Sportivitas Dan Silaturahmi Jadi Ruh Porseni Santri 2025 Di Kabupaten Luwu
Kontributor
Belopa (Kemenag Luwu) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Luwu,
Drs. H. Nurul Haq, MH, secara resmi membuka Pekan Olahraga dan Seni (Porseni)
dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional tingkat Kabupaten Luwu tahun 2025,
pada Senin (13/10/2025) di halaman indoor Kantor Kemenag Luwu.
Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pimpinan pondok pesantren se-Kabupaten
Luwu, para pejabat di lingkungan Kankemenag Luwu, pengawas Madrasah, PAI,
Kristen dan Katolik, serta sebagian Kepala KUA dan Madrasah. Tak ketinggalan,
ratusan santri dan santriwati peserta Porseni tingkat Kabupaten Luwu tampak
sangat antusias mengikuti berbagai cabang lomba yang digelar.
Dalam sambutannya, H. Nurul Haq menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan
untuk menumbuhkan semangat kebersamaan dan sportivitas menjelang peringatan Hari
Santri Nasional 2025, yang Insya Allah akan dilaksanakan pada 22 Oktober 2025
di Lapangan Andi Djemma Belopa.
“Harapan kita, kegiatan ini dapat menambah semangat para santri, baik dalam
berolahraga maupun mengikuti berbagai lomba lainnya, termasuk lomba kultum, cerdas
cermat, dan nasi tumpeng khusus pondok
pesantren. Kita berharap dalam pertandingan nanti para peserta dapat meraih
juara, namun tetap menjunjung tinggi sportivitas. Jangan sampai terjadi
gesekan, karena tujuan utama kita adalah mempererat silaturahmi antar pondok
pesantren di Kabupaten Luwu,” ujar H. Nurul Haq.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa sebanyak 22 pondok pesantren turut
berpartisipasi dalam kegiatan Porseni tahun ini. Ia berharap seluruh peserta
dapat menjaga semangat dan kekompakan hingga kegiatan berakhir.
Menutup sambutannya, H. Nurul Haq menyampaikan pesan yang dikutip dari dua
sahabat karibnya, Prof. Dr. Hj. Rusdiana Junaid, MH dan Prof. Dr. H. Multtasam
Syamsuddin, M.Hum, mengenai sumber kegelisahan dan kemiskinan dalam diri
manusia.
“Ada empat hal yang menjadi sumber kegelisahan dan kemiskinan, yaitu: pertama,
dari mulut; kedua, dari hati; ketiga, dari mata; dan keempat, dari tangan,”
tuturnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa mulut dapat menjadi sumber kegelisahan ketika
seseorang tidak mampu menjaga ucapannya, menebar fitnah, atau berbicara tanpa
etika. Hati menjadi sumber kemiskinan batin ketika dipenuhi iri, dengki, dan
rasa tidak puas. Mata dapat menjerumuskan manusia bila selalu memandang apa
yang dimiliki orang lain tanpa rasa syukur. Sementara itu, tangan menjadi
sumber dosa dan kemiskinan moral apabila digunakan untuk hal-hal yang tidak
bermanfaat atau merugikan orang lain.
“Karena itu, mari kita jadikan kegiatan Porseni ini bukan hanya ajang
menunjukkan kemampuan, tetapi juga sebagai sarana melatih diri untuk menjaga
lisan, menata hati, menundukkan pandangan, dan menggerakkan tangan untuk
kebaikan,” pesan H. Nurul Haq penuh makna. Isl/Um.