Hari Raya Nyepi Sebagai SADHANA Peningkatan SRADDHA Dan BHAKTI

Kontributor

Oleh : I Ketut Mundra, S.Ag
Penyuluh
Ahli Madya Agama Hindu
Dvau
bhūtasargau loke’smin
daiva āsura eva ca,
daivo vistaraśaḥ prokta
āsuraṁ
pārtha me śŗņu
Bhagavad Gita XVI.6
Ada dua macam makhluk diciptakan di dunia,
yaitu bersifat Ketuhanan (daivaḥ)
dan
bersifat Keraksasaan (āsuraṁ), yang bersifat
ketuhanan sudah dijelaskan dengan Panjang lebar.
Dengarkanlah Aku, Oh Pārtha (Arjuna) tentang
sifat jahat/raksasa/setan.
Hari Raya Nyepi dirayakan setiap tahun sekali,
tepatnya pada sasih kedasa tanggal apisan. Hari raya Nyepi kali ini jatuh pada
tanggal, 29 Maret 2025, tahun Çaka 1947. Hari raya Nyepi juga disebut sebagai hari raya
perayaan dalam rangka menyambut Tahun Baru Çaka. Tahun Baru Çaka ini dirayakan
karena memiliki nilai historis yang mampu mempersatukan suku – suku yang
dulunya bermusuhan dan hidup dengan rukun dengan penuh toleransi.
Eksistensi Tahun Çaka di India merupakan tonggak sejarah
yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. Suku – suku bangsa yang
bermusuhan itu adalah Pahlawa, Yuehchi, Malawa dan suku bangsa Saka. Suku –
suku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukan suku suku yang
lainnya. Perang suku yang berkepanjangan ini menyebabkan suku bangsa Saka
menjadi bosan pada perang dan politik. Setiap ada suku yang menang selalu
menindas suku yang kalah. Demikian juga suku yang kalah selalu berusaha
membalas dendam untuk menjatuhkan suku yang menang.
Dengan adanya perang yang berlarut larut ini
menyebabkan kebosanan bagi suku Saka, sehingga ia mempunyai inisatif untuk
merubah haluan perjuanganya, dari
politik peperangan dengan jalan meningkatkan sukunya secara ekonomi dan
kebudayaan. Untuk meningkatkan kesejahteraan maka harus menguasai Astronomi.
Pertanian, Peternakan dan perdagangan membutuhkan pengetahuan tentang musim
yang bersumber dari Astronomi untuk membangun sisten ekonomi yang agraris.
Sistim Astronomi disusun oleh suku Saka untuk meningkatkan kesejahteraan suku
bagsa Saka.
Pada tahun 125 SM yang berkuasa di India adalah di
nasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi merasa terketuk hatinya atas perubahan haluan
perjuangan suku bangsa Çaka. Dinasti Kushana pun berubah juga haluan
perjuangannya. Kekuasaan yang dipegangnya tidak lagi digunakan untuk menindas
dan menghancurkan suku – suku yang kalah atau tidak berkuasa. Kekuasaan yang
dipegangnya dipakai untuk merangkul semua suku bangsa yang ada di India. Untuk
merangkulnya yang ada di India dinasti Kushana mengambil puncak – puncak kebudayaan
suku – suku bangsa tersebut menjadi kebudayaan Kerajaan.
Pada tanggal 21 Maret tahun 78 masehi Raja Kaniska
I dari dinasti Kushana keturunan suku
bangsa Yuehchi mengangkat sistim
penanggalam Çaka menjadi penanggalan Kerajaan. Hal ini dilakukan karena sistim
penanggalan Çaka sudah demikian popular dan telah berhasil menuntun suku bangsa
di India bercocok tanam, beternak dan berdagang dengan menggunakan sistem
penanggalam Saka. Semenjak itu bangkitlah kesadaran suku – suku bangsa lainnya
di India untuk hdiup dengan penuh persahabatan, Toleransi dalam membangun kesejahteraan
bersama (Dharma Siddhiyartha) di India. Akibat adanya kesadaran, Toleransi dan
Persatuan ini system Kalender Saka semakin berkembang mengikuti persebaran Weda
(agama Hindu), hingga ke Indonesia pada abad ke 4 Masehi.
