Mimbar Agama Buddha TVRI: Pesan Alam Dari Tengah Bencana Dan Pentingnya Ekoteologi
Kontributor
Makassar, (Kemenag Sulsel) - Program Mimbar Agama Buddha TVRI kembali menyoroti isu lingkungan yang semakin mendesak di tengah meningkatnya frekuensi bencana alam di Indonesia. Dalam episode bertema “Pesan Alam dari Tengah Bencana” (03/12/2025), Host Suzanna menghadirkan dua narasumber: Ketua Permabudhi Sulawesi Selatan, Yonggris, dan Pembimas Buddha Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan, Sumarjo. Keduanya memberikan pandangan mendalam mengenai makna bencana alam dalam perspektif Buddhis serta pentingnya kesadaran ekologis sebagai bagian dari praktik keberagamaan.
Yonggris menjelaskan bahwa bencana alam tidak dapat dipahami sebagai kemarahan alam, melainkan bagian dari hukum Anicca bahwa segala sesuatu berubah dan berupaya mencari keseimbangannya. Ia menegaskan bahwa selain proses alami, kerusakan lingkungan yang dilakukan manusia, seperti deforestasi, pencemaran air, dan konsumsi berlebih dapat memperburuk risiko bencana.
“Alam tidak marah. Ia hanya menyeimbangkan diri. Ketika ekosistem rusak, manusialah yang menerima akibatnya,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Sumarjo menekankan bahwa dalam ajaran Buddha, alam bekerja melalui hukum sebab-akibat (paticcasamuppada). Karena itu, menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab moral umat Buddha.
“Alam adalah rumah bersama. Jika rumah rusak, manusialah yang paling merasakan dampaknya,” jelasnya.
Gagasan kedua narasumber ini sejalan dengan Asta Protas Menteri Agama, khususnya:
1. Penguatan Moderasi Beragama yang menekankan keseimbangan, harmoni, dan welas asih terhadap seluruh makhluk;
2. Transformasi Layanan Keagamaan yang Inklusif, termasuk edukasi lingkungan berbasis komunitas;
3. Pengabdian Masyarakat, melalui gerakan peduli alam, tanggap bencana, dan aksi keberlanjutan.
Nilai-nilai ini menjadi fondasi penting dalam membangun karakter umat yang berkesadaran ekologis.
Di tingkat daerah, semangat tersebut diterjemahkan melalui Asta Aksi Kemenag Sulawesi Selatan yang dijalankan di bawah arahan Kakanwil Kemenag Sulsel. Program seperti Gerakan Religi Ramah Lingkungan, Komunitas Hijau Vihara, Pencegahan Risiko Bencana Berbasis Umat, serta Pendidikan Lingkungan pada Sekolah Minggu Buddha turut memperkuat budaya peduli alam di komunitas vihara dan masyarakat Buddhis.
Dalam konteks mitigasi bencana, Yonggris memperkenalkan konsep Eco Dhamma, yaitu pendekatan spiritual untuk merawat lingkungan melalui hidup sederhana, hemat energi, memperbanyak ruang hijau, dan menjadikan kebajikan sebagai gaya hidup.
Sumarjo menambahkan bahwa mitigasi dapat dimulai dari langkah kecil seperti menanam pohon, menjaga kebersihan sungai, dan memberikan edukasi ekologi sejak usia dini. Seluruh upaya ini merupakan wujud konkret implementasi Asta Aksi Kemenag Sulsel dalam memperkuat peran umat beragama bagi kelestarian lingkungan.
Menutup acara, Yonggris menegaskan bahwa bencana seharusnya menjadi pengingat agar manusia kembali hidup selaras dengan alam.
“Jika kau jaga alam, ia melindungimu. Jika kau merusak alam, engkau sendiri yang akan menderita. Bencana adalah guru,” tegasnya.
Melalui tayangan ini, Kementerian Agama berharap tumbuhnya kesadaran kolektif umat Buddha terhadap pentingnya ekoteologi serta meningkatnya peran aktif komunitas agama dalam menjaga bumi sebagai rumah bersama (mrj).