Gemuruh Lapangan Merdeka: Ratusan Supporter Larut Dalam Keseruan Final Voli HAB 80 Sulsel
Kontributor
Bone (Kemenag Sinjai) — Riuh rendah suara tabuhan bass dan snare drum dari tim marching band peserta didik madrasah asal Sinjai membelah keheningan malam di Lapangan Merdeka Bone, Jumat (9/1/2026). Di bawah lampu lapangan yang terang benderang, Tim Voli Guru/Karyawan Kemenag Sinjai menyajikan laga final yang menguras mental dan fisik melawan rival kuat, Kemenag Luwu, dalam rangka memeriahkan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama RI tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Setelah menang atas Tim Kemenag Pangkep di babak semi final pada sore harinya, Tim Sinjai harus berpindah arena dari MAN 2 Bone ke jantung kota untuk laga puncak. Pertandingan final ini tidak hanya sekadar perebutan juara, tetapi menjadi panggung adu gengsi sekaligus ajang perekat silaturahmi yang luar biasa di hadapan ratusan penonton yang memadati tribun dan pinggir lapangan.
Kemenag Sinjai sempat membuka asa besar setelah berhasil mencuri keunggulan di set pertama dengan permainan yang solid dan serangan tajam. Namun, Kemenag Luwu memberikan perlawanan sengit di set kedua hingga kedudukan menjadi imbang. Pada babak penentuan (long set), tensi pertandingan semakin memuncak. Meski telah berjuang habis-habisan, Kemenag Sinjai harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 1:2.
Suasana di pinggir lapangan tak kalah panas dari jalannya laga. Supporter Kemenag Sinjai dan Luwu saling bersahut-sahutan meneriakkan nama kabupaten masing-masing. Kehadiran tim marching band siswa madrasah Sinjai menjadi “bahan bakar” tambahan bagi para atlet yang mulai kelelahan.
Semangat para pemain semakin berlipat saat para pejabat Kemenag Sinjai turun langsung memberikan suntikan moral. Laga final ini terasa semakin prestisius dengan kehadiran Kakanwil Kemenag Sulsel, H. Ali Yafid, yang turut menyaksikan partai puncak tersebut.
Kepala Kantor Kemenag Sinjai, H. Faried Wajedi, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya meskipun timnya keluar sebagai runner-up. Ia menekankan bahwa nilai tertinggi dari pertandingan malam itu bukanlah skor, melainkan etika bertanding.
“Saya sangat bangga dan mengapresiasi tinggi perjuangan seluruh atlet. Mereka tidak hanya bertarung dengan fisik, tapi dengan hati dan sportivitas yang luar biasa. Kalah atau menang itu biasa dalam kompetisi, namun menunjukkan sikap saling menghargai di lapangan adalah kemenangan karakter yang sesungguhnya bagi Kemenag Sinjai,” ujarnya.
Andi Kahar, salah satu atlet andalan Kemenag Sinjai, mengungkapkan perasaannya usai laga.
“Secara hasil, jujur ada rasa kurang puas karena kita sudah sangat dekat dengan kemenangan. Tapi inilah olahraga, kita harus berbesar hati. Yang terpenting, malam ini kami menang dalam hal kebersamaan,” ungkapnya.
Meski gelar juara pertama belum jatuh ke tangan Sinjai, semangat kebersamaan dan kerukunan antar-insan Kemenag sangat terasa sepanjang perayaan HAB ke-80 ini. Turnamen ini sukses menjadi wadah untuk melepas penat di tengah rutinitas kerja serta mempererat ukhuwah.
Kekalahan di papan skor malam itu tertutup oleh senyum dan tawa saat para pemain dari kedua tim bersalaman dan berfoto bersama, membuktikan bahwa di bawah naungan Kementerian Agama, kerukunan adalah juara sejati di atas segalanya. (SR)