Daerah

Buka Workshop KBC Di Ihya Ulumiddin, H. Misbah: Penerapan Kurikulum Cinta Sesuaikan Dengan Karakter Siswa

Foto Kontributor
Humas Bantaeng

Kontributor

Kamis, 22 Januari 2026
...

Bantaeng (Kemenag Bantaeng) - H. Misbah membuka secara resmi workshop Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Ihya Ulumiddin, pada Kamis, 22 Januari 2026 di Aula Ponpes tersebut.

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng itu menyampaikan bahwa penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah memerlukan perhatian khusus.

Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan karakter setiap lingkungan pendidikan. Oleh karena itu, penerapan KBC harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dirasakan oleh siswa di lingkungannya masing-masing.

“Boleh jadi pembahasan mengenai esensi kasih sayang dan cinta di sekolah itu sama, tetapi pengembangannya berbeda. Ada anak-anak kita yang mudah memahami dan mudah menerima karena memang kulturnya sudah lama bersaudara,” tutur H. Misbah.

“Tetapi berbeda dengan komunitas masyarakat yang dipenuhi kekerasan itu pasti berbeda dengan siswa-siswa yang dibalut dengan persaudaraan,” lanjutnya.

Ia juga menjelaskan alasan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, mendorong penerapan Kurikulum Berbasis Cinta. Menurutnya, pembulian, perkelahian hingga tindak pembunuhan masih marak terjadi di tengah masyarakat, khususnya di lingkungan sekolah dan madrasah, oleh karena itu melalui penerapan KBC, persoalan tersebut bisa diredam.

“Jadi intinya cinta itu adalah pengawasan, merasa diawasi, merasa terikat, jadi kalau kita sudah menyatakan cinta sama kamu, itu berarti susah untuk terpisah,” tutur H. Misbah.

H. Misbah kemudian memaparkan tiga jenis kecerdasan yang harus terus diasah oleh para siswa.

“Dari dulu sampai sekarang. Para cendekia dan para pendidik kita. Mulai dari menteri pertama sampai menteri sekarang ini. Itu sebenarnya ada tiga hal yang harus diasah daripada siswa,” ungkap Kakan Kemenag Bantaeng.

“Kita sudah kenal ada namanya Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Kemudian Spiritual Quotient. Artinya ada tiga model kecerdasan,” sambungnya.

Menurutnya, ketiga jenis kecerdasan tersebut perlu diasah secara seimbang di madrasah, salah satunya melalui penerapan Kurikulum Berbasis Cinta.

Melalui workshop KBC ini, H. Misbah berharap seluruh peserta dapat berdiskusi secara mendalam terkait penerapan kurikulum tersebut di setiap kelas.

“Bagaimana pengembangannya itu tidak boleh terlalu jauh meleset dari juknis atau konsep utuh yang kita terima di tingkat provinsi atau bahkan di tingkat nasional,” tutur H. Misbah sebelum membuka secara resmi Workshop KBC di Ponpes Ihya Ulumiddin.

Pada kesempatan tersebut, turut hadir dua Pengawas Madrasah Kemenag Bantaeng yang diberikan amanah sebagai fasilitator dan narasumber, yakni Saharuddin, S.Pd.I., M.Pd. dan Hj. Sunarti, S.Pd., M.Pd.

Hadir pula kepala madrasah, pimpinan pondok pesantren, serta para guru MTs dan MA Pondok Pesantren Ihya Ulumiddin. (MSD)

Editor: Mawardi

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default