Provinsi

Hari Raya Nyepi Sebagai SADHANA Peningkatan SRADDHA Dan BHAKTI

Foto Kontributor
arfan

Kontributor

Kamis, 20 Maret 2025 · 00:00 WIB
...

Oleh : I Ketut Mundra, S.Ag

Penyuluh Ahli Madya Agama Hindu

 

Dvau bhūtasargau lokesmin

daiva āsura eva ca,

daivo vistaraśa prokta

āsura pārtha me śŗņu

Bhagavad Gita XVI.6

Ada dua macam makhluk diciptakan di dunia, yaitu bersifat Ketuhanan (daiva) dan

 bersifat Keraksasaan (āsuraṁ), yang bersifat ketuhanan sudah dijelaskan dengan Panjang lebar.

Dengarkanlah Aku, Oh Pārtha (Arjuna) tentang sifat jahat/raksasa/setan.

 

Hari Raya Nyepi dirayakan setiap tahun sekali, tepatnya pada sasih kedasa tanggal apisan. Hari raya Nyepi kali ini jatuh pada tanggal, 29 Maret 2025, tahun Çaka 1947.  Hari raya Nyepi juga disebut sebagai hari raya perayaan dalam rangka menyambut Tahun Baru Çaka. Tahun Baru Çaka ini dirayakan karena memiliki nilai historis yang mampu mempersatukan suku – suku yang dulunya bermusuhan dan hidup dengan rukun dengan penuh toleransi.

Eksistensi Tahun Çaka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. Suku – suku bangsa yang bermusuhan itu adalah Pahlawa, Yuehchi, Malawa dan suku bangsa Saka. Suku – suku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukan suku suku yang lainnya. Perang suku yang berkepanjangan ini menyebabkan suku bangsa Saka menjadi bosan pada perang dan politik. Setiap ada suku yang menang selalu menindas suku yang kalah. Demikian juga suku yang kalah selalu berusaha membalas dendam untuk menjatuhkan suku yang menang.

Dengan adanya perang yang berlarut larut ini menyebabkan kebosanan bagi suku Saka, sehingga ia mempunyai inisatif untuk merubah  haluan perjuanganya, dari politik peperangan dengan jalan meningkatkan sukunya secara ekonomi dan kebudayaan. Untuk meningkatkan kesejahteraan maka harus menguasai Astronomi. Pertanian, Peternakan dan perdagangan membutuhkan pengetahuan tentang musim yang bersumber dari Astronomi untuk membangun sisten ekonomi yang agraris. Sistim Astronomi disusun oleh suku Saka untuk meningkatkan kesejahteraan suku bagsa Saka.

 

Pada tahun 125 SM yang berkuasa di India adalah di nasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi merasa terketuk hatinya atas perubahan haluan perjuangan suku bangsa Çaka. Dinasti Kushana pun berubah juga haluan perjuangannya. Kekuasaan yang dipegangnya tidak lagi digunakan untuk menindas dan menghancurkan suku – suku yang kalah atau tidak berkuasa. Kekuasaan yang dipegangnya dipakai untuk merangkul semua suku bangsa yang ada di India. Untuk merangkulnya yang ada di India dinasti Kushana mengambil puncak – puncak kebudayaan suku – suku bangsa tersebut menjadi kebudayaan Kerajaan.

Pada tanggal 21 Maret tahun 78 masehi Raja Kaniska I  dari dinasti Kushana keturunan suku bangsa Yuehchi  mengangkat sistim penanggalam Çaka menjadi penanggalan Kerajaan. Hal ini dilakukan karena sistim penanggalan Çaka sudah demikian popular dan telah berhasil menuntun suku bangsa di India bercocok tanam, beternak dan berdagang dengan menggunakan sistem penanggalam Saka. Semenjak itu bangkitlah kesadaran suku – suku bangsa lainnya di India untuk hdiup dengan penuh persahabatan, Toleransi dalam membangun kesejahteraan bersama (Dharma Siddhiyartha) di India. Akibat adanya kesadaran, Toleransi dan Persatuan ini system Kalender Saka semakin berkembang mengikuti persebaran Weda (agama Hindu), hingga ke Indonesia pada abad ke 4 Masehi.

