Ketulusan Yang Berbuah Prestasi: Feature Anggi, Juara II Penais Award 2025
Kontributor
Selayar (Kemenag_Selayar) Di balik sosoknya yang
sederhana, siapa sangka Anggi Anggraini menyimpan tekad besar untuk menebarkan
nilai-nilai kejujuran dan integritas. Setiap pagi ia memulai hari bukan dengan
ambisi mengejar gelar atau penghargaan, melainkan dengan niat tulus:
mendampingi umat agar lebih dekat pada ajaran agama, sekaligus sadar bahwa
korupsi adalah musuh bersama yang harus diperangi.
Sebagai penyuluh agama Islam di KUA Kecamatan
Buki Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Selatan, Anggi sering
terlihat hadir di tengah masyarakat khususnya di lingkungan sekolah dengan
senyum ramah. Tak jarang ia mengajak para siswa dan guru berbincang ringan saat
jam istirahat atau selepas shalat berjamaah, lalu perlahan menyinggung tentang
bahaya korupsi. “Saya percaya, pesan moral akan lebih mudah diterima jika
disampaikan dengan hati,” tuturnya suatu ketika.
Dari ruang-ruang sederhana itulah, kiprah Anggi
bergaung hingga ke panggung nasional. Setelah menjadi nominator PAI
Award di tingkat nasional untuk kategori Penyuluhan Anti Korupsi, ia
kemudian otomatis mewakili Sulawesi Selatan
dalam ajang Penais Award tingkat nasional. Di hadapan
para juri, dengan penuh keyakinan Anggi memaparkan pengalamannya dalam
memberikan penyuluhan anti korupsi melalui program IMANI (Insan Muda Anti
Korupsi). Agar lebih meyakinkan, kegiatan penyuluhannya ditayangkan dalam
bentuk video yang menggambarkan langkah nyata yang dilakukannya untuk mengkampanyekan
anti korupsi di tengah-tengah masyarakat, khususnya di kalangan anak muda.
Hasilnya mengejutkan sekaligus membanggakan.
Anggi berhasil meraih Juara II kategori Penyuluhan Anti Korupsi Penais
Award Nasional tahun 2025. Air matanya menetes saat namanya
diumumkan. Bagi Anggi, penghargaan itu bukan semata tentang dirinya, melainkan
tentang kepercayaan dan doa banyak orang yang ia bimbing selama ini.
“Prestasi ini saya persembahkan untuk keluarga,
masyarakat Selayar, dan semua penyuluh agama di pelosok negeri. Semoga ini jadi
bukti bahwa kerja ikhlas tidak pernah sia-sia,” ucapnya haru.
Kini, Anggi kembali ke rutinitasnya: mendatangi
majelis taklim, menyapa anak-anak remaja, hingga duduk bersama orang tua di masjid.
Meski sudah mengukir prestasi nasional, ia tetap rendah hati, memilih untuk
terus melangkah di jalan pengabdian.
Di matanya, penghargaan hanyalah bonus. Yang
utama adalah bagaimana pesan anti korupsi bisa benar-benar hidup dalam hati
masyarakat utamanya di kalangan anak muda. Dari ketulusan itulah, Anggi
mengajarkan bahwa perubahan besar bisa lahir dari langkah-langkah kecil, asal
dijalani dengan cinta dan konsistensi. (Sy)