi diri, siapa, dari mana sosok diri itu dan hendak kemana nantinya. 

Di padang Arapahlah kita diajak untuk berdoa. Bertobat dari segala dosa yang telah kita lalukan, Mendoakan keluarga, mendoakan guru-guru kita, mendoakan tetangga, mendoakan orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita, dan bahkan mendoakan orang-orang yang berbuat jahat kepada kita sekalipun, inilah doa yang paling dahsyat bila kita mampu mendoakan kebaikan kepada orang yang telah berbuat salah kepada kita, bagaimanapun bentuknya, di padang Arapahlah kita tuangkan semuanya, sehingga kita betul-betul suci bersih dari dosa ketika kita pulang ke tanah air.
Jadi, narekko engka seddi hajji, de’ naisseng-I alena, maka riaseng-I hajji kaindi-indi’, hajji polemi bawang ri Mekka, hajji karonjo-ronjo. Narimakkoannaro idi’ hajji-E, tapidecengi laloi ampe kedota, nasaba’ de’ naiya maneng taue ripuwere menre di Mekka, punnai kesempatan lao ri Mekka lollo’I dosana’.


Dari Arafah menuju Muzdalifah guna mempersiapkan diri dan mempersenjatainya melawan syaithan yang akan dihadapi nanti di Mina. Manusia haruslah selalu waspada bahwa syaitan ada dimana-mana. Karena itulah senjata pemusnahnya tidaklah sesuatu yang besar dan menakutkan. Tetapi cukup dengan kerikil yang kecil sebagai simbol atas kesabaran dan keteguhan hati.
Tuhan Maha Besar Dan Tuhan, terima kasih
Maega tau narekko riujiwi sibawa akasi-asingeng, apeddireng. Simata matinulu’i ruku’, sujud lao ri-Puang Allah ta’ala. De’gaga wettunna nasia-siakan simata tuli napegau’i nassurong’nge nenninya naniniriwi nappesengkang’nge. Naekia, maegato tau narekko ricobai sibawa asogireng waramparang, iyarega jabatan, iyarega kekuasaan, pede menceng kedona. De’na nassekke, de’na nassempajang, cani’ de’naitai masigie. Massekke’si de’si na-ikhlas, makkarobasi iyyasi kaminang maiccu’e, massempaja’si pappadami billa takkajo’e.

“Allah berfirman dalam QS. Al-Kautsar: 1 – 2”. 
Aku memberimu pengaruh. Pemisahan Tuhanmu dan dibantai
Bettuangna:
"Majeppu Puang Allah ta’ala, maega ladde’ nawerekki fappenyameng, narimakkuanna naro fatettong’ngi sempajang’nge nakarana Puang-mu, enreng’nge akkorobako”. 
Nasaba iyyaro akkarobang’nge mancajiwi seddi bukti, akan kedekatan kita kepada Allah Swt dengan kedekatan kita terhadap sesama manusia, sebagai wujud dari “hablum minallah, wa hablum minan-nas” . 
Taperhatikang laloi adanna nabitta Muhammad saw. makkada’e: “nigi-nigi tau naonro’i asagenangeng nade’ nakkaroba aja’ lalo muaddepperi onrong allepereng’nge. 
Nabi Ismail as., simbol bagi sesuatu yang paling kita cintai, sekaligus berpotensi menggoyahkan iman, sesuatu yang dapat membuat kita enggan menerima tanggung jawab. Simbol bagi sesuatu yang dapat mengajak kita untuk berpikir subyektif dan berpendirian egois. Tegasnya simbol bagi segala sesuatu yang dapat menyesatkan kita. Sepantasnya kita mengintrospeksi dan mengukur diri kita masing-masing pada saat ini, apakah jejak-jejak pengorbanan Nabi Ibrahim as. Terpatri di dalam jiwa kita? Sudahkan kita menjalankan pengorbanan optimal ke jalan yang diredhai-Nya? Apakah hati kita tergetar menyaksikan berbagai musibah yang telah menimpa umat manusia? Misalnya: Banjir, gempa bumi di Lombok Utara, longsor, kerusuhan, unjuk rasa dll yang telah menjadi langganan bagi setiap daerah di wilayah Indonesia. Jika kita misalnya berada di puncak karir, sudah relakah kita mengorbankan segalanya demi mempertahankan prinsip-prinsip ajaran yang kita anut? Ataukah kita sudah dapat menolak pemberian yang sesungguhnya bukan hak kita? Nabi Ismail sebagai sesuatu yang amat kita cintai sudah barang tentu kita semua memilih sesuatu yang dicintai, boleh jadi, ismail-ismail kita beruba wujud berupa harta kekayaan, seperti kendaraan mewah, rumah mewah, deposito yang banyak, jabatan penting, atau properti atau kekayaan lain. Apakah kita sudah rela mengorbankan ismail-ismail itu mencapai tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu mencapai redha Allah Swt. Jika kita sebagai suami, sudah sanggupkah kita meniru ketangguhan iman Nabi Ibrahim as? Mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi menjalankan perintah Allah Swt. Jika kita sebagai isteri, sudah sanggupkah kita meniru ketabahan dan ketaatan St. Hajar, merelakan suaminya menjalankan perintah Allah swt. dan menghargai jiwa besar anaknya. Jika kita sebagai anak, sudahkan kita memiliki idealisme yang tangguh seperti Nabi Ismail, rela menjadi qurban suatu tujuan yang lebih mulia? 
Lalu! Siapa atau apa yang menjadi Ismail kita sekarang? Jabatankah, kehormatan, atau profesi kita? Tabungan kita, rumah, kendaraan, keluarga kita, pakaian kita atau bahkan diri kita sendiri? Yang harus kita kurbankan adalah segala sesuatu yang melemahkan iman kita dan meghalangi kita untuk mendengarkan, mengamalkan dan berpihak kepada Allah. Perayaan Idul Qurban adalah mementum penyadaran atas ego dan kecintaan kita terhadap dunia. Kita kembalikan semuanya kepada Allah, sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kepada-Nya kita semua kembali.