Pada jaman Kerajaan Majapahit di Indonesia sistem
Penggalan Çaka benar – benar telah berkembang dan eksistensinya sangat diakui
dalam Kerajaan Majapahit dan setiap bulan Maret (Cetra) tahun Çaka diperingati
dengan upacara keagamaan. Setiap tanggal 1 s.d 3 Cetra (maret) setiap tahun di
alun alun Majapahit berkumpul seluruh kepada pemerintahan, prajurit, para
ilmuwan, Pandita Siwa dan Buddha yang dihadiri oleh Sri Baginda Raja
membicarakan tentang berbagai hal yang telah dikerjakan tahun sebelumnya dan
yang paling urgen adalah pembicaraan tentang peningkatan moral Masyarakat,
meningkatkan kesadaran hidup rukun dengan penuh kedamaian.
Manusia menginginkan hidup damai, baik sekarang maupun
masa yang akan datang. Umat hindu di zaman globalisasi yang modern ini bagaikan
berenang di Samudra perbedaan. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat.
Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini semakin eksis dan bukan merupakan
sesuatu yang negative.
Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila
manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Selanjutnya
setelah agama Hindu berkembang di Bali barulah Perayaan Tahun Baru Çaka
dirayakan dengan kegiatan Melasti, Taur Kesanga dengan Brata Penyepian sebagai
puncaknya.
Dalam filsafat Samkhya dan Yoga Darsana manusia
diciptakan oleh Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa melalui perpaduan dua unsur
yaitu unsur kejiwaan yang disebut Puruśa dan unsur kebendaan yang disebut Predana.
Dari perpaduan kedua unsur ini menimbulkan dua kecendrungan dalam diri manusia.
Dua kecendrungan itu sebagaimana termuat dalam kitab
Bhagavad Gita XVI. 6 diatas yang dinamakan Daiwi Sampad dan Asuri Sampad. Daiwi
Sampad adalah sifat – sifat yang memotivasi manusia cendrung berbuat mulai
seperti sifat – sifat para Dewa yang mendekatkan manusia pada Hyang Widhi Wasa,
sedangkan Asuri Sampad adalah sifat – sifat yang mendorong manusia untuk
berbuat jahat menjauh dari Hyang Widhi Wasa, seperti perbuatan raksasa atau
asura.
Munculnya dua kecendrungan tersebut karena pertemuan
Puruśa dan Predana. Puruśa membawa alam pikiran yang terang (Citta) sehingga
menyebabkan terjadinya kecendrungan ke Dewaan, sedangkan Predana membawa Klesa
yang menimbulkan kecendrungan sifat keraksasaan. Citta yang meliputi Dharma(mendorong
manusia untuk selalu berkarma baik), Jnyana
(mendorong manusia untuk selalu mencari dan mengamalkan ilmu pengetahuan
suci), Wairagya (mendorong manusia untuk Ikhlas beramal demi kebenaran
dan Kebajikan dan Aiswarya (mendorong manusia untuk secara kontinyuitas meningkatkan
kesucian dirinya).
Karakter atau sifat – sifat yang dibawa oleh Citta
sangat berlawanan dengan sifat sifat yang ditimbulkan oleh unsur Predana yang
disebut Klesa; yakni yang mendominasi manusia memiliki sifat – sifat adharma
atau kejahatan yang akan menyebabkaan manusia papa dalam menjalani
kehidupannya.
Oleh karena itu ajaran Hindu mengajarkan manusia untuk
menyepikan ruang gerak dari sifat Klesa agar tidak menghalangi perkembangan dan
eskpresi unsur – unsur Citta, sehingga manusia dapat melakukan Dharma sebaik
baiknya. Jika manusia dikuasai oleh Klesa maka akan menjadikan manusia
Papa yang meliputi Awidya (kegelapan karena rendahnya pemahaman
pengetahuan suci), Asmita (sifat sombong, angkuh, mau menang sendiri,
tidak memiliki kepekaan social dan tidak mau menerima saran atau pendapat orang
lain), Raga (suka mengumbar hawa nafsu atau sangat keterikatan terhadap
benda – benda duniawi), Dwesa (sifat pemarah, benci, bengis, dendam) dan
Abhiniwesa (merasa takut yang berlebihan karena keterikatan pada
kehidupan duniawi. Untuk memenangkan Citta agar dapat menguasai sifat – sifat
Klesa, agama Hindu mengajarkan berbagai cara yang bernilai Tattva, Susila dan
Upacara. Salah satunya melalui hari raya raya Nyepi. Perayaan hari raya nyepi
dengan berbagai rangkaian kegiatan dilakukan untuk membangkitkan kesadaran umat
Hindu untuk memenangkan Citta atas Klesa agar terhindar dari papa klesa atau
penderitaan.
