Melatih Kesadaran Dan Refleksi, Subair Wakamad Humas MAN Pinrang Ajak Guru Madrasah Hidupkan Moderasi Beragama
Kontributor
Paleteang, (Kemenag Pinrang)
– Wakil Kepala MAN Pinrang Bidang Humas, Subair, tampil sebagai narasumber pada
kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Madrasah Aliyah Kabupaten
Pinrang. Sabtu, (18/10/2025) dengan membawakan materi bertema “Penguatan
Moderasi Beragama.” Materi yang dibawakannya menghadirkan suasana berbeda
karena disampaikan dengan cara interaktif dan inspiratif.
Mengawali
pemaparannya, Subair mengajak para peserta workshop untuk membuka wawasan dan
memperluas cara berpikir melalui sebuah permainan reflektif. Ia meminta peserta
menggambar peta perjalanan menuju lokasi kegiatan, yang kemudian dijadikan
bahan diskusi untuk menunjukkan bahwa setiap orang memiliki asumsi dan persepsi
yang berbeda-beda terhadap sesuatu.
“Ternyata setiap orang
memiliki peta pikirannya sendiri. Kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk
melihat sesuatu persis seperti yang kita pikirkan,” ujar Subair sambil
menegaskan pentingnya memahami perbedaan dalam kehidupan sosial dan beragama.
Dengan pendekatan ini,
suasana pelatihan menjadi hidup, menyenangkan, sekaligus penuh makna. Para
peserta terlihat antusias mengikuti kegiatan karena metode yang digunakan mampu
memantik kesadaran dan empati.
Sebagai Fasilitator
Moderasi Beragama, Subair kemudian menjelaskan secara mendalam tentang empat
indikator utama moderasi beragama, yakni:
1.
Komitmen
Kebangsaan, yang menegaskan kesetiaan pada nilai-nilai Pancasila dan NKRI.
2.
Toleransi,
yaitu kemampuan menerima perbedaan dan hidup berdampingan secara damai.
3.
Anti
Kekerasan, yakni penolakan terhadap segala bentuk ekstremisme dan radikalisme.
4.
Penerimaan
terhadap Budaya Lokal, sebagai wujud penghargaan atas kearifan dan tradisi
masyarakat.
“Empat indikator ini
bukan hanya konsep, tapi harus menjadi sikap hidup. Guru madrasah memiliki
peran penting untuk menanamkan nilai-nilai ini kepada peserta didik,” tegasnya.
Dalam sesi lanjutan,
Subair memperkenalkan “Teori U” yang diprakarsai oleh Otto Scharmer sebagai
kerangka kerja dalam proses perubahan dan transformasi diri. Teori ini
menekankan pentingnya refleksi mendalam, kesadaran diri, dan pembentukan solusi
inovatif.
Ia menjelaskan bahwa Teori
U memiliki lima fase utama:
1.
Co-Initiating
(Menyusun) – membangun niat dan kesadaran bersama,
2.
Co-Sensing
(Mengamati) – mendengarkan dan memahami realitas secara mendalam,
3.
Presencing
(Mengalami dan Hadir) – melakukan refleksi dan menemukan makna,
4.
Co-Shaping
(Membentuk) – merancang tindakan baru berdasarkan kesadaran baru,
5.
Co-Creating
(Menciptakan) – mewujudkan inovasi yang berkelanjutan.
“Dalam konteks
moderasi beragama, teori ini sangat relevan. Ketika kita mendapatkan informasi
atau pandangan baru, kita tidak bisa langsung menolaknya atau menerimanya
begitu saja. Kita harus melewati proses refleksi, pengamatan, dan pemahaman
mendalam sebagaimana dalam model U,” jelasnya.
Subair menambahkan
bahwa penguatan moderasi beragama tidak cukup hanya dengan pengetahuan
konseptual, tetapi juga memerlukan proses kesadaran, empati, dan keterlibatan
hati. Dengan demikian, nilai-nilai moderasi dapat tumbuh dari dalam diri, bukan
sekadar formalitas wacana.
Kegiatan MGMP MA
Kabupaten Pinrang ini berlangsung penuh semangat dan diikuti dengan antusias
oleh para guru madrasah. Banyak peserta menyampaikan apresiasi atas cara Subair
mengemas materi yang tidak hanya informatif tetapi juga menyentuh dimensi
personal dan spiritual mereka.
“Materi ini membuat
kami berpikir ulang tentang cara memahami perbedaan. Ternyata moderasi beragama
itu bukan hanya tentang sikap terhadap orang lain, tapi juga tentang mengelola
diri sendiri,” ungkap salah seorang peserta usai kegiatan.
Dengan pendekatan
reflektif dan humanis ini, Subair berhasil menghadirkan pemahaman baru bahwa moderasi
beragama bukan sekadar wacana, melainkan proses perubahan kesadaran menuju
kedewasaan berpikir dan bertindak dalam kehidupan beragama dan berbangsa.
(MR/Lentera)