Kakanwil Kemenag Sulsel : Isra Mi’raj Bukan Soal Logika, Tapi Pensucian Hati
Kontributor
RAPPANG, KEMENAG SULSEL – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, mengatakan bahwa peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW tidak dapat dipahami hanya dengan pendekatan logika, melainkan harus diyakini melalui hati yang bersih dan ketundukan total kepada Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan Ali Yafid saat membawakan hikmah Isra Mi’raj di Masjid Raya Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Jumat (16/1), dalam rangkaian kegiatan keagamaan yang juga dirangkaikan dengan serah terima pelaksana tugas (Plt) dan camat.
“Isra Mi’raj bukan peristiwa yang diukur dengan logika, tetapi diyakini dengan iman,” ujar Ali Yafid.
Ia menjelaskan, perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha dalam sepertiga malam secara logika sulit diterima. Namun hal itu justru menunjukkan kemahakuasaan Allah SWT.
“Menempuh jarak lebih 1.500 kilometer dari masjidil Haram ke Masjid Aqza dalam waktu singkat tentu tidak masuk akal, tetapi iman tidak dibangun di atas akal semata,” katanya.
Ali Yafid mengingatkan bahwa sebelum diperjalankan, dada Nabi Muhammad SAW dibedah oleh Malaikat Jibril dan dibersihkan dengan air zamzam. Peristiwa itu, menurutnya, mengandung pesan mendalam tentang pensucian hati sebagai syarat utama mendekat kepada Allah.
“Tidak ada jalan menuju Allah tanpa hati yang suci,” ungkapnya.
Ia menambahkan, meskipun waktu dan tanggal Isra Mi’raj, termasuk 27 Rajab, masih menjadi perdebatan di kalangan ulama, peristiwa tersebut merupakan kebenaran yang termaktub dalam Al-Qur’an.
“Isra Mi’raj adalah kebenaran wahyu. Mengingkarinya berarti mengingkari Al-Qur’an,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Ali Yafid juga menekankan bahwa inti Isra Mi’raj adalah penguatan tauhid dan penghambaan sejati kepada Allah SWT. Menurutnya, jika Nabi Muhammad SAW dimi’raj-kan oleh Allah, maka umatnya diberi jalan mi’raj melalui salat.
“Nabi di-Isra’-Mi’raj-kan, sementara umatnya dimi’raj-kan melalui salat,” sebutnya.
Lebih lanjut mantan Kabid Penyenggara Haji dan Umrah ini mengingatkan agar umat Islam, khususnya para pejabat dan aparatur pemerintahan, menjadikan jabatan sebagai sarana ibadah dan pengabdian, bukan sebagai sumber kesombongan.
“Jabatan jangan dikejar untuk dunia, tapi dijadikan jalan meraih akhirat,” ucapnya.
Ditambahkan, bahwa kesombongan sekecil apa pun dapat menjadi penghalang keselamatan di akhirat.
“Sekecil biji sawi kesombongan, itu bisa menghalangi kita masuk surga Allah,” imbuhnya.
Di akhir tausiahnya, Ali Yafid mengatakan keberagamaan yang dipraktikkan secara benar dan dibawa ke tengah masyarakat akan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan sosial dan pemerintahan.
“Siapa yang melengket kepada Allah, dialah yang akan sampai kepada-Nya,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Sidenreng Rappang Nur Kanaah, Ketua DPRD Sidrap Takyuddin Masse, Kepala Kantor Kemenag Sidrap, Kabid Urais, seluruh Kepala KUA, para camat termasuk Camat Pancarijang, serta tokoh masyarakat dan masyarakat sekitar. (AB)