BRUS Di MTs Muhammadiyah Bantaeng, Edukasi Pencegahan Pernikahan Usia Anak Dan Bullying
Kontributor
Bantaeng (Kemenag Bantaeng) - Siswa kelas IX MTs Muhammadiyah Bantaeng mengikuti kegiatan Sosialisasi yang dilaksanakan oleh PUSPAGA Kabupaten Bantaeng. Kegiatam tersebut sebagai upaya mencegah pernikahan usia anak dan berbagai permasalahan anak.
PUSPAGA (Pusat Pembelajaran Keluarga) Kabupaten Bantaeng bersama PKK Kabupaten Bantaeng melalui Pokja I menggelar sosialisasi Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang telah memasuki hari kedua di tingkat SMP/MTs yang melibatkan kolaborasi lintas lembaga, termasuk Yayasan Bantuan Hukum (YBH) dan PPA Bantaeng pada Rabu, 05 November 2025.
Koordinator PUSPAGA, Mardiah, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap anak-anak, khususnya dalam memberikan edukasi dan konseling bagi mereka yang menghadapi masalah, salah satunya permasalahan bullying.
“Bullying itu membuat seseorang merasa malu, tidak nyaman, dan jika terus berlanjut bisa menyebabkan stres serta dampak negatif lainnya,” ungkapnya saat sesi berbagi pengalaman.
Rohani sebagai pemateri pertama dari POKJA 1 PKK kabupaten Bantaeng, salah satu pemateri yang memberikan penjelasan tentang pencegahan pernikahan usia anak, menekankan pentingnya menjaga diri dari pergaulan yang salah. Beliau juga menyoroti faktor-faktor penyebab sehingga terjadi pernikahan usia anak diantaranya karena faktor ekonomi, kemiskinan, pola pikir, dan perilaku hidup sehat. Ia juga menambahkan bahwa pernikahan usia anak dapat menimbulkan dampak serius dari sisi kesehatan, seperti risiko kematian ibu dan bayi, gangguan kesehatan, serta stunting pada anak.
Memasuki materi kedua yang disampaikan oleh Mutmainnah dari PUSPAGA Bantaeng menyerukan, “Stop bullying di sekolah!” Sesi materi ini lebih banyak diisi dengan diskusi dan sharing tentang pengalaman bullying, baik secara langsung maupun melalui media sosial (cyber bullying), di rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Para peserta diajak memahami karakteristik korban bullying yang biasanya berbeda, lemah, kurang percaya diri, dan tidak populer, serta karakteristik pelaku bullying yang sering kali populer, memiliki banyak teman, namun kurang empati dan tidak mampu mengelola emosi. Salah satu kisah yang dibagikan adalah tentang seorang anak yang awalnya ceria, namun menjadi murung karena sering diolok-olok.
Kegiatan ini juga menyinggung peran Forum Anak sebagai wadah aspirasi dan perlindungan anak di Bantaeng. Melalui pendekatan edukatif dan konseling, BRUS bertujuan membangun kesadaran anak untuk menghentikan bullying dari diri sendiri, tidak menjadikan ejekan sebagai bahan candaan, dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan mendukung.
Dengan semangat kolaborasi antara PKK, PUSPAGA, YBH, dan PPA, kegiatan BRUS menjadi langkah strategis dalam membentuk generasi muda yang tangguh, sadar hak, dan terlindungi dari praktik pernikahan usia anak serta kekerasan psikologis di lingkungan mereka. (Kasma)