Moderasi Dimulai Dari Konsep Diri Yang Matang: Pesan Agusliadi Di Kemah Moderasi Beragama Bantaeng
Kontributor
Bantaeng (Kemenag Bantaeng) — Agusliadi, pegiat literasi di Kabupaten Bantaeng, menegaskan bahwa pelajar hari ini sejatinya adalah generasi emas, bukan generasi stroberi yang rapuh menghadapi tantangan. Pesan tersebut ia sampaikan saat menjadi pemateri dalam Kemah Moderasi Beragama dalam rangka Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama tingkat Kabupaten Bantaeng.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 13–14 Desember 2025, di Lapangan Dampang, Bantaeng, ini diikuti oleh perwakilan 25 Madrasah Aliyah se-Kabupaten Bantaeng. Dalam suasana yang akrab dan dialogis, Agusliadi membawakan dua materi, yakni Konsep Diri sebagai Pelajar Generasi Emas pada Sabtu (13/12), serta Visi dan Misi Pelajar Membangun Peradaban Indonesia Emas pada Minggu (14/12).
Pada materi pertama, Agus—sapaan akrabnya—menekankan pentingnya pelajar memahami konsep diri sebagai fondasi utama untuk tumbuh menjadi generasi unggul. Menurutnya, kegagalan memahami konsep diri dapat terlihat dari perilaku malas belajar, sering membolos, hingga menyontek.
“Ketika seorang pelajar malas belajar, suka bolos, dan sering menyontek, itu sama saja dengan melakukan pengkhianatan terhadap dirinya sendiri,” ujarnya. Agusliadi yang juga menjabat sebagai Pimpinan Baznas Kabupaten Bantaeng menilai bahwa pelajar memiliki posisi strategis sebagai tumpuan harapan masa depan bangsa.
Ia juga mengingatkan adanya anugerah besar dari Tuhan yang kerap diabaikan untuk dirawat secara sadar. “Ada dua hardware dan dua software dalam diri manusia yang sering dilupakan, padahal itu adalah anugerah terbesar dari Allah, yaitu otak dan hati, serta pikiran dan perasaan,” tuturnya.
Menurut Agus, kematangan konsep diri akan melahirkan kesadaran yang kuat dalam memahami realitas sosial bangsa Indonesia yang majemuk, termasuk keberagaman agama. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya spirit moderasi beragama. “Ini sekaligus menunjukkan kematangan konsep diri yang dimiliki seseorang,” sambungnya.
Pada materi kedua, Agusliadi menegaskan bahwa cita-cita Indonesia Emas hanya dapat terwujud jika dibangun oleh generasi emas yang memiliki visi dan misi yang jelas. Namun, visi yang ideal tidak akan lahir tanpa pemahaman yang utuh tentang diri, potensi pribadi, dan potensi kebangsaan.
“Kalau pemahaman tentang diri dan potensi kebangsaan tidak kita pahami, maka jangan berharap akan lahir visi yang ideal,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pengaruh kebiasaan dalam membentuk visi dan misi pelajar. Menurutnya, konsep algoritma tidak hanya berlaku dalam dunia teknologi, tetapi juga bekerja dalam kehidupan manusia. “Apa yang biasa kita lakukan akan mempengaruhi cara kita berpikir, bertindak, memaknai sesuatu, dan pada akhirnya menentukan kita akan menjadi apa,” jelasnya.
Agusliadi pun mengajak para pelajar untuk lebih sadar bahwa setiap kebiasaan, sekecil apa pun, memiliki dampak besar dalam menentukan arah hidup, termasuk dalam merumuskan visi dan misi sebagai generasi penerus bangsa.
Sebelumnya, giat Materi yang disampaikan di Gelora, Kemah Moderasi Beragama dibuka oleh Koordinator Kemah Moderasi Beragama yakni Dr. Salam, S.Ag., S.Pd., M.Pd pada Sabtu pagi, 13 September 2025.
Melalui kegiatan Kemah Moderasi Beragama ini, diharapkan para pelajar madrasah tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga matang secara konsep diri, berwawasan moderat, serta siap mengambil peran strategis dalam membangun peradaban Indonesia Emas. (MSD)