HAB 77 di Kemenag Gowa

Gemuruh Tanah Longsor, Peserta Zikir dan Doa Gebyar HAB di Parangloe Panik

Warga tampak berlarian di teras mesjid

Parangloe (Humas Gowa). Suasana hikmad zikir dan do'a dalam rangka Gebyar Hari Amal Bhakti Kementerian Agama d Parangloe tepatnya Masjid Nurul Halal, dikagetkan dengan gemuruh tanah longsor dan angin kencang, Sabtu (24/12/2022).

Kegiatan yang diprakarsai KUA Kecamatan Parangloe bersama stakeholder, BKMT dan Majelis Taklim Desa Lonjoboko itu pun akhirnya ditutup oleh panitia karena peserta zikir panik memikirkan anggota keluarga yang berada di rumah.

Sebelumnya, walaupun diwarnai hujan lebat dan angin kecang, yang tentunya menimbulkan banjir di beberapa ruas jalan di Parangloe tak menyurutkan tekad para  tokoh dan Penyuluh Agama KUA Parangloe untuk melanjutkan misinya menjadi pelopor dalam masyarakat hadir di mesjid.

Beberapa saat kemudian saat para peserta yang sedang khusyuk bersholawat, berdzikir dan berdoa di dalam mesjid, suara gemuruh itu sontak membuat peserta zikir berhamburan keluar masjid penuh kepanikan.

Suasana mencekam terjadi saat beberapa warga yang ikut dalam majelis itu histeris mendapati kabar rumahnya sudah rata dengan tanah dan kemungkinan terdapat korban luka dan korban jiwa dalam tragedi itu.

Diperkirakan saat hujan, beberapa warga kebanyakan berdiam dirumah masing-masing. "Qadarullah ikutka zikir disini,  seandainya tidak ikutka dengan keluargaku mungkin tertimbunma longsor bersama disana," ujar Dg. Pine salah seorang warga yang beryukur ikut berzikir bersama keluarganya di masjid.

"Semua sudah diatur oleh Allah SWT, maka kita serahkan hidup dan mati kita kepada sang Pencipta, tidak perlu kita sesali. Kita hanya diwajibkan berzikir, berdoa dan berusaha serta bersyukur serta sabar atas ketentuan sang Pencipta," tutur Rostina salah seorang penyuluh saat mencoba menenangkan warga yang histeris karena keberadaan keluarganya belum diketahui.

Beberapa penyuluh tidak bisa menembus lokasi zikir karena akses jalan terputus, salah satunya adalah Mardhiyah. "Berjam-jam kami tunggu pete-pete tapi ndak ada, terpaksa pulang padahal persiapan zikir sudah sangat matang," sesal Mardhiyah.

Setelah acara dinyatakan tutup, penyuluh dan warga menuju lokasi longsor ada pula yang pulang dengan meninggalkan kendaraannya di masjid. Dikarenakan akses jalan hanya bisa ditembus dengan berjalan kaki.

Kepala KUA, Muhiddin turut menghaturkan ucapan duka. Ia mengatakan bahwasanya kita harus selalu waspada di musim pancaroba baik dengan bencana alam dan berbagai penyakit yang ditimbulkannya.

"Parangloe berduka lagi. Namun dalam beraktifitas janganlah kita lupa berdoa dan berdzikir, karna syukur dan sabar adalah obat dari segala ujian yang Allah berikan kepada kita," tutup Aisyah Dg Ni'ning, salah satu peyuluh.(asmi/OH)


Daerah LAINNYA