 

Pada jaman Kerajaan Majapahit di Indonesia sistem Penggalan Çaka benar – benar telah berkembang dan eksistensinya sangat diakui dalam Kerajaan Majapahit dan setiap bulan Maret (Cetra) tahun Çaka diperingati dengan upacara keagamaan. Setiap tanggal 1 s.d 3 Cetra (maret) setiap tahun di alun alun Majapahit berkumpul seluruh kepada pemerintahan, prajurit, para ilmuwan, Pandita Siwa dan Buddha yang dihadiri oleh Sri Baginda Raja membicarakan tentang berbagai hal yang telah dikerjakan tahun sebelumnya dan yang paling urgen adalah pembicaraan tentang peningkatan moral Masyarakat, meningkatkan kesadaran hidup rukun dengan penuh kedamaian.

Manusia menginginkan hidup damai, baik sekarang maupun masa yang akan datang. Umat hindu di zaman globalisasi yang modern ini bagaikan berenang di Samudra perbedaan. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negative.

Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Selanjutnya setelah agama Hindu berkembang di Bali barulah Perayaan Tahun Baru Çaka dirayakan dengan kegiatan Melasti, Taur Kesanga dengan Brata Penyepian sebagai puncaknya.

Dalam filsafat Samkhya dan Yoga Darsana manusia diciptakan oleh Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa melalui perpaduan dua unsur yaitu unsur kejiwaan yang disebut Puruśa dan unsur kebendaan yang disebut Predana. Dari perpaduan kedua unsur ini menimbulkan dua kecendrungan dalam diri manusia.

Dua kecendrungan itu sebagaimana termuat dalam kitab Bhagavad Gita XVI. 6 diatas yang  dinamakan Daiwi Sampad dan Asuri Sampad. Daiwi Sampad adalah sifat – sifat yang memotivasi manusia cendrung berbuat mulai seperti sifat – sifat para Dewa yang mendekatkan manusia pada Hyang Widhi Wasa, sedangkan Asuri Sampad adalah sifat – sifat yang mendorong manusia untuk berbuat jahat menjauh dari Hyang Widhi Wasa, seperti perbuatan raksasa atau asura.

 

Munculnya dua kecendrungan tersebut karena pertemuan Puruśa dan Predana. Puruśa membawa alam pikiran yang terang (Citta) sehingga menyebabkan terjadinya kecendrungan ke Dewaan, sedangkan Predana membawa Klesa yang menimbulkan kecendrungan sifat keraksasaan. Citta yang meliputi Dharma(mendorong manusia untuk selalu berkarma baik),  Jnyana (mendorong manusia untuk selalu mencari dan mengamalkan ilmu pengetahuan suci), Wairagya (mendorong manusia untuk Ikhlas beramal demi kebenaran dan Kebajikan dan Aiswarya (mendorong manusia untuk secara kontinyuitas meningkatkan kesucian dirinya).

Karakter atau sifat – sifat yang dibawa oleh Citta sangat berlawanan dengan sifat sifat yang ditimbulkan oleh unsur Predana yang disebut Klesa; yakni yang mendominasi manusia memiliki sifat – sifat adharma atau kejahatan yang akan menyebabkaan manusia papa dalam menjalani kehidupannya.

Oleh karena itu ajaran Hindu mengajarkan manusia untuk menyepikan ruang gerak dari sifat Klesa agar tidak menghalangi perkembangan dan eskpresi unsur – unsur Citta, sehingga manusia dapat melakukan Dharma sebaik baiknya. Jika manusia dikuasai oleh Klesa maka akan menjadikan manusia Papa yang meliputi Awidya (kegelapan karena rendahnya pemahaman pengetahuan suci), Asmita (sifat sombong, angkuh, mau menang sendiri, tidak memiliki kepekaan social dan tidak mau menerima saran atau pendapat orang lain), Raga (suka mengumbar hawa nafsu atau sangat keterikatan terhadap benda – benda duniawi), Dwesa (sifat pemarah, benci, bengis, dendam) dan Abhiniwesa (merasa takut yang berlebihan karena keterikatan pada kehidupan duniawi. Untuk memenangkan Citta agar dapat menguasai sifat – sifat Klesa, agama Hindu mengajarkan berbagai cara yang bernilai Tattva, Susila dan Upacara. Salah satunya melalui hari raya raya Nyepi. Perayaan hari raya nyepi dengan berbagai rangkaian kegiatan dilakukan untuk membangkitkan kesadaran umat Hindu untuk memenangkan Citta atas Klesa agar terhindar dari papa klesa atau penderitaan.