Tuhan memberkati saya dan kepada anda dalam al-Quran yang besar dan nfʿny dan betapa hebatnya kamu dan orang-orang bijak.
Mari kita berdoa :

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa guru-guru kami, dosa saudara-saudara kami, dosa orang-orang yang telah berbuat jahat kepada kami, dan dosa kaum Muslimin semua, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Ya Allah, hanya kepada-Mu, kami mengabdi. Hanya kepada-Mu, kami shalat dan sujud. Hanya kepada-Mu, kami tunduk. Kami mengharapkan rahmat dan kasih sayang-Mu. Kami takut azab-Mu, karena azab-Mu sangatlah pedih. 

Ya Allah, Engkau yang menyelamatkan nabi Nuh dari taufan badai dan banjir yang menenggelamkan dunia, Engkau yang menyelamatkan nabi Ibrahim dari kobaran api yang menyala, Engkau yang menyelamatkan Isa dari salib kaum durjana, Engkau yang menyelamatkan Yunus dari gelapnya perut ikan, Engkau yang menyelamatkan Nabi Muhammad dari makar kafir Quraisy, 

Ya Allah, yang mendengar rintihan hamba yang lemah dan banyak dosa. Ya Allah, lindungi kami, masyarakat kami, pemimpin-pemimpin kami dan anak-anak kami dari berbuat dosa dan godaan Setan. Jangan segera Engkau lenyapkan hari yang suci ini. Berikanlah waktu kepada kami. 
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang sedang dilanda kesedihan, dan musibah, para janda, anak-anak yatim, kaum lemah, dan para fakir-miskin. Sembuhkan yang sakit. Anugerahkan kebahagiaan kepada mereka. Siramilah mereka dengan rizki yang melimpah dari sisi-Mu yang penuh berkah. Kami lemah tak begitu berdaya membantu dan menyantuni mereka. Ampuni kami, ya Allah.

Ya Allah, lepaskanlah dan jauhkanlah dari kami penguasa-penguasa zhalim, fasik, dan kafir. Anugerahkan kepada kami pemimpin-pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur dan amanah, yang menjadikan Kitab-Mu sebagai landasan kepemimpinannya, menerapkan syariat-Mu, dan membawa kami ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhai.
Ya Allah, selamatkanlah kami, anak-anak kami, keluarga kami, daerah kami, pemimpin kami, negeri kami, dan umat kami dari badai krisis, fitnah, bencana, dan dosa yang membinasakan.

Ya Allah, janganlah Engkau goyangkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk dan tetapkan hati kami di atas agama-Mu.

Ya Allah, jadikanlah hari terbaik kami sebagai hari pertemuan kami dengan-Mu, jadikanlah amal terbaik kami sebagai pamungkasnya, dan jadikan usia terbaik kami sebagai akhir ajal kami. Ya Allah, limpahkanlah rahmat, ampunan, dan hidayah-Mu kepada kami semuanya. Aamiin.. aamiin ya Rabbal ‘alamin. 
Tuhan kita adalah orang-orang yang baik dan di akhirat dengan baik dan di atas siksa api
Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Besar
Tidak ada yang lain selain allah, Tuhan yang lebih besar dan orang-orang yang
Dan Terima kasih Tuhan Tuhan alam semesta
Dan Semoga Allah dan berkat-Berkat-mu
(dan sesungguhnya kamu benar-benar orang-orang yang beriman).

Dibaca : 1939 kali

0 Komentar