Daerah

Ketika Teknologi Melesat, Keteladanan Guru Tetap Jadi Cahaya

Foto Kontributor
Onya Hatala

Kontributor

Rabu, 26 November 2025
...

Oleh : Muhammad Alimuddin Usman, PdI., M.Pd., C.ET., C.QEM 


Penulis adalah Direktur Pondok Pesantren Babussalam Arrahmah, Wakamad Humas MAN Gowa, Ketua Umum DPK BKPRMI & PPMI Kecamatan Tompobulu, Koordinator Tim Dai Rumah Dakwah Babussalam.

Setiap tahun, menjelang Hari Guru Nasional, ada perasaan yang selalu hadir dalam hati saya—sebuah rasa haru yang sulit dijelaskan. Mungkin karena saya tahu betapa berat langkah para guru ketika memasuki ruang kelas, membawa bukan hanya buku dan rencana pembelajaran… tetapi juga harapan, doa, dan cinta yang tak pernah mereka ucapkan dengan kata-kata.

Di zaman ketika kecerdasan buatan mampu menyusun jawaban dengan kecepatan kilat dan menampilkan pengetahuan tanpa batas, ada momen-momen kecil dalam pendidikan yang terasa semakin berharga. Momen ketika seorang guru menepuk bahu siswanya yang sedang kehilangan semangat. Momen ketika seorang guru sengaja memperlambat penjelasan agar satu anak yang tertinggal bisa kembali mengejar. Momen ketika seorang guru memaafkan siswa yang berbuat salah, bukan karena mereka tidak mampu menghukum, tetapi karena hati mereka lebih memilih mendidik daripada melukai.

Dan di situlah letak sesuatu yang tidak dimiliki AI. Kecerdasan buatan mungkin dapat memahami kalimat, tetapi ia tidak pernah benar-benar memahami manusia.

Ia bisa meniru pola, tetapi tidak bisa merasakan air mata yang jatuh diam-diam di sudut ruangan karena seorang siswa sedang berjuang dengan hidupnya.

Ia bisa membuat rencana pembelajaran, tetapi tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menahan lelah demi masa depan generasi yang bahkan belum tentu mengingat nama kita kelak.

Guru hadir bukan untuk sekadar menjelaskan pelajaran.

Guru hadir untuk menuntun hati.

Guru hadir untuk menyalakan nurani.

Guru hadir untuk menjadi teladan ketika dunia sedang kehilangan arah.

Dalam sujud panjang seorang guru, ada nama-nama murid yang tidak pernah tahu bahwa mereka didoakan. Dalam kesabaran seorang guru, ada masa depan bangsa yang sedang dibentuk pelan-pelan. Dalam keteladanan seorang guru, ada cahaya kecil yang mengusir gelap dari jiwa-jiwa muda yang sedang mencari pegangan.

Teknologi boleh melaju tanpa menoleh ke belakang, tapi hati seorang guru selalu kembali kepada anak didiknya—yang masih belajar berdiri, belajar bermimpi, belajar menjadi manusia.

Karena itulah, meski dunia berubah, profesi guru tidak akan pernah digantikan oleh mesin. Sebab pendidikan bukan hanya soal mencerdaskan pikiran, tetapi juga soal menghidupkan hati.

Di Hari Guru Nasional ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih terdalam kepada para guru yang mungkin tidak pernah merasa cukup berarti… padahal merekalah penjaga keheningan di balik keberhasilan bangsa.

Terima kasih karena tetap hadir.

Tetap sabar.

Tetap tersenyum.

Tetap mengajar, meski kadang tidak dihargai sebagaimana mestinya.

Dan tetap menjadi cahaya—di saat banyak hati mulai redup.

Semoga Allah memberkahi setiap langkah para guru, memperkenankan setiap doa mereka, dan meneguhkan setiap niat baik yang mereka tanamkan dalam jiwa anak-anak kita.

Selamat Hari Guru Nasional 2025.

Editor: Mawardi

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default