 

Dalam kitab Katha Upanisad ada suatu perumpamaan bahwa manusia di ibaratkan seperti Kereta. Badan Kereta ibarat badan jasmani, Kuda ibarat Indrya, Tali Lis/ tali kekang kereta ibarat pikiran, Kusir kereta ibarat kesadaran budhi, pemilik kereta ibarat Atman. Kereta akan dapat berjaan baik jika badan kereta tidak rusak. Kuda sehat dan penuh pada gerak tali kendali yang digerakan oleh kusir kereta. Kusir kereta menggerakan sesuai dengan pemilik kereta yaitu Atman.

Dari perumpamaan ini yang harus sepi sari nafasu keinginan adalah Kuda. Kuda tidak boleh berkehendak sendiri. Kuda hanya bergerak sesuai dengan arahan tali kereta. Demikian juga tali kereta hanya bergerak kalau digerakan oleh kusir kereta. Kusir kereta hanya menggerakan arah kereta sesuai dengan perintah dari pemilik kereta.

 

Perumpaan yang termuat dalam kitab Katha Upanisad itu seseorang akan mampu mejalankan hidup di dunia ini dengan baik dan benar, jika dikendalikan oleh Atman Sang pemberi hidup, karena sesungguhnya Atman adalah sinar suci Brahman yang menjadi sumber kehidupan atas jiwa premana dalam diri manusia atau Bhuwana alit. Atman selalu memancarkan perintah kebenaran dan kesucian.

Oleh karena itu tidak ada manusia yang tidak bearti Nurani suci dan benar. Cuma suara hati Nurani itu tidak mampu digemakan oleh pikiran, karena pikiran telah dikuasi oleh Indrya. Karena itu hakekat Nyepi adalah menyepikan gejolak Indrya. Tapa, Brata, Yoga dan Semadi patutlah dilaksanakan pada perayaan hari raya Nyepi. Tujuannya memperkuat Bhudi dan manah agar tidak mengarah pada berbuatan adharma.

 

Rangkaian Perayaan Hari Raya Nyepi sebagai sadhana meningkatkan Sraddha dan Bhakti :

1.      Upacara Melasti

Tujuan dilaksanakannya Melasti dijelaskan dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala dan lontar Sundarigama.

Melasti ngaranya ngiring prawatek Dewata,

anganyutaken laraning jagad, papa klesa, letuhing bhuwana

Lontar Sang Hyang Aji Swamandala

artinya :

Melasti adalah meningkatkan bhakti pada Hyang Widhi Wasa, menganyutkan penderitaan Masyarakat, menghoilangkan pap klesa dan kotoran alam semesta).

 

Amet sarining amertha kamandalu ring telenging segara.

Lontar : Sundarigama

Artinya :

  Mengambil sari – sari kehidupan di tengah Samudra)

 

Dari kedua kutipan lontar tersebut diatas terkandung makna yang sangat luas, dalam dan universal mengenai makna dari upacara Melasti. Dari lontar Sang Hyang Aji Swamandala tersebut Upacara Melasati memberikan arah atau motivasi kepada umat Hindu untuk melakukan empat hal agar hidup menjadi bermakna dan mudah untuk mendapatkan sari – sari kehidupan. Keempat hal tersebut :

a.   Ngiring Prawatek Dewata

Artinya membangun sikap hidup untuk senantiasa menguatkan Sraddha dan Bhakti dan patuh pada tuntunan sinar suci Hyang Widhi Wasa. Kita ketahui bahwa Hyang Widhi hanya dapat didekati dengan sifat – sifat kebaikan, cinta kasih dan hati penuh dengan kedamaian. Tanpa itu maka akan sangat sulit menerima waranugraha Hyang Widhi Wasa.

