Menembus Lautan, Merajut Pelayanan: Ekspedisi KUA Ke Pulau Liukang Tangaya
Kontributor
Pangkajene (Kemenag Pangkep) -- Di hamparan birunya laut Kabupaten Pangkep, tersimpan pulau-pulau terluar yang menjadi rumah bagi masyarakat yang tetap membutuhkan pelayanan keagamaan, meski harus dijangkau dengan perjalanan panjang dan penuh tantangan.
Semangat inilah yang mengiringi langkah Penyuluh Agama Islam, Penghulu, hingga Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dalam melaksanakan ekspedisi pelayanan ke Pulau Sapuka dan Saiulus Besar Kec. Liukang Tangaya.
Perjalanan menuju Liukang Tangaya bukanlah perjalanan singkat. Tim pelayanan KUA harus menempuh perjalanan laut selama dua hari, melintasi perairan luas dengan kondisi cuaca yang tidak selalu bersahabat. Ombak yang tinggi, angin kencang, serta jarak antarpulau yang jauh menjadi bagian dari perjuangan yang harus dilalui demi memastikan pelayanan keagamaan tetap menjangkau masyarakat kepulauan.
Secara geografis, wilayah ini bahkan sudah berada di perairan yang berbatasan dan relatif dekat dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi ini menjadikan Liukang Tangaya sebagai salah satu wilayah strategis sekaligus menantang dalam jangkauan pelayanan keagamaan.
Selama dua hari perjalanan, keteguhan dan kebersamaan menjadi kunci. Di atas perahu sederhana, para penyuluh, penghulu, dan Kepala KUA terus menjaga semangat pengabdian. Setiap hempasan ombak menjadi saksi tekad mereka bahwa keterbatasan geografis tidak boleh menjadi penghalang hadirnya pelayanan negara bagi masyarakat pulau terluar.
Ekspedisi pelayanan ini bertujuan untuk memberikan berbagai layanan keagamaan kepada masyarakat, mulai dari bimbingan dan penyuluhan keagamaan, pelayanan administrasi pernikahan, konsultasi keluarga sakinah, hingga pembinaan masyarakat dalam meningkatkan pemahaman dan praktik keagamaan. Kehadiran para petugas KUA menjadi bukti nyata bahwa negara hadir hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan terpencil.
Kepala KUA bersama tim penyuluh dan penghulu agama turun langsung berinteraksi dengan masyarakat Liukang Tangaya. Mereka menyampaikan materi pembinaan, memberikan pendampingan keagamaan, serta membuka ruang dialog untuk mendengar langsung aspirasi dan persoalan yang dihadapi warga. Antusiasme masyarakat terlihat jelas dari partisipasi aktif mereka dalam setiap rangkaian kegiatan.
Selain pelayanan administratif dan penyuluhan, kegiatan ini juga menjadi momentum penguatan nilai-nilai moderasi beragama, pembinaan kehidupan keluarga, serta penguatan peran tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat sendi-sendi sosial dan keagamaan di wilayah kepulauan.
Perjalanan dua hari menembus lautan luas ini menjadi simbol pengabdian dan ketulusan aparatur KUA dalam menjalankan tugasnya. Ekspedisi ke Liukang Tangaya bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan nurani untuk menghadirkan pelayanan yang adil, merata, dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Melalui ekspedisi ini, masyarakat Liukang Tangaya diharapkan semakin merasakan kehadiran negara melalui pelayanan Kementerian Agama yang inklusif. Menembus lautan, merajut pelayanan—itulah potret pengabdian tanpa batas demi umat dan bangsa. (rdtl)