Provinsi

Tokoh Muda Buddhis Sulsel Ajak Mahasiswa UIN Alauddin Rawat Perdamaian Global

Foto Kontributor
Andi Baly

Kontributor

Kamis, 13 November 2025
...

MAKASSAR, KEMENAG SULSEL -– Dalam upaya memperkuat semangat moderasi beragama dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya harmoni antarumat, Wakil Ketua Gerakan Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi) Provinsi Sulawesi Selatan, Bung Wenry, menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Senin (11/11/2025).

Kegiatan tersebut mengusung tema “Religious Pluralism and Global Harmony: Membangun Etika Internasional dari Perspektif Agama-Agama Dunia.” Forum ini menghadirkan narasumber lintas agama, di antaranya Bung Fiqri (Islam), Bung Geraldi (Katolik), serta Neng Inzyrah sebagai moderator. Dialog berlangsung dinamis dan menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang menumbuhkan semangat etika, toleransi, dan perdamaian global.

Dalam penyampaiannya, Bung Wenry menguraikan bahwa ajaran Buddha tentang perdamaian berakar pada khotbah pertama Buddha Gotama di Taman Rusa Isipatana, Sarnath, yang menekankan Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berfaktor Delapan. Ia menjelaskan bahwa ajaran tersebut mencakup tiga landasan utama, yakni Sīla (kesusilaan), Samādhi (keheningan), dan Paññā (kebijaksanaan) sebagai dasar pembinaan batin menuju kedamaian sejati.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa tujuan akhir dalam ajaran Buddha adalah Nibbana, yaitu keadaan kebahagiaan murni yang bebas dari penderitaan. Nibbana bukan tempat, melainkan kesadaran tertinggi setelah padamnya tiga akar kejahatan batin: Lobha (ketamakan), Dosa (kebencian), dan Moha (ketidaktahuan). Untuk mencapainya, seseorang harus senantiasa mengembangkan moralitas, keheningan, dan kebijaksanaan secara seimbang.

Bung Wenry juga mengangkat pentingnya mengamalkan empat sifat luhur (Brahmavihara)—yakni Metta (cinta kasih), Karuna (welas asih), Mudita (kegembiraan atas keberhasilan orang lain), dan Upekkha (keseimbangan batin). Nilai-nilai ini, menurutnya, menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya perdamaian dan sikap saling menghargai di tengah perbedaan.

Ia turut menekankan penerapan prinsip Ahimsa, yakni hidup tanpa kekerasan dalam pikiran, ucapan, maupun tindakan. “Perdamaian dunia akan terwujud bila setiap orang menumbuhkan dua sifat pelindung dunia, yaitu Hiri (malu berbuat jahat) dan Otappa (takut akibat perbuatan jahat),” ujarnya. Kedua nilai tersebut dikenal dalam ajaran Buddha sebagai Lokapāladhamma atau Dhamma Pelindung Dunia.

Sebagai penutup, Bung Wenry menuturkan kisah Buddha Gotama yang mendamaikan Suku Sakya dan Koliya ketika hampir berperang memperebutkan Sungai Rohini. “Buddha mengingatkan bahwa menjaga persaudaraan jauh lebih penting daripada memperebutkan air,” jelasnya sambil mengutip syair Dhammapada 1,5:

“Di dunia ini, kebencian tidak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian; kebencian akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih. Inilah hukum kekal yang abadi.”

Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan mengapresiasi keterlibatan tokoh-tokoh muda lintas agama yang terus menumbuhkan dialog, memperkuat saling pengertian, dan menggaungkan semangat perdamaian. Kegiatan ini menjadi wujud nyata penguatan Moderasi Beragama, menuju Sulawesi Selatan yang rukun, damai, dan harmonis dalam keberagaman. (Smrj)

Editor: Andi Baly

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default