b.   Anganyutaken Laraning Jagat

Artinya dengan kegiatan Melasti umat Hindu dimotivasi secara ritual untuk membangkitkan spiritual kita untuk berusaha menghilangkankan laraning jagat atau penderitaan hidup. Penderitaan hidup akan dipetroleh jika selalu mengedepankan sifat loba, kroda dan Mada. Hal ini dinyatakan dalam kitab Bhagavad Gita XVI. 21 : Tri - vidha narakasyeda, dvāra nāśanam ātmanaḥ, kāmaḥ krodhas tathā lobhas, tasmād etat traya tyajet. Kemudian dalam kitab Manawa Dharmasastra V. 109 dinyatakan upaya untuk mensucikan badan, pikiran, atman dan akal budhi kita adalah dengan air, kejujuran, tapa brata dan pengerahuan suci (Abbhirgatrani cuddhyanti, manah styena cuddhyanti, widyotapobhyam bhutatma, budhir jnanena cuddhyanti). Jika sifat loba, krodha dan kama mampu dikendalikan dan tidak menguasai diri kita serta kita mampu untuk memelihara tubuh kita dengan menjaga kebersihan badan, pikiran selalu suci, jiwa selalu suci dan akal budi selalu memiliki pengetahuan yang suci dan diaktualisasikan dalam kehdiupan sehari hari, sumber penderitaan Masyarakat baik yang niskala dan sekala akan dapat diraih.

c.     Angayutaken Papa Klesa

Hidup menderita /klesa disebabkan oleh lima hal yaitu awidya (kegelapan), Asmita (angkuh, sombong), Raga (keterikatan terhadap keduniawian yang berlebihan), Dwesa (sifat dendam, pembenci, mau menang sendiri) dan Abhinivesa (rasa takut yang berlebihan). Hidup yang papa adalah hidup yang berjalan jauh diluar Citta atau Dharma. Disinilah pentingnya memiliki pengetahuan, baik para widya maupun apara widya sebagai pedoman untuk menghilangkan papa.

d.    Anganyutaken Letuhing Bhuwana

Bhuwana yang letuh artinya alam lingkungan yang kotor dan tidak Lestari. Letuh juga memiliki makna kotor lahir dan batin. Dalam kitab Sarasamuccaya disebut dengan Bhuta hita. Bhuta ada lima yang disebut Panca Mahabhuta yaitu Akasa, Teja, Bayu, Apah dan Pertiwi. Kelima unsur ini wajib dijaga karena merupakan pembentuk alam semesta termasuk juga unsur pembentuk badan manusia. Jika kelima unsur ini rusak, maka kehidupan akan tidak harmonis, bahkan akan menjadi mala petaka bagi kehidupan di muka bumi ini. Olehnya itu patut dijaga kelestariaanya. Kegiatan upacara Melasti tujuannya untuk menanamkan nilai nilai kecintaan terhadap alam lingkungan, agar setiap orang senantiasa menjaga lingkungannya dimana mereka berada.

 

Yang menjadi perhatain bagi kita adalah tujuan Melasti adalah untuk memperoleh Tirtha Kamandalu yaitu air suci amerta kehidupan yang dapat memenuhi keinginan yang mulia. Keinginan ada dua asalnya yaitu Wisaya Kama dan Sreya Kama. Wisaya kama adalah keinginan yang dimotivasi atau di dorong oleh nafsu semata, sedangkan Sreya Kama adalah pemenuhan keinginan yang didorong oleh kesucian hati Nurani. Keinginan mulia ini misalnya melaksanakan Brata, ber dana punya, beryajna, membersihkan tempat ibadah, sembahyang, berdoa dan bekerja sesuai dengan aturan atau dharma. Melastia adalah symbol dari suatu upaya untuk mensucikan āḥBhuwana Alit (manusia) dan Bhuwana Agung (alam semesta). Dengan kesucian dan kebersihan tersebut kita bisa meraih suatu kehidupan yang mulia, bernartabat dan mendapat tempat untuk mengembangkan kehidupan yang mulia yang mendapat waranugraha dari Hyang Widhi. Olehnya itu Melasti memiliki tujuan juga mengembangkan Sreaya Kama.