Dalam
kitab Katha Upanisad ada suatu perumpamaan bahwa manusia di ibaratkan seperti Kereta.
Badan Kereta ibarat badan jasmani, Kuda ibarat Indrya, Tali Lis/ tali kekang
kereta ibarat pikiran, Kusir kereta ibarat kesadaran budhi, pemilik kereta
ibarat Atman. Kereta akan dapat berjaan baik jika badan kereta tidak rusak.
Kuda sehat dan penuh pada gerak tali kendali yang digerakan oleh kusir kereta.
Kusir kereta menggerakan sesuai dengan pemilik kereta yaitu Atman.
Dari
perumpamaan ini yang harus sepi sari nafasu keinginan adalah Kuda. Kuda tidak
boleh berkehendak sendiri. Kuda hanya bergerak sesuai dengan arahan tali
kereta. Demikian juga tali kereta hanya bergerak kalau digerakan oleh kusir
kereta. Kusir kereta hanya menggerakan arah kereta sesuai dengan perintah dari
pemilik kereta.
Perumpaan
yang termuat dalam kitab Katha Upanisad itu seseorang akan mampu mejalankan
hidup di dunia ini dengan baik dan benar, jika dikendalikan oleh Atman Sang
pemberi hidup, karena sesungguhnya Atman adalah sinar suci Brahman yang menjadi
sumber kehidupan atas jiwa premana dalam diri manusia atau Bhuwana alit. Atman
selalu memancarkan perintah kebenaran dan kesucian.
Oleh
karena itu tidak ada manusia yang tidak bearti Nurani suci dan benar. Cuma
suara hati Nurani itu tidak mampu digemakan oleh pikiran, karena pikiran telah
dikuasi oleh Indrya. Karena itu hakekat Nyepi adalah menyepikan gejolak Indrya.
Tapa, Brata, Yoga dan Semadi patutlah dilaksanakan pada perayaan hari raya
Nyepi. Tujuannya memperkuat Bhudi dan manah agar tidak mengarah pada berbuatan
adharma.
Rangkaian
Perayaan Hari Raya Nyepi sebagai sadhana meningkatkan Sraddha dan Bhakti :
1.
Upacara
Melasti
Tujuan dilaksanakannya Melasti dijelaskan dalam lontar
Sang Hyang Aji Swamandala dan lontar Sundarigama.
Melasti ngaranya ngiring prawatek Dewata,
anganyutaken laraning jagad, papa klesa, letuhing
bhuwana
Lontar Sang Hyang Aji Swamandala
artinya :
Melasti adalah meningkatkan bhakti pada Hyang Widhi
Wasa, menganyutkan penderitaan Masyarakat, menghoilangkan pap klesa dan kotoran
alam semesta).
Amet sarining amertha kamandalu ring telenging segara.
Lontar : Sundarigama
Artinya :
Mengambil sari
– sari kehidupan di tengah Samudra)
Dari kedua kutipan lontar tersebut diatas terkandung
makna yang sangat luas, dalam dan universal mengenai makna dari upacara
Melasti. Dari lontar Sang Hyang Aji Swamandala tersebut Upacara Melasati
memberikan arah atau motivasi kepada umat Hindu untuk melakukan empat hal agar
hidup menjadi bermakna dan mudah untuk mendapatkan sari – sari kehidupan.
