H. Suharto: Nilai AG. Ambo Dalle Jadi Ruh Kurikulum Berbasis Cinta Dan Deep Learning Di Madrasah
Kontributor
Lerang, (Kemenag Pinrang)— Ketua MGMP Madrasah Aliyah (MA) Kabupaten Pinrang, H. Suharto, menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta dan Deep Learning merupakan dua pendekatan yang saling menguatkan dalam membangun karakter dan kompetensi siswa madrasah. Keduanya, kata dia, berakar dari nilai-nilai kasih dan ketulusan yang diajarkan oleh Alm. AG. KH. Ambo Dalle.
Dalam wawancara bersama Humas Kementerian Agama Kabupaten Pinrang, H. Suharto menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta bukan gagasan baru. Nilai-nilai kasih, akhlak, dan keikhlasan telah lama menjadi ciri khas pendidikan Islam, sebagaimana diajarkan oleh Alm. AG. KH. Ambo Dalle, ulama besar Sulawesi Selatan yang menekankan pentingnya mengajar dengan hati.
“Kurikulum berbasis cinta ini bukan hal baru. Sudah lama diterapkan oleh pendahulu-pendahulu kita, khususnya AG. KH. Ambo Dalle. Beliau menanamkan pendidikan yang menumbuhkan kasih, akhlak, dan hati dalam setiap proses belajar,” ujar H. Suharto kepada Humas Kemenag Pinrang.
Menurut H. Suharto, Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta bukan dua hal yang terpisah. Deep Learning memberi kedalaman pemahaman, sementara Kurikulum Cinta menanamkan ruh dan nilai kemanusiaan dalam setiap proses belajar.
“Kurikulum Berbasis Cinta adalah fondasi nilai, sedangkan Deep Learning adalah metodenya. Keduanya berpadu untuk melahirkan siswa hebat yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan berhati baik,” jelasnya.
Lebih lanjut, H. Suharto menuturkan bahwa ukuran kehebatan siswa bukan hanya pada prestasi akademik. Dalam Kurikulum Berbasis Cinta, siswa hebat adalah mereka yang mampu menggabungkan ilmu, akhlak, dan empati dalam kehidupan sehari-hari.
“Siswa hebat bukan hanya yang berprestasi, tetapi juga yang berperilaku baik, menghormati guru dan orang tua, serta berguna bagi sesama,” ujarnya. Menurutnya, pembelajaran dengan cinta akan menumbuhkan ketenangan batin, semangat belajar, dan ketangguhan menghadapi tantangan zaman. H. Suharto berharap pendekatan Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta dapat menjadi gerakan bersama guru madrasah untuk membangun generasi yang utuh — cerdas dalam logika, kaya dalam jiwa, dan luhur dalam akhlak.
“Saya berharap pendidikan kita bukan hanya menghasilkan manusia yang pintar dalam logika, tetapi juga hebat dalam rasa, kaya dalam jiwa, dan luhur dalam akhlak. Pendidikan yang ditanam dengan cinta akan menuai peradaban yang berkeadilan, damai, dan bermartabat,” tutup H. Suharto dengan penuh harapan.
Pendekatan yang digagas H. Suharto menjadi refleksi bahwa madrasah masa depan harus menyeimbangkan aspek intelektual, spiritual, dan emosional. Dengan meneladani nilai-nilai Ambo Dalle, MGMP MA Pinrang berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang memanusiakan, relevan dengan zaman, dan berakar pada cinta. (FHR)