 

Lebih lanjut tujuan Melasti adalah sebagai media sacral untuk menvisualisasikan proses hidup untuk memperoleh kehidupan yang sejahteran lahir dan bahagia Rohani di dunia ini sehinga mencapai tujuan yang tertinggi yaitu Moksha. Moksha dapat tercapai jika diri kita selalu menjaga hubungan harmoni dengan Sang Pencipta, menjaga diri agar tidak dikuasi  oleh sifat Kama, Kroda dan Moha, hilangnya sifat Klesa dalam diri dan menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat atau lestari. Inilah makna dari isi Lontar Sunarigama yang dinyataka sebagai upaya mengambil air kehidupan yang disebut “Amet sarining amertha kamandalu ring telenging segara. Hal ini setiap manusia berhak mendapatkan amertha kamadalu apabila melaksanakan sebagai mana yang dinyatakan dalam lontar Aji Swamandala tersebut diatas.


Sehubungan dengan melasti yang memiliki makna nyasa mengambil sari sari kehdiupan di dalam Samudra, mari kita renungkan sloka Bhagavad Gita III.10 :

Saha-yajñāḥ prajāḥ sŗţvā, purovāca prajāpatiḥ

anena prasaviyadhvam, ea vo’tv iţa-kāmadhuk

artinya :sesungguhnya sejak dahulu dikatakan, Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna, berkata :dengan ini engkau berkembang, sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginan.


Sloka Bhagavad Gita jelas menyampaikan bahwa ketika kita ingin mendapatkan amertha untuk kehidupan maka dunia ini telah menyediakannya sebagai sumber makanan sebagai kelangsungan hidup. Untuk mendapatkannya tentu jangan samapai merusak alam, sehingga kelestarian alam tetap terjaga.

Dari uraian tersebut maka untuk meraih kehdiupan yang Sejahtera lahir dan bathin maka terlebih dahulu kuatkan Sraddha dan Bhakti pada Hyang Widhi. Kuatnya Sraddha dan Bhakti pada Hyang Widhi kita jadikan motivasi meningkatkan social care (praja vahini) yang disebut anganyutaken laraning jagat, perbaikan kualitas diri dengan melepaskan klesa (kotoran) dan juga menghilangkan sikap hidup yang merusak alam.

       

e.    Upacara Nyejer

Selesai upacara Melasti di laut, danau atau disumber air lainya, symbol symbol suci akan di bawa Kembali ke tempat ibadah atau Pura dan selanjutnya dilaksanakan upacara Nyejer. Tujuannya untuk menstanakan symbol symbol suci seperti Pratima, Pecanangan dengan segala kelengkapanya berkumpul ditempat tempat suci (Pura). Kata Nyejer yang artinya tegak tak tergoyahkan. Tujuan Nyejer sesungguhnya membangun Sraddha dan Bhakti yang kuat kepada Hyang Widhi. Sifat ke Tuhanan yang kuat itu akan dapat memberikan manusia kekuatan untuk mengendalikan sidupnya sehari hari yang dihadang oleh berbagai godaan. Jika Sraddha dan Bhakti kuat penuh keyakinan maka segala godaan akan dapat diatasi. Manusia adalah tempatnya lupa, maka setiap hari raya suci keagamaan, seperti hari raya Nyepi dengan rangkaianya Melasti dan Tawur Kesangan umat Hindu diingatkan untuk memantapkan keyakinan dan selalu Bhakti pada Tuhan sebagai kekuatan dasar dalam menghadapi dinamika kehidupan.