Keempat hal tersebut :
a. Ngiring
Prawatek Dewata
Artinya membangun sikap hidup untuk senantiasa
menguatkan Sraddha dan Bhakti dan patuh pada tuntunan sinar suci Hyang Widhi
Wasa. Kita ketahui bahwa Hyang Widhi hanya dapat didekati dengan sifat – sifat
kebaikan, cinta kasih dan hati penuh dengan kedamaian. Tanpa itu maka akan
sangat sulit menerima waranugraha Hyang Widhi Wasa.
b. Anganyutaken
Laraning Jagat
Artinya dengan kegiatan Melasti umat Hindu dimotivasi secara ritual untuk membangkitkan spiritual kita untuk berusaha menghilangkankan laraning jagat atau penderitaan hidup. Penderitaan hidup akan dipetroleh jika selalu mengedepankan sifat loba, kroda dan Mada. Hal ini dinyatakan dalam kitab Bhagavad Gita XVI. 21 : Tri - vidhaṁ narakasyedaṁ, dvāraṁ nāśanam ātmanaḥ, kāmaḥ krodhas tathā lobhas, tasmād etat trayaṁ tyajet. Kemudian dalam kitab Manawa Dharmasastra V. 109 dinyatakan upaya untuk mensucikan badan, pikiran, atman dan akal budhi kita adalah dengan air, kejujuran, tapa brata dan pengerahuan suci (Abbhirgatrani cuddhyanti, manah styena cuddhyanti, widyotapobhyam bhutatma, budhir jnanena cuddhyanti). Jika sifat loba, krodha dan kama mampu dikendalikan dan tidak menguasai diri kita serta kita mampu untuk memelihara tubuh kita dengan menjaga kebersihan badan, pikiran selalu suci, jiwa selalu suci dan akal budi selalu memiliki pengetahuan yang suci dan diaktualisasikan dalam kehdiupan sehari hari, sumber penderitaan Masyarakat baik yang niskala dan sekala akan dapat diraih.
c. Angayutaken
Papa Klesa
Hidup menderita /klesa disebabkan oleh lima hal yaitu
awidya (kegelapan), Asmita (angkuh, sombong), Raga (keterikatan terhadap
keduniawian yang berlebihan), Dwesa (sifat dendam, pembenci, mau menang
sendiri) dan Abhinivesa (rasa takut yang berlebihan). Hidup yang papa adalah
hidup yang berjalan jauh diluar Citta atau Dharma. Disinilah pentingnya
memiliki pengetahuan, baik para widya maupun apara widya sebagai pedoman untuk
menghilangkan papa.
d. Anganyutaken
Letuhing Bhuwana
Bhuwana yang letuh artinya alam lingkungan yang kotor
dan tidak Lestari. Letuh juga memiliki makna kotor lahir dan batin. Dalam kitab
Sarasamuccaya disebut dengan Bhuta hita. Bhuta ada lima yang disebut Panca
Mahabhuta yaitu Akasa, Teja, Bayu, Apah dan Pertiwi. Kelima unsur ini wajib
dijaga karena merupakan pembentuk alam semesta termasuk juga unsur pembentuk
badan manusia. Jika kelima unsur ini rusak, maka kehidupan akan tidak harmonis,
bahkan akan menjadi mala petaka bagi kehidupan di muka bumi ini. Olehnya itu
patut dijaga kelestariaanya. Kegiatan upacara Melasti tujuannya untuk
menanamkan nilai nilai kecintaan terhadap alam lingkungan, agar setiap orang
senantiasa menjaga lingkungannya dimana mereka berada.
Yang menjadi perhatain bagi kita adalah tujuan Melasti
adalah untuk memperoleh Tirtha Kamandalu yaitu air suci amerta kehidupan yang
dapat memenuhi keinginan yang mulia. Keinginan ada dua asalnya yaitu Wisaya
Kama dan Sreya Kama. Wisaya kama adalah keinginan yang dimotivasi atau di
dorong oleh nafsu semata, sedangkan Sreya Kama adalah pemenuhan keinginan yang
didorong oleh kesucian hati Nurani. Keinginan mulia ini misalnya melaksanakan
Brata, ber dana punya, beryajna, membersihkan tempat ibadah, sembahyang, berdoa
dan bekerja sesuai dengan aturan atau dharma. Melastia adalah symbol dari suatu
upaya untuk mensucikan āḥBhuwana Alit (manusia) dan Bhuwana Agung (alam
semesta). Dengan kesucian dan kebersihan tersebut kita bisa meraih suatu
kehidupan yang mulia, bernartabat dan mendapat tempat untuk mengembangkan
kehidupan yang mulia yang mendapat waranugraha dari Hyang Widhi. Olehnya itu
Melasti memiliki tujuan juga mengembangkan Sreaya Kama.
