Menembus Jarak Dan Luka: Kepedulian Dari Luwu Untuk Anak-Anak Gayo Lues
Kontributor
Aceh (Kemenag Luwu) – Di
balik dinginnya dataran tinggi Aceh dan duka yang masih menyelimuti para
penyintas bencana, secercah harapan hadir di lokasi pengungsian Kampung Palok,
Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Selama enam hari,
terhitung sejak 31 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026, kegiatan Pendampingan
Pemulihan Psikososial dan Pendidikan Anak-anak Korban Bencana Banjir dan
Longsor Aceh–Sumatera dilaksanakan untuk menguatkan kembali semangat hidup para
pengungsi, khususnya anak-anak.
Kabupaten Gayo Lues yang berada
di dataran tinggi Aceh, sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, bukanlah
wilayah yang mudah dijangkau. Perjalanan darat selama kurang lebih 15 jam dari
Kota Medan harus ditempuh demi memastikan anak-anak korban bencana tidak merasa
sendiri dalam menghadapi masa sulit pascabencana.
Pendampingan ini dilakukan oleh
Muh. Ashar Sabry, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Belopa sekaligus anggota
PD IPARI Kemenag Luwu, bersama Mazra Yasir, Konselor Anak. Keduanya hadir
membersamai anak-anak pengungsi melalui beragam aktivitas edukatif dan
terapeutik, seperti bermain bersama, belajar, berkegiatan kreatif, serta
mengaji. Kegiatan-kegiatan tersebut dirancang untuk membantu anak-anak
mengekspresikan perasaan, mengurangi trauma, dan menumbuhkan kembali rasa aman
serta keceriaan yang sempat hilang.
Program kemanusiaan ini mendapat
dukungan penuh dari berbagai pihak, di antaranya Pemerintah Daerah Luwu, PD
IPARI Kemenag Luwu, Komunitas Sahabat An Nisaa, Komunitas Kemah Relawan
Pendidikan (KeReN), serta Yayasan Zidanne School Indonesia. Selain itu, relawan
lokal yang tergabung dalam Komunitas Bhineka Gayo dan Sekolah Bersama (SEBER)
turut berperan aktif, menciptakan sinergi kepedulian lintas daerah dan
komunitas.
Respons para korban dan
masyarakat setempat pun sangat mengharukan. Mereka menyampaikan rasa terima
kasih yang mendalam atas kepedulian para relawan yang datang dari Kabupaten
Luwu, wilayah yang secara geografis sangat jauh. Selama enam hari pendampingan,
perubahan positif mulai tampak. Anak-anak yang sebelumnya murung dan tertutup
perlahan kembali tersenyum, tertawa, dan antusias mengikuti kegiatan belajar,
bermain, serta mengaji. Harapan baru pun tumbuh di hati mereka untuk menatap
masa depan dengan lebih optimis.
Trauma healing merupakan upaya
pemulihan kondisi psikologis akibat pengalaman traumatis, seperti bencana alam,
tindak kekerasan, maupun kehilangan orang terdekat. Proses ini bertujuan
memulihkan keseimbangan emosi, pikiran, dan kondisi fisik agar individu mampu
kembali menjalani aktivitas kehidupan secara wajar tanpa bayang-bayang masa
lalu. Pemulihan tersebut dapat dilakukan secara mandiri dengan dukungan
lingkungan sekitar, maupun melalui pendampingan tenaga profesional sesuai
kebutuhan.
Pada hari terakhir kegiatan, suasana haru menyelimuti lokasi pengungsian Kampung Palok. Anak-anak pengungsi menampilkan tari Zaman sebagai ungkapan rasa terima kasih dan simbol perpisahan. Tarian penuh semangat itu menjadi penanda bahwa di tengah keterbatasan dan luka akibat bencana, harapan dan kebahagiaan masih bisa tumbuh selama ada kepedulian dan kehadiran yang tulus membersamai mereka. Isl/Um.