Hitasukhaya Hadir !, Pedoman Perkawinan Buddhis Kekinian Untuk Calon Pengantin Indonesia
Kontributor
Jakarta, HUMAS KEMENAG - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI menyelenggarakan kegiatan “Diseminasi Buku Hitasukhaya: Bimbingan Perkawinan dalam Agama Buddha Menuju Keluarga Bahagia dan Harmonis”sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan bimbingan perkawinan bagi umat Buddha di Indonesia. Penyusunan Buku Hitasukhaya diharapkan menjadi pedoman yang komprehensif, aplikatif, dan berlandaskan nilai-nilai luhur ajaran Buddha.
Kegiatan diseminasi dilaksanakan secara hybrid pada Kamis, 4 Desember 2025. Pelaksanaan luring dipusatkan di Kantor Ditjen Bimas Buddha, Jl. Thamrin No.6, Jakarta Pusat, sementara pelaksanaan daring diikuti oleh kurang lebih 300 peserta yang terdiri dari Pembimas Buddha, Kasi/Penyelenggara Buddha, serta Penyuluh Agama Buddha dari berbagai daerah. Bimas Buddha Sulawesi Selatan beserta para Penyuluh Agama Buddha juga ikut serta secara aktif mengikuti kegiatan ini melalui daring. Subdit Penyuluhan bertindak sebagai penanggung jawab perencanaan, pelaksanaan, hingga pengadaan Buku Hitasukhaya.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha, Nyoman Suriadarma; Kasubdit Penyuluhan, Sariyono; Kasubdit Pemberdayaan Umat, I Nyoman Ariawan; serta Kasubdit Kelembagaan, Pandhit Amanvijaya. Dalam sambutan pembukaan, Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha menyampaikan bahwa penyusunan Buku Hitasukhaya merupakan komitmen Ditjen Bimas Buddha dalam menghadirkan layanan bimbingan perkawinan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta selaras dengan perkembangan zaman.
Buku Hitasukhaya disusun dengan mengintegrasikan nilai-nilai ajaran Buddha dan pendekatan multidisipliner, meliputi aspek psikologi, kesehatan, ekonomi, serta hukum dan administrasi perkawinan. Buku yang terdiri dari sembilan bab ini memuat materi mengenai perkawinan dalam Agama Buddha, persiapan kesehatan, psikologi perkawinan, ekonomi rumah tangga, bimbingan pra-pernikahan bagi remaja usia sekolah, serta dilengkapi kisah-kisah dari relief Borobudur yang merefleksikan kehidupan keluarga yang harmonis.
Sesi diskusi dipandu oleh Kasubdit Penyuluhan dan diawali dengan pemaparan dari penulis buku, Dr. H.C. Drs. Handaka Vijjananda, Apt., yang menjelaskan proses penyusunan serta pokok-pokok isi buku. Para peserta memberikan beragam masukan dan catatan perbaikan yang disampaikan secara konstruktif dan diterima dengan baik oleh penulis untuk penyempurnaan materi.
Kasubdit Penyuluhan menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif para peserta dalam memberikan masukan. Seluruh masukan tersebut akan dihimpun dan ditelaah lebih lanjut oleh penulis bersama Subdit Penyuluhan guna penyempurnaan naskah final Buku Hitasukhaya.
Hasil revisi selanjutnya akan dibahas dalam kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) dengan melibatkan tokoh-tokoh agama Buddha untuk memperoleh pandangan dan persetujuan sebelum proses pencetakan dilakukan. “Semoga Buku Hitasukhaya dapat didistribusikan kepada tokoh agama, pandita, penyuluh agama, serta masyarakat luas pada tahun 2026,” ujar Kasubdit Penyuluhan. (Mrj)