Lebih lanjut tujuan Melasti adalah sebagai media
sacral untuk menvisualisasikan proses hidup untuk memperoleh kehidupan yang
sejahteran lahir dan bahagia Rohani di dunia ini sehinga mencapai tujuan yang
tertinggi yaitu Moksha. Moksha dapat tercapai jika diri kita selalu menjaga
hubungan harmoni dengan Sang Pencipta, menjaga diri agar tidak dikuasi oleh sifat Kama, Kroda dan Moha, hilangnya
sifat Klesa dalam diri dan menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat atau lestari.
Inilah makna dari isi Lontar Sunarigama yang dinyataka sebagai upaya mengambil
air kehidupan yang disebut “Amet sarining amertha kamandalu ring telenging
segara. Hal ini setiap manusia berhak mendapatkan amertha kamadalu apabila
melaksanakan sebagai mana yang dinyatakan dalam lontar Aji Swamandala tersebut
diatas.
Sehubungan dengan melasti yang memiliki makna nyasa
mengambil sari sari kehdiupan di dalam Samudra, mari kita renungkan sloka
Bhagavad Gita III.10 :
Saha-yajñāḥ prajāḥ sŗṣţvā,
purovāca prajāpatiḥ
anena prasaviṣyadhvam,
eṣa vo’tv iṣţa-kāmadhuk
artinya :sesungguhnya sejak dahulu dikatakan, Tuhan setelah menciptakan manusia melalui yajna, berkata :dengan ini engkau berkembang, sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginan.
Sloka Bhagavad Gita jelas menyampaikan bahwa ketika
kita ingin mendapatkan amertha untuk kehidupan maka dunia ini telah
menyediakannya sebagai sumber makanan sebagai kelangsungan hidup. Untuk
mendapatkannya tentu jangan samapai merusak alam, sehingga kelestarian alam
tetap terjaga.
Dari uraian tersebut maka untuk meraih kehdiupan yang
Sejahtera lahir dan bathin maka terlebih dahulu kuatkan Sraddha dan Bhakti pada
Hyang Widhi. Kuatnya Sraddha dan Bhakti pada Hyang Widhi kita jadikan motivasi
meningkatkan social care (praja vahini) yang disebut anganyutaken laraning
jagat, perbaikan kualitas diri dengan melepaskan klesa (kotoran) dan juga
menghilangkan sikap hidup yang merusak alam.
e. Upacara
Nyejer
Selesai upacara Melasti di laut, danau atau disumber air lainya, symbol symbol suci akan di bawa Kembali ke tempat ibadah atau Pura dan selanjutnya dilaksanakan upacara Nyejer. Tujuannya untuk menstanakan symbol symbol suci seperti Pratima, Pecanangan dengan segala kelengkapanya berkumpul ditempat tempat suci (Pura). Kata Nyejer yang artinya tegak tak tergoyahkan. Tujuan Nyejer sesungguhnya membangun Sraddha dan Bhakti yang kuat kepada Hyang Widhi. Sifat ke Tuhanan yang kuat itu akan dapat memberikan manusia kekuatan untuk mengendalikan sidupnya sehari hari yang dihadang oleh berbagai godaan. Jika Sraddha dan Bhakti kuat penuh keyakinan maka segala godaan akan dapat diatasi. Manusia adalah tempatnya lupa, maka setiap hari raya suci keagamaan, seperti hari raya Nyepi dengan rangkaianya Melasti dan Tawur Kesangan umat Hindu diingatkan untuk memantapkan keyakinan dan selalu Bhakti pada Tuhan sebagai kekuatan dasar dalam menghadapi dinamika kehidupan.
2.
