Pendidikan Agama Islam Bagi Anak Usia Dini

Pendidikan Agama Islam Bagi Anak Usia Dini

Anak usia dini merupakan individu yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan berkaitan dengan bagian tubuh yang dapat diukur seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Perkembangan adalah perubahan yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Anak usia dini merupakan waktu yang tepat untuk meletakkan dasar bagi perkembangan keterampilan fisik, bahasa, emosi sosial, pemahaman diri, seni moral, dan nilai-nilai agama.[1] Oleh karena itu, anak mempunyai potensi yang besar untuk mengoptimalkan perkembangannya. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai hubungan yang sangat erat. Segala aspek perkembangan anak harus berkembang secara maksimal karena aspek yang satu dan aspek lainnya saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.[2]

Pendidikan mencakup proses kehidupan mengembangkan seseorang untuk mencapai potensi optimalnya. Pendidikan anak usia dini seharusnya menjadi proses pertumbuhan dan perkembangan pertama sebelum seseorang menjadi dewasa. Pendidikan anak usia dini adalah tentang mengajar, mendorong dan menstimulasi anak untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuannya. Selain itu, anak kecil harus mempunyai hak atas pendidikan, perawatan, disiplin, kesehatan dan gizi.[3] Dimana tujuan dari pendidikan bagi anak usia dini yaitu membantu menerapkan dan mengembangkan sikap dasar, perilaku, pengakuan, keterampilan, dan kreativitas yang nantinya nantinya akan diperlukan anak untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

Bagian penting yang perlu mendapat perhatian dalam konteks pendidikan anak usia dini adalah pengajaran nilai-nilai agama Islam. Pembentukan nilai-nilai keagamaan dikaitkan dengan kemauan untuk mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Anak harus mendapat pembinaan dan bimbingan yang tepat untuk memahami nilai-nilai agama sejak usia dini. Kegiatan keagamaan pada anak usia dini mengacu pada doa, ibadah, dan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama.[4] Kelebihan kegiatan keagamaan pada anak usia dini adalah kelak anak menjadi orang yang taat beragama dan bertindak sesuai dengan ajaran agama. Jika anak terus dididik dengan cara yang tidak tepat, maka ia akan tumbuh menjadi kurang memiliki minat terhadap kehidupan beragama dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan agama pada anak usia dini mencakup nilai-nilai yang menyucikan jiwa spiritual, nilai-nilai moral, dan nilai-nilai yang meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Secara umum tujuan pembinaan nilai-nilai agama pada anak adalah untuk memberikan landasan keimanan: ketaqwaan kepada Tuhan, akhlak yang baik, kompetensi, rasa percaya diri, dan kemauan hidup bermasyarakat serta hidup mengakui Tuhan Mahakuasa. Tujuan khusus pengembangan nilai keagamaan anak prasekolah yaitu yaitu 1) mengembangkan rasa iman dan cinta terhadap Tuhan; 2) membiasakan anak agar melakukan ibadah kepada Tuhan; 3) membiasakan perilaku yang didasari nilai agama; 4) membantu anak supaya memiliki kepribadian yang beriman dan bertakwa pada Tuhan.[5]

Ada tiga tahapan perkembangan keagamaan pada anak yaitu 1) The Fairy Tale Stage. Ketika anak berusia 0-6 tahun anak berpikir bahwa Tuhan dan malaikat dianggap sebagai sosok besar raksasa dan bersayap atau anggapan lainnya. Hal ini berkaitan dengan dunia imajinasinya. 2) The Realistic Stage. Tahap ini dimulai pada usia 6-12 tahun, yang beranggapan bahwa agama bersifat konkrit. Malaikat dan nabi adalah suatu yang benar adanya seperti manusia yang bisa melihat dan mengawasi. 3) The Individual Stage. Tahap ini dimulai pada usia 13-18 tahun, yang terdiri dari tahap kolot, misted, dan simbol. Selain itu, individu mulai bisa berpikir kritis mengenai sesuatu yang kurang tepat. Individu dapat diajak berdiskusi dan berbicara dengan baik. [6]

Standar pencapaian nilai keagamaan anak prasekolah yaitu 1) Usia 2-3 tahun. Pengenalan agama dapat diajarkan melalui nyanyian lagu dan tepuk tangan terkait agama yang diajarkan. Selain itu mulai mengenalkan doa-doa, sikap berdoa, mengenal sifat Tuhan, serta salam. 2) Usia 3-4 tahun. Anak mulai mengikuti bacaan dengan bernyanyi dan bertepuk tangan, menirukan gerakan beribadah, menghormati orangtua, guru dan orang di sekitarnya. 3) Usia 4-5 tahun. Anak mampu bernyanyi, bertepuk tangan, mulai menghafal doa pendek, berdoa untuk kegiatan, mulai menghafal doa dan gerakan ibadah, mengucap salam dan mengungkapkan terima kasih. 4) Usia 5-6 tahun. Anak mulai menguasai tahapan proses sebelumnya, anak lebih matang dalam menghafal doa dan melaksanakan aktivitas penanaman nilai-nilai agama anak usia dini.[7]

Tahapan perkembangan nilai keagamaan pada anak usia dini yaitu 1) Unreflective. Kemampuan pemahaman anak dalam mempelajari nilai keagamaan anak masih sebatas mengenalkan. Pemahaman mengenai keagamaan sehingga belum mendalam. Hal ini dapat dilihat pada saat kegiatan keagamaan yang masih bersikap dan bersifat kekanak-kanakan misalkan bercanda dan kegiatan main-main lainnya. 2) Egosentris. Egosetris memiliki arti bahwa individu lebih mementingkan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan orang lain/ Sama halnya dengan sifat anak usia dini, anak masih sering berubah-ubah, anak belum mampu bersikap konsisten. Misalkan pada suatu waktu anak rajin dalam melaksanakan kegiatan keagamaan, tetapi pada suatu waktu anak bisa jadi menjadi malas untuk melakukan kegiatan keagamaan tersebut.[8]

