Kontemplasi Adven Di Sidrap: Kesederhanaan Melawan Kilau Glamor
Kontributor
Oleh :
Yandriyano Ananda Seto
Penyuluh Agama Katolik
Kemenag Sidrap
Adven, Glamor, dan
Tuntutan Duniawi
Masa Adven, secara
teologis, adalah musim untuk puasa rohani, pertobatan, dan penantian yang penuh
harap. Ia mengajak kita untuk merenungkan kedatangan Sang Raja, bukan dalam kemuliaan
duniawi, melainkan dalam kesederhanaan palungan yang hina di Betlehem.
Ironisnya, di
pusat-pusat peradaban modern, Adven seringkali menjadi antitesis dari makna aslinya.
Jalanan kota-kota besar mulai dihiasi oleh tumpukan ornamen Natal yang
berkilauan, pohon-pohon tiruan setinggi langit-langit mal, dan lagu-lagu Natal
yang diputar tanpa henti,
memicu gelombang
konsumsi.
Glamor telah membajak
Kesederhanaan. Penantian suci yang seharusnya berfokus pada persiapan batin,
kini berfokus pada persiapan materi: kado, pakaian baru, dan hidangan mewah.
Kontras ini terasa
sangat tajam ketika saya menjalani Adven di Kabupaten Sidenreng Rappang
(Sidrap), Sulawesi Selatan. Di sini, saya menemukan sebuah keheningan yang memaksa
saya untuk membedah kembali esensi dari penantian tersebut.
Sidrap: Keheningan yang
Terstruktur oleh Data
Suasana Adven di Sidrap
tidak menyisakan ruang bagi hiruk pikuk ornamen Natal ala kota besar.
Keheningan ini tidak muncul secara kebetulan; ia adalah cerminan langsung dari Struktur
demografi Kabupaten Sidrap.
Data dari Badan Pusat
Statistik (BPS) atau laporan kependudukan regional secara konsisten menegaskan
bahwa Sidrap adalah wilayah dengan mayoritas penduduk Muslim yang sangat besar.
Mayoritas mutlak penduduk Sidrap beragama Islam (seringkali melampaui 95%),
sementara populasi
pemeluk agama Katolik berada pada persentase yang sangat kecil, bahkan di bawah
1%.
Situasi demografi ini
menciptakan realitas sosial dan kultural yang unik:
1. Tanpa Stimulus
Eksternal: Tidak ada display toko yang menjual pernak-pernik Adven dan tidak
ada atmosfer publik yang "merayakan" Adven.
2. Fokus Komunitas
Internal: Perayaan dan penantian hanya terjadi di dalam Gereja dan rumah-rumah
komunitas Katolik yang sangat terbatas.
Inilah perbedaannya:
jika di kota besar, atmosfer Adven "disediakan" oleh ruang public (budaya,
bisnis), di Sidrap, atmosfer Adven harus "diciptakan" secara sadar
dan mandiri oleh iman pribadi. Ketiadaan glamor duniawi memaksa kita untuk
mencari makna spiritual yang sejati
Makna Kesederhanaan
yang Mendalam
Justru dalam sunyi yang
berbeda itulah, saya menemukan makna Adven yang paling murni dan paling jujur.
Adven Glamor di kota
besar, dengan pohon natal setinggi langit dan hiasan mewah, terkadang membuat
penantian menjadi bising dan dangkal. Fokus bergeser dari mempersiapkan hati
menjadi mempersiapkan pesta.
Sebaliknya, Adven
Kesederhanaan di Sidrap memaksa saya kembali pada esensi. Ketiadaan ornamen
luar justru menuntun refleksi ke dalam.
1. Refleksi Batin:
Tidak adanya stimulus visual dari luar mendorong saya untuk menciptakan
"palungan" batin saya sendiri. Lilin Adven yang dinyalakan di rumah dan
gereja stasi terasa jauh lebih signifikan karena ia satu-satunya sumber Cahaya ritual
di tengah lingkungan yang sepenuhnya sunyi dari pernak-pernik Natal.
2. Solidaritas dalam
Perbedaan: Suasana yang sunyi ini mengajarkan tentang
toleransi dan rasa
hormat yang mendalam. Saya merasakan damai dan aman dalam menjalani keyakinan,
dikelilingi oleh tetangga yang berbeda iman. Kesederhanaan perayaan saya
menjadi simbol penerimaan dalam kebhinekaan.
3. Makna Penantian
Sejati: Kesederhanaan mengingatkan bahwa Kristus tidak lahir di istana emas,
melainkan di tempat yang paling sederhana. Penantian Adven bukanlah tentang
kemewahan, tetapi tentang kerendahan hati dan kemurnian hati untuk menyambut
Sang Juru Selamat.
Kesederhanaan yang saya
alami di Sidrap adalah sebuah anugerah. Ia membebaskan saya dari tuntutan
budaya konsumerisme Adven yang glamor. Ia mengembalikan fokus pada penantian rohani:
menantikan kedatangan-Nya, baik dalam sejarah (Natal), maupun dalam kehidupan
kita sehari-hari (saat
ini), dan pada akhir zaman.
Merayakan Kesederhanaan
Pengalaman ini
menegaskan: Makna Adven sejati tidak terletak pada seberapa megah ornamen yang
kita pasang, melainkan pada seberapa tulus hati yang kita siapkan.
Kesunyian Sidrap adalah
guru terbaik. Ia mengajarkan saya secara pribadi bahwa penantian yang bermakna
terjadi dalam hati yang sederhana, bukan di tengah gemerlap lampu dunia.
Kita dipanggil untuk
memilih: kemewahan yang mengalihkan, atau kesederhanaan yang mengarahkan pada
makna terdalam iman.
Selamat Hari Natal
2025.