Upacara
Taur Kesanga
Taur Kesanga tergolong upacara Bhuta yajna. Dalam
lontar Agastya Parwa disebutkan “Bhuta Yadnya ngarania taur muang kapujan
ring tuwuh’ , artinya Bhuta Yajna adalah mengembalikan dan melestarikan
tumbuh – tumbuhan. Dengan petunjuk lontar ini maka makna Bhuta Yajna adalah
untuk menumbuhkan keseimbangan Jiwa antara mengambil dan mengembalikan.
Setiap manusia mengambil berbagai sumber alam untuk
kelangsungan hidupya seperti sumber alam : Air, Tanah, Api, Udara yang sehat,
akasa, binatang dan tumbuh tubuhan yang dijadikan atau dioleh sebagai sumber
makanan untuk kelangsungan hidup. Oleh karena mengambil maka ada kewajiban
untuk mengembalikkanya agar lestari dan kemudian diambil kembali untuk
kelangsungan hidup dan kebahagiaan dunia.
Alam semesta ini sesungguhnya badan jasmani Hyang Widhi sebagaimana dinayatakan dalam kitab suci Yajur Wrda XXXX. 1 dan dinyatakan kembali pada kitab Isopanisad I.1. Dengan Bhuta yajna artinya yajna untuk merawat badan Jasmani Hyang Widhi yang berbertuk Alam semesta ini atau alam semesta adalah linggih Hyang Widhi dan semuanya serba Tuhan (Sarva khalu idam Brahman). Karena itu tujuan hidup manusia Dharma, Kama, Artha dan Moksha bisa dilaksanakan dan terwujud jika semua Bhuta Hita Lestari. Dalam kitab Sarasamuccaya 141 dinyatakan sebagai berikut :
“Matamgnyan prihĕn tiksng bhūtahita, haywa tan māsih ring sarwaprāni, apan ikang
prāņa ngaranya, ya ika nimitta ning kapagĕhan ikang catur warga, nāng dharma, artha,
kāma, mokṣa, hana pwa
mangilangakĕn prāņa, ndya ta tan hilang de nika, mangkana ikang rumakṣa ring bhūtahita,
ya ta mamagĕhakĕn catur warga ngaranya, abhūtahita
ngaranikang tan karakṣa denya”.
(Oleh
karena itu, usahakanlah kebahagiaan segala makhluk, janganlah tidak mengasihi
semua makhluk hidup, karena yang bernama prana (kehidupan) adalah hal – hal
yang menyebabkan keajegan Catur Warga seperti Dharma, Artha, Kama dan Moksha.
Ada yang akan melenyapkan daya hidup (prāna hal itu tidak mungkin bisa
dihilangkan olehnya. Begitulah keberadaan yang menjaga bhūtahita
(kebahagiaan dunia).
3.
Catur
Brata Penyepian (Menyepikan Gejolak Indrya)
Sehari setelah Upacara Taur (Upacara Bhuta Yajna)
Tilem Kesanga yaitu tanggal apisan sasih kedasa umat Hindu melaksanakan Nyepi,
yakni dengan penyepikan atau pengendalikan indrya agar tidak bergejolak untuk
minta dipuaskan terus. Indra yang dikendalikan dapat meningkatkan kesehatan
jasmani dan Rohani. Untuk itu selalu diingatkan setiap perayaan hari raya
nyepi. Pengendalian indrya bukan hanya pada hari raya nyepi saja, tetapi
dilakukan setiap setiap hari. Hari raya nyepi adalah momentum agar kita jangan
lupa untuk mengendalikan indrya yang dapat mendatangkan penderitaan.
Pelaksanaan Brata Penyepian termuat dalam lontar
sundarigama sebagai berikut :
….enjangnia Nyepi amati geni, tan wenang sajatma
anyambut karya sakelwirnya ageni – geni saparanya tan wenang, kalinggania
wenang Sang wruh ring tattwa jnyana gelarakena semadi, tapa yoga ametitis
kasuniatan (Besoknya
Nyepi tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi
-api dan sejenisnya tidak boleh. Karenanya orang yang paham akan hakekat tattwa
agama agar melakukan semadi, tapa dan yoga mencapai alam sunya (alam Rohani).
