Tumbuhkan Dai Muda Berkarakter, Lomba Pidato PAI Fair 2025 Hadirkan 68 Peserta Terbaik Sulsel
Kontributor
MAKASSAR, (Kemenag Sulsel) — Hari kedua pelaksanaan PAI Fair Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun 2025 berlangsung penuh semangat dengan digelarnya Lomba Pidato Pendidikan
Agama Islam (PAI). Kegiatan ini diikuti oleh 68 peserta dari tiga jenjang
pendidikan — SD, SMP, dan SMA/SMK — yang mewakili 24 kabupaten/kota se-Sulawesi
Selatan.
Lomba yang
diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting ini menjadi ajang bagi para
pelajar untuk menampilkan kemampuan berbicara di depan umum sekaligus
menyampaikan gagasan keislaman yang inspiratif, edukatif, dan penuh makna.
Kepala Bidang
Pendidikan Agama Islam Kanwil Kemenag Sulsel, H. Fathurrahman, menyampaikan
bahwa lomba pidato ini merupakan bagian penting dari penguatan karakter dan
nilai-nilai keislaman generasi muda.
“Pidato bukan sekadar
kemampuan berbicara, tapi juga sarana menanamkan nilai dakwah, kejujuran, dan
keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Kita ingin melahirkan generasi yang
cerdas, santun, dan berjiwa pemimpin,” ujarnya.
Para peserta
menampilkan pidato dengan tema beragam sesuai jenjangnya. Peserta SD mengangkat
nilai-nilai moral dan kebiasaan baik, seperti “Taat dan Patuh kepada Orang Tua
dan Guru adalah Kunci Kesuksesan” serta “Menjaga Persatuan dan Kesatuan”.
Sementara itu, peserta
tingkat SMP lebih menonjolkan tema-tema kekinian seperti “Pentingnya Sikap
Moderat dalam Beragama” dan “Menghindari Ucapan Buruk dan Hoaks”, yang
mencerminkan semangat literasi digital berakhlak.
Adapun jenjang SMA/SMK
tampil dengan isu yang lebih kompleks dan relevan, seperti “Bahaya Judi Online
dan Pencegahannya” serta “Bijak Bersosial Media dalam Pandangan Islam”.
Dewan juri menilai
peserta berdasarkan aspek isi pidato, gaya bahasa, vokal dan intonasi, ekspresi
dan gestur, serta kepercayaan diri. Setiap pidato wajib memuat minimal satu
ayat Al-Qur’an dan satu hadis, serta disampaikan dalam Bahasa Indonesia yang baik
dan benar, diawali dengan muqaddimah berbahasa Arab.
Meski berlangsung
secara daring, lomba berjalan lancar dan penuh antusiasme. Suara lantang para
peserta, ekspresi percaya diri, dan gaya penyampaian yang beragam menciptakan
suasana kompetitif sekaligus menginspirasi.
Salah satu dewan juri,
H. Muhammad Rusli, mengaku terkesan dengan kualitas para peserta tahun ini.
“Banyak anak-anak yang
sudah memiliki kemampuan retorika luar biasa. Mereka tidak hanya hafal teks,
tapi juga memahami makna yang disampaikan. Ini bukti bahwa pembinaan PAI di
sekolah berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Lomba pidato PAI ini
menjadi wadah bagi peserta untuk menyalurkan bakat dakwah dan komunikasi Islami
yang moderat, damai, dan menyejukkan. Para juara pertama dari masing-masing
jenjang akan mewakili Sulawesi Selatan pada ajang PAI Fair Tingkat Nasional Tahun
2025.
Kepala Kanwil Kemenag
Sulsel, H. Ali Yafid, dalam arahannya kembali menegaskan bahwa PAI Fair bukan
sekadar lomba, tetapi sarana pembentukan karakter pelajar yang religius dan
berakhlak mulia.
“Anak-anak kita bukan hanya belajar berbicara, tetapi juga belajar menyampaikan kebenaran dengan santun dan hikmah. Itulah semangat dakwah yang sebenarnya,” ujarnya.
Dengan selesainya lomba
pidato pada hari kedua ini, seluruh rangkaian PAI Fair 2025 semakin menunjukkan
semangat generasi muda Sulawesi Selatan dalam meneguhkan nilai-nilai Islam yang
rahmatan lil ‘alamin, cerdas dalam berpikir, santun dalam berbicara, dan bijak
dalam bertindak.