3) Misunderstand. Tahap ini dilandasi dengan belum sempurnanya psikologis dan fisiologis yang menyebabkan banyak hal yang belum bisa ditangkap oleh anak, dan menyebabkan salah persepsi (misperception) ketika mereka belajar memahami makna dari sebuah ajaran atau pengetahuan agama yang masih bersifat abstrak bagia anak usia dini. 4) Verbalis dan Ritualis. Tahap ini menjelaskan bahwa pemahaman anak tentang nilai keagamaan dimulai pada saat anak mengerti bahasa. Dengan demikian, pada tahap ini dalam agama Islam anak mulai dikenalkan dengan ritual keagamaan misalnya kegiatan shalat, hafalan doa, hafalan surat pendek, nama malaikat dan lainnya. Anak akan mempelajari hal tersebut melalui keteladanan, pengalaman, dan pembiasaan. 5) Imitatif. Pada tahap imitatif, anak bersifat imitasi atau meniru kegiatan-kegiatan ritual keagamaan. Misalnya dalam keagamaan Islam yaitu kegitana sholat, kegiatan berpuasa, kegiatan berwudhu, membaca iqro dan lain sebagainya. Dengan demikian lingkungan memberi pengaruh besar dalam pembelajaran keagamaan yaitu pemberian contoh pembiasaan yang baik untuk anak.[9]

Pendidikan nilai-nilai agama Islam bagi anak usia dini merupakan upaya membimbing, mendorong dan menggugah anak agar memperoleh sifat dan sifat keislaman sejak usia dini. Tujuan pendidikan agama Islam sejak dini adalah untuk meletakkan dasar bagi pendidikan agama Islam dan menjadi pribadi yang beribadah dan taat pada anjuran Islam. Mengajarkan agama Islam kepada anak dapat dilakukan melalui pembiasaan dan keteladanan secara terus menerus. Oleh karena itu, guru dan orang tua harus selalu berusaha menanamkan kebiasaan dan keteladanan yang baik pada anak. Keberhasilan pengajaran agama Islam pada anak usia dini di sekolah dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti prinsip kerja, metode kegiatan, dan strategi pembelajaran agama Islam. (Juhannah)

REFERENSI

Ardiansari, Bina Fitriah, dan Dimyati. “Identifikasi Nilai Agama Islam Pada Anak Usia Dini.” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6, no. 1 (2022): 420–33.

Fadlillah, M. Buku Ajar Konsep Dasar PAUD. Yogyakarta: Samudra Biru, 2020.

Harahap, Ernawati. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Islam. Pekalongan: Nasya Expanding Manajemen, 2022.

Herawati, Cut Intan Hayati, dan M Salman. “Perkembangan Jiwa Agama Pada Masa Anak-Anak.” Journal of Education Science 7, no. 2 (2021): 99–118.

Hernadianto, Putri Oktafiani, dan Yusmaniarti. “Penguatan Karakter Anak Sejak Dini Melalui Penyuluhan Hukum Dan Bimbingan Keagamaan.” Jurnal Pengabdian Kolaborasi Dan Inovasi IPTEKS 1, no. 2 (2023): 164–68.

Istiqlaliyah, Haulailah. “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini.” Jurnal Ilmu Kependidikan Dan Keislaman 11, no. 1 (2023): 335–52.

Widyastuti, Ana. 77 Permasalahan Anak Dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2020.

Windayani, et. al. Teori Dan Aplikasi Pendidikan Anak Usia Dini. Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, 2021.

[1]Ni Luh Ika Windayani et al., Teori Dan Aplikasi Pendidikan Anak Usia Dini (Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, 2021), h. 16.

[2]Ernawati Harahap, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Islam (Pekalongan: Nasya Expanding Manajemen, 2022), h. 486.

[3]M Fadlillah, Buku Ajar Konsep Dasar PAUD (Yogyakarta: Samudra Biru, 2020), h. 7.

[4]Bina Fitriah Ardiansari dan Dimyati, “Identifikasi Nilai Agama Islam Pada Anak Usia Dini,” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6, no. 1 (2022): 420–33, h. 421.

[5]Ana Widyastuti, 77 Permasalahan Anak Dan Cara Mengatasinya (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2020), h. 30.

[6]Haulailah Istiqlaliyah, “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini,” Jurnal Ilmu Kependidikan Dan Keislaman 11, no. 1 (2023): 335–52, h. 341.

[7]Hernadianto, Putri Oktafiani, dan Yusmaniarti, “Penguatan Karakter Anak Sejak Dini Melalui Penyuluhan Hukum Dan Bimbingan Keagamaan,” Jurnal Pengabdian Kolaborasi Dan Inovasi IPTEKS 1, no. 2 (2023): 164–68, h. 167.

[8]Herawati, Cut Intan Hayati, dan M Salman, “Perkembangan Jiwa Agama Pada Masa Anak-Anak,” Journal of Education Science 7, no. 2 (2021): 99–118, h. 111.

[9]Herawati, Cut Intan Hayati, dan M Salman, “Perkembangan Jiwa Agama Pada Masa Anak-Anak, h. 113.


Opini LAINNYA

Memetik Makna Haji 

Judi Online, Hiburan Pembawa Petaka

Berada di Tengah Itu Asyik

Cara Mengurus Produser Nikah

HAB Asasi Manusia