Sanggar Kurikulum IV : MAN IC Gowa Resmikan Gerakan Pendidikan Berbasis Cinta
Kontributor
Parangloe (Kemenag Gowa) -- Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia (IC) Gowa menggelar kegiatan Sanggar Kurikulum 4 bertajuk “Cinta Sebagai Ruh Pendidikan : Membumikan Kurikulum Berbasis Cinta Melalui Pembelajaran Mendalam” pada Kamis, (27/11 2025) di Aula MAN IC Gowa. Kegiatan ini diikuti seluruh guru MAN IC Gowa sebagai upaya memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di satuan pendidikan.
Narasumber utama, Syamsuddin Rasyid, Sekretaris Jenderal Pengurus Koordinator Jawatan Wakil Kepala Madrasah (Pokjawas) Nasional yang juga sebagai pengawas bina MAN IC Gowa, menyampaikan bahwa esensi Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar konsep teoritis, melainkan pendekatan pendidikan yang menempatkan kasih sayang sebagai nafas utama proses pembelajaran.
“Penerapan KBC pada akhirnya akan menghasilkan peserta didik yang tidak hanya memiliki karakter baik dan berakhlak mulia, tetapi juga mampu mengenali, memahami, serta mengelola emosinya dengan bijak dan terarah," ungkapnya. "Anak-anak kita akan tumbuh menjadi insan yang mencintai ilmu, mencintai sesama, dan mencintai Sang Pencipta,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala MAN IC Gowa, Burhanuddin, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. “Kegiatan Sanggar Kurikulum kali ini menjadi momentum penting bagi kita semua untuk kembali mengingat bahwa madrasah ini didirikan dengan cita-cita besar, yaitu mencetak generasi yang unggul secara intelektual sekaligus mulia secara spiritual,” ungkap Burhanuddin.
Senada dengan itu, Wakil Kepala Bidang Akademik, Imran, menekankan pentingnya konsistensi dalam mengimplementasikan KBC di setiap mata pelajaran dan aktivitas madrasah. “KBC harus menjadi budaya madrasah. Mulai dari sapaan hangat di gerbang, senyuman guru di kelas, hingga cara kita menegur kesalahan siswa, semuanya harus mencerminkan cinta,” tegas Imran.
Dengan metode Experiential Learning (pembelajaran berbasis pengalaman), pemateri memberikan penjelasan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran di mana seseorang belajar melalui pengalaman langsung, refleksi atas pengalaman tersebut, kemudian membentuk konsep atau teori, dan akhirnya mengaplikasikan pengetahuan baru itu dalam situasi nyata. Metode ini mampu menghidupkan suasana dan mentrasnfer materi dengan baik.
Acara yang berlangsung khidmat diakhiri dengan sesi foto bersama serta penyerahan cenderamata kepada narasumber sebagai tanda terima kasih atas ilmu dan pencerahan yang diberikan.(Din/OH)