Mutaillah
Guru MAN 2 Kota Makassar
Bulan Syakban memiliki posisi di antara dua bulan yang sangat dimuliakan: Rajab, salah satu bulan haram, dan Ramadan, bulan suci yang penuh ampunan. Namun, posisi ini justru seringkali menjadikannya bulan yang terlupakan. Terjepit di antara kemuliaan Rajab dan penantian Ramadan, banyak dari kita yang menjadi lalai dan kurang bersemangat dalam beribadah, menganggap Syakban sebagai masa penantian biasa. Kelalaian inilah yang perlu kita waspadai, sebab ia berpotensi merampas kesempatan emas untuk mempersiapkan diri menyambut tamu agung, bulan Ramadan.
Sikap lalai yang umum terjadi ini sangat kontras dengan teladan yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw. Beliau justru meningkatkan ibadahnya di bulan Syakban, terutama dengan memperbanyak puasa sunah. Ketika ditanya mengenai alasannya, beliau memberikan dua jawaban mendalam yang terekam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasa'i dari Usamah bin Zaid. Rasulullah saw. bersabda:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya:
(Syakban) adalah bulan yang dilalaikan manusia di antara Rajab dan Ramadan. Ia adalah bulan di mana amal-amal diangkat menuju Tuhan semesta alam. Maka, saya senang jika amalku diangkat dalam keadaan saya menunaikan puasa.
Hadis ini mengajarkan kita dua alasan utama di balik semangat beliau. Pertama, beliau sengaja menghidupkan bulan yang sering dilalaikan. Sikap Rasulullah ini mengandung hikmah yang dalam. Sebagaimana dijelaskan para ulama, beribadah di waktu yang dilalaikan manusia memiliki keutamaan tersendiri, amalan tersebut lebih tersembunyi dan jauh dari riya, serta lebih berat bagi jiwa, sehingga pahalanya pun lebih besar. Kedua, beliau ingin agar catatan amalnya selama setahun diangkat kepada Allah Swt. dalam keadaan terbaik.
Alasan kedua yang diungkapkan Rasulullah saw. bahwa Syakban adalah bulan diangkatnya amal, membuka rahasia keutamaannya yang lebih dalam. Inilah momentum diangkatnya catatan amal tahunan kita kepada Allah Swt. Kesadaran ini seharusnya membuat kita merenung, sebab setiap perbuatan, pikiran, dan niat, sekecil apa pun, tidak pernah luput dari pengawasan dan pencatatan-Nya. Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah dalam QS Yûnus/10: 61
وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ وَلَآ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Terjemahnya:
Engkau (Nabi Muhammad) tidak berada dalam suatu urusan, tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an, dan tidak pula mengerjakan suatu pekerjaan, kecuali Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak ada yang luput sedikit pun dari (pengetahuan) Tuhanmu, walaupun seberat zarah, baik di bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, kecuali semua tercatat dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz).
Momen pelaporan amal ini bukanlah waktu untuk bersantai, melainkan kesempatan berharga untuk memperbanyak kebaikan dan memperbaiki kualitas ibadah, berharap agar catatan kita ditutup dengan kebaikan yang diridai-Nya.
Persiapan menyambut Ramadan tidak hanya sebatas ibadah lahiriah seperti puasa. Syakban adalah waktu untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri, membersihkan hati dari berbagai penyakit yang dapat merusak amal. Penyakit batin seperti iri dengki (hasad) yang menghanguskan pahala, kesombongan (takabur) yang menghalangi seseorang dari kebenaran, serta dendam dan kebencian yang menutup pintu ampunan, harus segera kita kikis. Allah Swt. telah memperingatkan dengan keras tentang bahaya sikap sombong melalui firman-Nya dalam QS Luqmân/31: 18
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ
Terjemahnya:
Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.
Menyambut Ramadan dengan jiwa yang bersih dari noda-noda batiniah inilah esensi sejati dari sebuah persiapan spiritual.
Selain menjadi bulan pengangkatan amal dan pembersihan jiwa, Syakban juga memiliki keutamaan lain sebagai bulan salawat. Menurut Syekh Muhammad bin Alawi bin Abbas Al-Maliki dalam kitabnya Mâdzâ fî Sya’bân, keistimewaan ini didasarkan pada fakta bahwa ayat perintah bersalawat (QS Al-Ahzab/33: 56) diturunkan pada bulan Syakban.
Para mufasir, seperti Imam Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan bagaimana Allah Swt. memuji Nabi Muhammad saw. di hadapan para malaikat di langit, lalu memerintahkan penduduk bumi untuk melakukan hal yang sama. Dengan demikian, pujian dari segenap alam (langit dan bumi) berkumpul untuk beliau, menampakkan kemuliaannya yang agung. Oleh karena itu, memperbanyak lantunan salawat di bulan ini menjadi wujud cinta kita kepada Rasulullah saw. sekaligus cara untuk meraih kemuliaan dan keberkahan yang melimpah.
Dengan demikian, jelaslah bahwa Syakban bukanlah sekadar bulan penantian yang pasif, melainkan sebuah panggung persiapan yang aktif dan strategis. Ia adalah waktu untuk meningkatkan ibadah meneladani Rasulullah, membersihkan hati dari segala penyakit rohani, dan membasahi lisan dengan salawat. Jangan biarkan bulan yang agung ini berlalu dalam kelalaian. Mari kita manfaatkan setiap detiknya untuk berbenah diri, agar kelak kita dapat memasuki gerbang Ramadan dalam keadaan yang paling siap dan suci, baik secara lahiriah maupun batiniah, untuk meraih ampunan dan rahmat-Nya.