Daerah

Kontemplasi Adven Di Sidrap: Kesederhanaan Melawan Kilau Glamor

Foto Kontributor
Mawardi

Kontributor

Jumat, 12 Desember 2025
...

Oleh :

Yandriyano Ananda Seto

Penyuluh Agama Katolik Kemenag Sidrap

 

Adven, Glamor, dan Tuntutan Duniawi

Masa Adven, secara teologis, adalah musim untuk puasa rohani, pertobatan, dan penantian yang penuh harap. Ia mengajak kita untuk merenungkan kedatangan Sang Raja, bukan dalam kemuliaan duniawi, melainkan dalam kesederhanaan palungan yang hina di Betlehem.

 

Ironisnya, di pusat-pusat peradaban modern, Adven seringkali menjadi antitesis dari makna aslinya. Jalanan kota-kota besar mulai dihiasi oleh tumpukan ornamen Natal yang berkilauan, pohon-pohon tiruan setinggi langit-langit mal, dan lagu-lagu Natal yang diputar tanpa henti,

memicu gelombang konsumsi.

 

Glamor telah membajak Kesederhanaan. Penantian suci yang seharusnya berfokus pada persiapan batin, kini berfokus pada persiapan materi: kado, pakaian baru, dan hidangan mewah.

 

Kontras ini terasa sangat tajam ketika saya menjalani Adven di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Di sini, saya menemukan sebuah keheningan yang memaksa saya untuk membedah kembali esensi dari penantian tersebut.

 

Sidrap: Keheningan yang Terstruktur oleh Data

Suasana Adven di Sidrap tidak menyisakan ruang bagi hiruk pikuk ornamen Natal ala kota besar. Keheningan ini tidak muncul secara kebetulan; ia adalah cerminan langsung dari Struktur demografi Kabupaten Sidrap.

 

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) atau laporan kependudukan regional secara konsisten menegaskan bahwa Sidrap adalah wilayah dengan mayoritas penduduk Muslim yang sangat besar. Mayoritas mutlak penduduk Sidrap beragama Islam (seringkali melampaui 95%),

sementara populasi pemeluk agama Katolik berada pada persentase yang sangat kecil, bahkan di bawah 1%.

 

Situasi demografi ini menciptakan realitas sosial dan kultural yang unik:

1. Tanpa Stimulus Eksternal: Tidak ada display toko yang menjual pernak-pernik Adven dan tidak ada atmosfer publik yang "merayakan" Adven.

2. Fokus Komunitas Internal: Perayaan dan penantian hanya terjadi di dalam Gereja dan rumah-rumah komunitas Katolik yang sangat terbatas.


Inilah perbedaannya: jika di kota besar, atmosfer Adven "disediakan" oleh ruang public (budaya, bisnis), di Sidrap, atmosfer Adven harus "diciptakan" secara sadar dan mandiri oleh iman pribadi. Ketiadaan glamor duniawi memaksa kita untuk mencari makna spiritual yang sejati

 

Makna Kesederhanaan yang Mendalam

Justru dalam sunyi yang berbeda itulah, saya menemukan makna Adven yang paling murni dan paling jujur.

Adven Glamor di kota besar, dengan pohon natal setinggi langit dan hiasan mewah, terkadang membuat penantian menjadi bising dan dangkal. Fokus bergeser dari mempersiapkan hati menjadi mempersiapkan pesta.

Sebaliknya, Adven Kesederhanaan di Sidrap memaksa saya kembali pada esensi. Ketiadaan ornamen luar justru menuntun refleksi ke dalam.

1. Refleksi Batin: Tidak adanya stimulus visual dari luar mendorong saya untuk menciptakan "palungan" batin saya sendiri. Lilin Adven yang dinyalakan di rumah dan gereja stasi terasa jauh lebih signifikan karena ia satu-satunya sumber Cahaya ritual di tengah lingkungan yang sepenuhnya sunyi dari pernak-pernik Natal.

2. Solidaritas dalam Perbedaan: Suasana yang sunyi ini mengajarkan tentang

toleransi dan rasa hormat yang mendalam. Saya merasakan damai dan aman dalam menjalani keyakinan, dikelilingi oleh tetangga yang berbeda iman. Kesederhanaan perayaan saya menjadi simbol penerimaan dalam kebhinekaan.

3. Makna Penantian Sejati: Kesederhanaan mengingatkan bahwa Kristus tidak lahir di istana emas, melainkan di tempat yang paling sederhana. Penantian Adven bukanlah tentang kemewahan, tetapi tentang kerendahan hati dan kemurnian hati untuk menyambut Sang Juru Selamat.

 

Kesederhanaan yang saya alami di Sidrap adalah sebuah anugerah. Ia membebaskan saya dari tuntutan budaya konsumerisme Adven yang glamor. Ia mengembalikan fokus pada penantian rohani: menantikan kedatangan-Nya, baik dalam sejarah (Natal), maupun dalam kehidupan

kita sehari-hari (saat ini), dan pada akhir zaman.

 

Merayakan Kesederhanaan

Pengalaman ini menegaskan: Makna Adven sejati tidak terletak pada seberapa megah ornamen yang kita pasang, melainkan pada seberapa tulus hati yang kita siapkan.

 

Kesunyian Sidrap adalah guru terbaik. Ia mengajarkan saya secara pribadi bahwa penantian yang bermakna terjadi dalam hati yang sederhana, bukan di tengah gemerlap lampu dunia.

 

Kita dipanggil untuk memilih: kemewahan yang mengalihkan, atau kesederhanaan yang mengarahkan pada makna terdalam iman.

 

Selamat Hari Natal 2025.

Editor: Mawardi

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default