Kakan Kemenag Barru: Menang Karakter, Fondasi Pendidikan Agama
Arga Probowisesa
Kontributor
Jumat, 23 Januari 2026
Barru, Kemenag Barru — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barru, H. Irman, menegaskan bahwa pendidikan agama tidak boleh berhenti pada penguasaan materi semata, tetapi harus bermuara pada pembentukan karakter dan keteladanan peserta didik. Penegasan tersebut disampaikan saat memberikan materi pada kegiatan Diklat Laboran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berlangsung di Aula Asrama MAN 1 Barru (22/02/26).
Dalam pemaparannya, H. Irman menempatkan substansi nilai sebagai inti dari pendidikan agama. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dalam dunia pendidikan dengan semangat 'kolaborasi kita berbeda tapi kita bersama.' Menurutnya, untuk mencapai tujuan bersama, yakni melahirkan generasi yang beriman, berakhlak, dan berkarakter kuat, perbedaan bukan halangan. "Perbedaan peran, latar belakang, dan tugas para pendidik bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang harus disinergikan," jelasnya.
Lebih lanjut, Kepala Kantor Kemenag Barru menegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara harus menjadi pijakan utama dalam setiap proses pendidikan, termasuk pendidikan agama. Ia menekankan bahwa nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan tidak untuk dipertentangkan, tetapi harus berjalan seiring dan saling menguatkan. “Pancasila adalah dasar negara kita dan harus menjadi landasan dalam mendidik, termasuk dalam pendidikan agama,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, H. Irman juga memberikan penekanan khusus kepada para guru PAI agar menjalankan tugas mendidik dengan penuh dedikasi, agar para pegawai tidak hanya mengandalkan “amal gajiah”, tetapi menjadikan setiap tugas sebagai ladang amal dan pengabdian yang bernilai ibadah.
Ia mengingatkan bahwa mendidik bukanlah pekerjaan sambilan, melainkan amanah besar yang menuntut komitmen dan keikhlasan. “Jangan mengajar dengan setengah hati. Mengajar itu full time, karena mendidik adalah amanah,” ujarnya.
Dalam bagian lain materinya, Kepala Kantor Kemenag Barru mengajak seluruh peserta untuk menang dalam karakter. Menurutnya, keberhasilan pendidikan agama sejatinya diukur dari akhlak dan keteladanan yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengibaratkan bahwa laboratorium Allah yang sesungguhnya adalah masjid, tempat nilai-nilai keimanan, kedisiplinan, dan karakter diuji serta dibentuk secara nyata.
Menutup materinya, H. Irman mengutip pesan B.J. Habibie bahwa hidup ibarat mengayuh sepeda; jika berhenti mengayuh, maka akan jatuh. Kutipan tersebut menjadi pengingat bagi para pendidik agar konsisten dalam menjalankan tugas dan pengabdian di dunia pendidikan.. "Terus bergerak, belajar, dan berbuat kebaikan," tutupnya.
Diklat Laboran Pendidikan Agama Islam (PAI) dilaksanakan selama 19–24 Januari 2026 dan diikuti oleh 45 guru Pendidikan Agama Islam jenjang SD dan SMP se-Kabupaten Barru. Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran strategis laboratorium PAI sebagai sarana pendukung pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai-nilai keagamaan peserta didik.(Arga)
Editor:
Andi Baly
Jumat, 23 Januari 2026
9x