 

2.      Upacara Taur Kesanga

Taur Kesanga tergolong upacara Bhuta yajna. Dalam lontar Agastya Parwa disebutkan “Bhuta Yadnya ngarania taur muang kapujan ring tuwuh’ , artinya Bhuta Yajna adalah mengembalikan dan melestarikan tumbuh – tumbuhan. Dengan petunjuk lontar ini maka makna Bhuta Yajna adalah untuk menumbuhkan keseimbangan Jiwa antara mengambil dan mengembalikan.

Setiap manusia mengambil berbagai sumber alam untuk kelangsungan hidupya seperti sumber alam : Air, Tanah, Api, Udara yang sehat, akasa, binatang dan tumbuh tubuhan yang dijadikan atau dioleh sebagai sumber makanan untuk kelangsungan hidup. Oleh karena mengambil maka ada kewajiban untuk mengembalikkanya agar lestari dan kemudian diambil kembali untuk kelangsungan hidup dan kebahagiaan dunia.

Alam semesta ini sesungguhnya badan jasmani Hyang Widhi sebagaimana dinayatakan dalam kitab suci Yajur Wrda XXXX. 1 dan dinyatakan kembali pada kitab Isopanisad I.1. Dengan Bhuta yajna artinya yajna untuk merawat badan Jasmani Hyang Widhi yang berbertuk Alam semesta ini atau alam semesta adalah linggih Hyang Widhi dan semuanya serba Tuhan (Sarva khalu idam Brahman). Karena itu tujuan hidup manusia Dharma, Kama, Artha dan Moksha bisa dilaksanakan dan terwujud jika semua Bhuta Hita Lestari. Dalam kitab Sarasamuccaya 141 dinyatakan sebagai berikut :

“Matamgnyan prihĕn tiksng bhūtahita, haywa tan māsih ring sarwaprāni, apan ikang prāņa ngaranya, ya ika nimitta ning kapagĕhan ikang catur warga, nāng dharma, artha, kāma, moka, hana pwa mangilangakĕn prāņa, ndya ta tan hilang de nika, mangkana ikang rumaka ring bhūtahita, ya ta mamagĕhakĕn catur warga ngaranya, abhūtahita ngaranikang tan karaka denya”.

(Oleh karena itu, usahakanlah kebahagiaan segala makhluk, janganlah tidak mengasihi semua makhluk hidup, karena yang bernama prana (kehidupan) adalah hal – hal yang menyebabkan keajegan Catur Warga seperti Dharma, Artha, Kama dan Moksha. Ada yang akan melenyapkan daya hidup (prāna hal itu tidak mungkin bisa dihilangkan olehnya. Begitulah keberadaan yang menjaga bhūtahita (kebahagiaan dunia).

 

3.      Catur Brata Penyepian (Menyepikan Gejolak Indrya)

Sehari setelah Upacara Taur (Upacara Bhuta Yajna) Tilem Kesanga yaitu tanggal apisan sasih kedasa umat Hindu melaksanakan Nyepi, yakni dengan penyepikan atau pengendalikan indrya agar tidak bergejolak untuk minta dipuaskan terus. Indra yang dikendalikan dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan Rohani. Untuk itu selalu diingatkan setiap perayaan hari raya nyepi. Pengendalian indrya bukan hanya pada hari raya nyepi saja, tetapi dilakukan setiap setiap hari. Hari raya nyepi adalah momentum agar kita jangan lupa untuk mengendalikan indrya yang dapat mendatangkan penderitaan.  


Pelaksanaan Brata Penyepian termuat dalam lontar sundarigama sebagai berikut :

….enjangnia Nyepi amati geni, tan wenang sajatma anyambut karya sakelwirnya ageni – geni saparanya tan wenang, kalinggania wenang Sang wruh ring tattwa jnyana gelarakena semadi, tapa yoga ametitis kasuniatan (Besoknya Nyepi tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi -api dan sejenisnya tidak boleh. Karenanya orang yang paham akan hakekat tattwa agama agar melakukan semadi, tapa dan yoga mencapai alam sunya (alam Rohani).


