Luwu Bersujud Pada Sejarah, Menyekolahkan Hati Pada Kepahlawanan
Kontributor
Belopa (Kemenag Luwu) – Gerimis tak menghentikan langkah. Angin pagi
yang dingin justru menjadi saksi. Di Lapangan Tribun Andi Djemma, Belopa Senin
(10/11/2025), ratusan peserta berdiri tegap dalam keheningan. Bukan hanya memperingati
Hari Pahlawan, mereka sedang mengirim doa pada sejarah.
Di tengah suasana yang hening namun penuh rasa, Bupati Luwu H. Patahuddin, S.
Ag bertindak sebagai Inspenktur Upacara. Suaranya lantang, tetapi penuh getar
makna saat mengajak seluruh hadirin menundukkan kepala, mengenang pahlawan yang
gugur bukan untuk menikmati kemerdekaan melainkan untuk mewariskannya.
“Mereka berjuang bukan untuk masa yang sempat mereka rasakan, tetapi untuk
masa depan yang kini kita hirup sebagai udara kebebasan.” Ujarnya, disambut
keheningan yang sarat renungan.
Dalam amanatnya, Bupati menegaskan bahwa pahlawan bukan sekadar nama yang
diukir di monumen, tetapi jiwa-jiwa yang menyalahkan arah bangsa. Dari Surabaya
sampai Aceh, dari Ambarawa hingga Biak, mereka berdiri dalam barisan peruangan
dengan satu misi: Indonesia merdeka
berapapun harganya.
Air mata perjuangan mereka, katanya, bukan kisah usang. Ia adalah akar dari
masa depan, sama seperti hujan yang turun pagi itu, membasuh bumi, memberikan
hidup, meski jatuhnya tak selalu terlihat megah.
“Kehormatan sejati bukanlah jabatan,
melainkan seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan,” tegas Bupati, disambut
anggukan peserta yang larut dalan pesan mendalam.
Jika dulu bambu runcing menjadi saksi perlawanan, maka hari ini perjuangan
berwujud pendidikan, empati, keberania moral, dan kehadiran untuk sesama. Semangat
itu, kata Bupati, sejalan dengan Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, membangun
bangsa yang kuat, adil, cerdas, dan manusiawi.
Di akhir amanat, sebuah janji di bawah rintik seolah terucap bukan hanya
dalam kata, tetapi lewat degup serempak di dada setiap peserta yang berdiri.
“Kemerdekaan ini tidak akan dibiarkan pudar. Kami lanjutkan dengan kerja,
kami hidupkan dengan pengabdian, kami jaga dengan hati.”
Usai upacara, doa-doa naik bersamaan dengan gerimis yang turun perlahan. Tanah
disirami, hati disatukan, sejarah dikenang bukan dengan airmata kesedihan,
melainkan tekad keberlanjutan.
Upacara pun ditutup dengan seruan yang menggema di lapangan, meresap di
dada, dan tinggal di ingatkan:
“Pahlawanku Teladanku. Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan.”
Pesan-pesan Pahlawan Nasional dibacakan penuh penghayatan oleh Hj. Titin
Irmawati, bersama Firman Basri. Salah satu pesan yang disampaikan ialah kutipan
legendaris dari Proklamator Ir. Soekarno:
“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan
aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” (Pidato HUT Proklamasi RI,
1963)
Kutipan lain yang turut dibacakan menegaskan keyakinan Sang Proklamator
tentang kemandirian bangsa:
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya, tidak dapat berdiri
sebagai bangsa yang merdeka.”
Pesan tersebut menggema di lapangan, mengingatkan kembali bahwa semangat
kebangsaan, keyakinan diri, dan kekuatan generasi muda adalah fondasi utama
kejayaan Indonesia.
Setelah seluruh rangkaian agenda selesai, suasana mendadak hening ketika
Kepala Kankemenag Kab. Luwu, Drs. H. Jufri, MA, melangkah menutup kegiatan
dengan doa.
Di bawah rintik hujan yang turun lembut di Luwu, doa yang beliau panjatkan
mengalir khidmat, menyentuh relung hati setiap hadirin. Suaranya tenang namun berwibawa, menyiratkan
harapan akan masa depan bangsa yang lebih baik, adil, dan penuh keberkahan.
“Ya Allah, Ya Ahad… hanya kepada-Mu kami berserah dan bertawakkal,”
lantun beliau membuka doa. Dengan tangan terangkat, ia memohon kepada Sang Maha
Kuasa agar bangsa ini dianugerahi sumber daya manusia yang unggul—cerdas
akalnya, jujur budinya, dan santun akhlaknya.
Lebih dari sekadar doa, itu adalah pesan kebangsaan. Beliau mengafirmasi
harapan akan terbangunnya keseimbangan antara pembangunan spiritual dan
material, demi terwujudnya kemakmuran rakyat serta keadilan sosial yang hakiki.
Doa semakin dalam ketika ia memohon kepada Allah Yang Maha Pengampun, agar
persatuan bangsa senantiasa terpelihara, harmoni tetap terjalin dalam
keberagaman, serta negeri ini dijauhkan dari segala ancaman yang dapat
menggoyahkan sendi persaudaraan.
Doa itu bukan sekadar penutup upacara. Ia menjadi pengingat, bahwa di atas
perjuangan dan ikhtiar manusia, ada kekuatan yang lebih tinggi tempat segala
harap digantungkan. Hari itu, di Kabupaten Luwu, sebuah doa menjadi jembatan
antara harapan dan masa depan—menyatukan hati dalam semangat persaudaraan dan
cinta tanah air. Isl/Um.