PKUB Kemenag RI : Indonesia Jadi Rujukan Dunia Dalam Merawat Kerukunan Umat Beragama
Kontributor
Bone, Humas Kemenag — Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama RI, H. Muhammad Adib Abdusshomad, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa Indonesia kini menjadi rujukan dunia dalam membangun dan merawat kerukunan umat beragama. Keberhasilan tersebut lahir dari kemampuan bangsa Indonesia mengelola keberagaman dalam bingkai persatuan dan kebijakan negara yang inklusif.
Penegasan itu disampaikan Gus Adib saat menjadi narasumber utama Seminar Internasional Aktualisasi Peradaban Kerukunan FKUB Kabupaten Bone Tahun 2025, yang digelar di Helios Hotel Bone, Sulawesi Selatan, Senin 22 Desember 2025.
“Masa depan kerukunan dunia ada di Indonesia. Hari ini, Indonesia menjadi magnet bagi dunia untuk belajar tentang harmoni dan perdamaian antarumat beragama,” ujar Gus Adib.
Ia menjelaskan, praktik baik kerukunan di Indonesia telah mendapatkan pengakuan internasional. PKUB Kemenag RI, kata dia, menerima delegasi dari Austria melalui Program Indonesia Interfaith Scholarship (IIS) 2025, sebagai bagian dari pertukaran pembelajaran lintas negara dalam pengelolaan kerukunan umat beragama.
Menurut Adib, penguatan kerukunan di Indonesia tidak terlepas dari kehadiran negara melalui kebijakan yang sistematis, salah satunya Peraturan Bersama Menteri (PBM) Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 yang melahirkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sebagai wadah dialog dan kerja sama lintas iman.
“Saat ini telah terbentuk 512 FKUB kabupaten/kota di seluruh Indonesia, dan hanya tersisa dua kabupaten yang belum memiliki FKUB. Ini menunjukkan keseriusan negara dalam menjaga harmoni sosial,” jelasnya.
Meski demikian, Adib mengingatkan bahwa kerukunan bukanlah sesuatu yang hadir secara otomatis.
“Kerukunan tidak diwariskan. Ia harus terus dijaga, dirawat, dan dihidupkan oleh seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.
Untuk memperkuat hal tersebut, PKUB Kemenag RI terus mendorong perluasan ruang perjumpaan lintas iman hingga ke tingkat desa. Ia mencontohkan Desa Pabuaran, Kabupaten Bogor, sebagai praktik baik pengelolaan kerukunan berbasis komunitas yang dapat direplikasi di daerah lain.
PKUB juga memberikan perhatian serius pada pelibatan generasi muda melalui berbagai program strategis, seperti Youth Harmony Class, Harmony Talks, Duta Kerukunan, serta penguatan literasi kerukunan di ruang digital.
“Anak muda dan Gen Z harus menjadi garda terdepan. Ruang digital hari ini adalah medan strategis untuk menyuarakan pesan damai dan toleransi,” katanya.
Sebagai langkah preventif, PKUB Kemenag RI telah meluncurkan Aplikasi Early Warning System (EWS) Si Rukun, yang berfungsi sebagai instrumen deteksi dini potensi konflik sosial berdimensi keagamaan.
“Kerukunan harus dikelola secara proaktif, bukan reaktif. Kita mencegah konflik sebelum terjadi,” tambahnya.
Gus Adib turut mengapresiasi pelaksanaan Seminar Internasional Aktualisasi Peradaban Kerukunan (SIAP RUKUN) yang diselenggarakan FKUB Kabupaten Bone. Menurutnya, kegiatan ini menjadi contoh konkret diplomasi kerukunan berbasis lokal yang berdampak global.
“Peran FKUB sangat strategis. Ruang dialog seperti seminar ini, hingga kegiatan sederhana seperti ngopi rukun, perlu terus diperbanyak dan diperkuat, terutama untuk generasi muda,” pungkasnya.
Seminar internasional tersebut diikuti oleh tokoh lintas agama, unsur pemerintah daerah, Forkopimda, akademisi, dan pegiat kerukunan, serta ditandai dengan pelepasan burung merpati sebagai simbol perdamaian dan persatuan.(*)