Dari teks lontar Sundarigama inilah yang dikontruksi oleh PHDI Pusat lewat Pesamuan Agungnya menjadi Catur Brata Penyepian yang meliputi

  • Amati Geni yaitu tidak menyalakan api termasuk memasak. Itu berarti melakukan Upawasa (puasa).
  • Amati Karya yaitu tidak bekerja. Yang memiliki makna menyepikan indrya atau tidak menumbar hawa nafsu
  • Amati Lelungan yaitu tidak bepergian, tinggal dirumah selama 24 jam, dengan selalu melakukan ibadah
  • Amati Lelanguan yaitu tidak mencari hiburan, atau mengeluarkan suara music, melainkan memusatkan pikiran sambul merenungkan perjalanan hidup selala satu tahun dan berupaya untuk memperbaiki diri.

Catur Brata Penyepian diatas adalah untuk umat Hindu pada umumnya. Sedangkan bagi umat yang telah memasuki Pendidikan dan Latihan yang menjurus pada kerohanian pada saat Nyepi seyogyanya melakukan Tapa, Brata, Yoga Samadi.

 

Sehubungan Brata Penyepian, baiknya kita renungkan sloka Bhagavad Gita IV. 39 :

Sraddhāvām labhate jnyanam,

tatparah samyatendriyah,

jnyānam labdhvā parām santim,

acirena dhigacchati

Ia yang mempunyai keyakinan yang kuat memusatkan pikiran padaNya. Menyepikan Indryanya akan mendaptkan kebijaksanaan. Setelah mendapatkan kebijaksanaan ia segera akan mencapai puncak keheningan jiwa.

 

Tujuan Brata penyepian adalah untuk menguasai diri menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan Dharma sebaik -  baiknya menuju keseimbangan Dharma, Artha, Kama demi terwujudnya Moksha. Brata Penyepian dilaksanakan disamping untuk memperingatai Tahun Baru Çaka juga untuk meningkatkan, memperkokoh kualitas Sraddha dan Bhakti pada Hyang Widhi. Dengan mengaktualisasikan nilai nilai perayaan Brata penyepian diharapkan hidup rukun, damai dan harmonis dengan Tuhan, sesame dan alam lingkungan untuk mewujudnyatakan ajaran Tri Hita Karana.

 

Jika kita perhatikan rangkaian perayaan hari raya nyepi (Melasti, Taur Kesanga dan Brata Penyepian) , sebagai mana uraian diatas maka penuh dengan nilai nilai spiritual. Nilai nilai spiritual ini patut kita jadikan sadhana untuk menjaga hubungan harmonis dengan Hyang Widhi, dengan sesame (manusia)  dan menjaga hubungan harmonis dengan alam lingkungan (Tri Hita Karana). Disamping itu untuk menguatkan Sraddha dan Bhakti kita kepada Hyang Widhi Wasa, sebagaimana makna dari upacara Nyejer. Dan terpenting adalah perayaan Nyepi Tahun Baru Saka sebagai  sadhana untuk meningkatkan kesadaran hidup rukun, damai dan penuh Toleransi diantara anak suku bangsa Indonesia (Vasudewa Kutumbhakam).

 

Om Santih Santih Santih Om

 

Daftar Rujukan :

  1. Bhagavad Gita dan Terjemahannya ------Pen. Direktorat Jenderal Bimas Hindu Kementerian Agama RI, 2021
  2. Sarasamuccaya dan terjemahan ------Pen. Direktorat Jenderal Bimas Hindu Kementerian Agama RI, 2021
  3. Koleksi lontar Bali -------------- Komang Putra, Pen. Bali Publisher 2023
  4. Makna Hari Raya Hindu ------------- Drs. I Ketut Wiana, M.Ag, Pen. Paramita Surabaya
  5. Tata Cara Ritual dan Tradisi Hindu------ Editor I Ketut Donder, Pen. Paramita Surabaya
  6. Manawa Dharmasastra ----- Gede Pudja, MA dan Tjokorda Rai Sudharta, MA, Pen. Widya Dharma Denpasar 2012
  7.  Canakya Niti Sastra Terjemahan ---------- Darmayasa, Pen. Hanuman Sakti Jakarta 1992

Editor: arfan

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default