Daerah

Menembus Jarak Dan Luka: Kepedulian Dari Luwu Untuk Anak-Anak Gayo Lues

Senin, 12 Januari 2026
...

Aceh (Kemenag Luwu) – Di balik dinginnya dataran tinggi Aceh dan duka yang masih menyelimuti para penyintas bencana, secercah harapan hadir di lokasi pengungsian Kampung Palok, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Selama enam hari, terhitung sejak 31 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026, kegiatan Pendampingan Pemulihan Psikososial dan Pendidikan Anak-anak Korban Bencana Banjir dan Longsor Aceh–Sumatera dilaksanakan untuk menguatkan kembali semangat hidup para pengungsi, khususnya anak-anak.

Kabupaten Gayo Lues yang berada di dataran tinggi Aceh, sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, bukanlah wilayah yang mudah dijangkau. Perjalanan darat selama kurang lebih 15 jam dari Kota Medan harus ditempuh demi memastikan anak-anak korban bencana tidak merasa sendiri dalam menghadapi masa sulit pascabencana.

Pendampingan ini dilakukan oleh Muh. Ashar Sabry, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Belopa sekaligus anggota PD IPARI Kemenag Luwu, bersama Mazra Yasir, Konselor Anak. Keduanya hadir membersamai anak-anak pengungsi melalui beragam aktivitas edukatif dan terapeutik, seperti bermain bersama, belajar, berkegiatan kreatif, serta mengaji. Kegiatan-kegiatan tersebut dirancang untuk membantu anak-anak mengekspresikan perasaan, mengurangi trauma, dan menumbuhkan kembali rasa aman serta keceriaan yang sempat hilang.

Program kemanusiaan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, di antaranya Pemerintah Daerah Luwu, PD IPARI Kemenag Luwu, Komunitas Sahabat An Nisaa, Komunitas Kemah Relawan Pendidikan (KeReN), serta Yayasan Zidanne School Indonesia. Selain itu, relawan lokal yang tergabung dalam Komunitas Bhineka Gayo dan Sekolah Bersama (SEBER) turut berperan aktif, menciptakan sinergi kepedulian lintas daerah dan komunitas.

Respons para korban dan masyarakat setempat pun sangat mengharukan. Mereka menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kepedulian para relawan yang datang dari Kabupaten Luwu, wilayah yang secara geografis sangat jauh. Selama enam hari pendampingan, perubahan positif mulai tampak. Anak-anak yang sebelumnya murung dan tertutup perlahan kembali tersenyum, tertawa, dan antusias mengikuti kegiatan belajar, bermain, serta mengaji. Harapan baru pun tumbuh di hati mereka untuk menatap masa depan dengan lebih optimis.

Trauma healing merupakan upaya pemulihan kondisi psikologis akibat pengalaman traumatis, seperti bencana alam, tindak kekerasan, maupun kehilangan orang terdekat. Proses ini bertujuan memulihkan keseimbangan emosi, pikiran, dan kondisi fisik agar individu mampu kembali menjalani aktivitas kehidupan secara wajar tanpa bayang-bayang masa lalu. Pemulihan tersebut dapat dilakukan secara mandiri dengan dukungan lingkungan sekitar, maupun melalui pendampingan tenaga profesional sesuai kebutuhan.

Pada hari terakhir kegiatan, suasana haru menyelimuti lokasi pengungsian Kampung Palok. Anak-anak pengungsi menampilkan tari Zaman sebagai ungkapan rasa terima kasih dan simbol perpisahan. Tarian penuh semangat itu menjadi penanda bahwa di tengah keterbatasan dan luka akibat bencana, harapan dan kebahagiaan masih bisa tumbuh selama ada kepedulian dan kehadiran yang tulus membersamai mereka. Isl/Um.

Editor: Mawardi

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default