Dari teks lontar Sundarigama inilah yang dikontruksi
oleh PHDI Pusat lewat Pesamuan Agungnya menjadi Catur Brata Penyepian yang
meliputi
- Amati Geni yaitu tidak menyalakan api termasuk memasak. Itu berarti melakukan Upawasa (puasa).
- Amati Karya yaitu tidak bekerja. Yang memiliki makna menyepikan indrya atau tidak menumbar hawa nafsu
- Amati Lelungan yaitu tidak bepergian, tinggal dirumah selama 24 jam, dengan selalu melakukan ibadah
- Amati Lelanguan yaitu tidak mencari hiburan, atau mengeluarkan suara music, melainkan memusatkan pikiran sambul merenungkan perjalanan hidup selala satu tahun dan berupaya untuk memperbaiki diri.
Catur
Brata Penyepian diatas adalah untuk umat Hindu pada umumnya. Sedangkan bagi
umat yang telah memasuki Pendidikan dan Latihan yang menjurus pada kerohanian
pada saat Nyepi seyogyanya melakukan Tapa, Brata, Yoga Samadi.
Sehubungan Brata Penyepian, baiknya kita renungkan
sloka Bhagavad Gita IV. 39 :
Sraddhāvām labhate
jnyanam,
tatparah
samyatendriyah,
jnyānam labdhvā parām
santim,
acirena dhigacchati
Ia yang mempunyai keyakinan yang kuat memusatkan
pikiran padaNya. Menyepikan Indryanya akan mendaptkan kebijaksanaan.
Setelah mendapatkan kebijaksanaan ia segera akan mencapai puncak keheningan
jiwa.
Tujuan Brata penyepian adalah untuk menguasai diri
menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan Dharma sebaik - baiknya menuju keseimbangan Dharma, Artha,
Kama demi terwujudnya Moksha. Brata Penyepian dilaksanakan disamping untuk
memperingatai Tahun Baru Çaka juga untuk meningkatkan, memperkokoh kualitas
Sraddha dan Bhakti pada Hyang Widhi. Dengan mengaktualisasikan nilai nilai
perayaan Brata penyepian diharapkan hidup rukun, damai dan harmonis dengan
Tuhan, sesame dan alam lingkungan untuk mewujudnyatakan ajaran Tri Hita Karana.
Jika kita perhatikan rangkaian perayaan hari raya
nyepi (Melasti, Taur Kesanga dan Brata Penyepian) , sebagai mana uraian diatas
maka penuh dengan nilai nilai spiritual. Nilai nilai spiritual ini patut kita
jadikan sadhana untuk menjaga hubungan harmonis dengan Hyang Widhi, dengan
sesame (manusia) dan menjaga hubungan
harmonis dengan alam lingkungan (Tri Hita Karana). Disamping itu untuk
menguatkan Sraddha dan Bhakti kita kepada Hyang Widhi Wasa, sebagaimana makna
dari upacara Nyejer. Dan terpenting adalah perayaan Nyepi Tahun Baru Saka sebagai sadhana untuk meningkatkan kesadaran hidup
rukun, damai dan penuh Toleransi diantara anak suku bangsa Indonesia (Vasudewa
Kutumbhakam).
Om Santih Santih Santih Om
Daftar
Rujukan :
- Bhagavad Gita dan Terjemahannya ------Pen. Direktorat Jenderal Bimas Hindu Kementerian Agama RI, 2021
- Sarasamuccaya dan terjemahan ------Pen. Direktorat Jenderal Bimas Hindu Kementerian Agama RI, 2021
- Koleksi lontar Bali -------------- Komang Putra, Pen. Bali Publisher 2023
- Makna Hari Raya Hindu ------------- Drs. I Ketut Wiana, M.Ag, Pen. Paramita Surabaya
- Tata Cara Ritual dan Tradisi Hindu------ Editor I Ketut Donder, Pen. Paramita Surabaya
- Manawa Dharmasastra ----- Gede Pudja, MA dan Tjokorda Rai Sudharta, MA, Pen. Widya Dharma Denpasar 2012
- Canakya Niti Sastra Terjemahan ---------- Darmayasa, Pen. Hanuman Sakti Jakarta 1992