Arah Baru Pendidikan Tinggi Keagamaan, Menag Dorong Kampus Kemenag Naik Kelas
Kontributor
Barru, Kemenag Barru — Kementerian Agama RI kembali menggelar Breakfast Meeting yang dipimpin Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. dan dipandu Sekretaris Jenderal Kemenag RI Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, M.A. Kegiatan ini diikuti para rektor dan pimpinan perguruan tinggi keagamaan se-Indonesia, termasuk Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barru yang mengikuti secara daring (13/01/26). Forum ini menjadi ruang reflektif untuk menyerap kondisi, tantangan, serta aspirasi pendidikan tinggi keagamaan di bawah naungan Kemenag.
Dalam arahannya, Menteri Agama menegaskan bahwa daya tarik perguruan tinggi di mata mahasiswa ditentukan oleh kualitas dan reputasi institusi, bukan figur pimpinan atau kemegahan fisik kampus. “Mahasiswa melihat peringkat perguruan tinggi, bukan siapa rektornya atau seindah apa kampusnya,” tegas Menag.
Ia mendorong pembentukan tim khusus yang bertugas memberi supervisi dan pendampingan kepada para rektor agar konsisten meningkatkan mutu akademik dan peringkat institusi sehingga kampus-kampus keagamaan mampu naik kelas dan bersaing secara nasional maupun global.
Menag mencontohkan keberhasilan Sekolah Insan Cendekia yang meskipun tidak memiliki anggaran besar, mampu menjaga kualitasnya secara konsisten selama puluhan tahun. “Tidak menutup kemungkinan UIN ke depan melampaui UI. Obsesi kita adalah UIN bisa melewati kampus-kampus top lainnya,” ujarnya.
Untuk mendukung hal tersebut, kampus diminta serius mengejar sertifikasi mutu seperti ISO, memperluas jejaring internasional, serta aktif mempelajari praktik baik universitas luar negeri yang informasinya sangat terbuka, termasuk melalui pengelolaan website kampus yang profesional.
Lebih lanjut, Menteri Agama menyoroti aspek kepemimpinan perguruan tinggi. Menurutnya, kemampuan bahasa dan manajerial pimpinan sangat menentukan kekuatan institusi. “Bahasa pimpinan mempengaruhi kekuatan kampus membesarkan institusinya. Jangan sampai jago ceramah, tapi tidak menguasai bahasa asing,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa ke depan institusi pendidikan tinggi sebaiknya dipimpin oleh figur dengan kapasitas manajerial yang kuat, bukan karena faktor tampang, kekayaan, atau garis keturunan.
Pada aspek sumber daya manusia, Menag mengingatkan perlunya penataan ulang kualitas dosen, khususnya dosen muda, agar lebih aktif mendampingi mahasiswa dan produktif secara akademik. Ia menekankan pentingnya pengelolaan beasiswa dengan prinsip kehati-hatian. “Jangan beri beasiswa kepada pihak yang berpotensi merusak. Jangan sampai mereka justru menyerang Indonesia dari luar, padahal sekolah dengan beasiswa kita,” tegasnya.
Menag juga mendorong pemanfaatan sumber daya negara maupun swasta untuk riset dan pendidikan, seraya menyampaikan harapan lahirnya prestasi akademik kelas dunia, bahkan peluang meraih Nobel di masa depan.
Menutup arahannya, Menteri Agama menekankan pentingnya kontemplasi bagi para pejabat dan pimpinan kampus. “Jangan terlalu banyak keliling, cobalah berkontemplasi. Kontemplasi itu berani berpikir lain, tidak hanya mengulang program masa lalu,” ujarnya.
Di tengah pesatnya pemanfaatan kecerdasan buatan oleh mahasiswa, Menag mengingatkan agar dosen dan institusi tidak tertinggal, melainkan mampu memimpin perubahan dan menjaga integritas akademik.(Arga)