Santri Milyarder Visioner Yang Dermawan Dibalik Megahnya Lokasi Pembukaan MQK Internasional 2025
Kontributor
Wajo (Kemenag Sulsel) -- AGH. Muhammad Surur adalah sosok ulama kharismatik sekaligus administrator ulung. Dalam kiprahnya yang panjang, beliau mengabdikan diri untuk kemajuan Pondok Pesantren As’adiyah, hingga pada akhir hayatnya dipercaya memegang amanah sebagai Sekretaris Jenderal PP As’adiyah pada masa kepemimpinan AG KH. Muhammad Yunus M., mantan Ketua Umum PP As’adiyah.
Beliau dikenal teguh
menjaga nilai keulamaan dan profesional dalam mengelola organisasi pesantren,
menjadikannya salah satu figur yang dihormati di Wajo dan sekitarnya.
Hari ini, meski jasad
dan raga beliau telah lama menyatu dengan tanah, namun warisan nilai, semangat,
dan pengabdiannya tidak pernah pudar. Semangat itu seolah kembali bersemi di
bumi Lamaddukelleng melalui langkah seorang zurriyatnya yang meneruskan jejak
kebaikan sang kakek.
Adalah Dr. H. Faisal
Ibrahim Surur, Lc., M.Ag., sang cucu, yang menghadirkan karya monumental berupa
sebuah gedung serbaguna yang kini menjadi salah satu ikon baru di lingkungan
Pondok Pesantren As’adiyah yang hari ini diresmikan penggunaannya (Selasa, 30
September 2025)
Gedung ini tidak hanya
menjadi simbol kemajuan fisik pesantren, tetapi juga menjadi saksi sejarah atas
kepedulian generasi penerus ulama terhadap pendidikan dan dakwah.
Torehan sejarah
tersebut telah diukir indah oleh H. Faisal, yang dikenal sebagai santri sukses,
pengusaha miliarder, sekaligus dermawan yang tidak pernah melupakan akar
spiritual dan intelektualnya.
Karya H. Faisal bukan
sekadar berdirinya bangunan megah nan bersejarah yang kini menjadi tempat
pembukaan perhelatan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Internasional yang dihelat
mulai tanggal 1 – 7 Oktober 2025, dan event yang pertama di dunia, melainkan
wujud nyata bakti seorang santri yang menempatkan kejayaan agama dan
almamaternya di atas kepentingan pribadi.
Sebagai seorang
pengusaha, H. Faisal tidak hanya berbicara soal strategi sukses dan pentingnya
berbagi di hadapan jamaah atau di mimbar-mimbar pengajian. Ia membuktikan
ajaran itu dalam praktik hidupnya.
Kunci suksesnya ia
paparkan dengan sederhana, yakni menggabungkan kerja keras, kejujuran, dan
keberkahan doa orang tua, serta menjadikan sebagian rezeki untuk berbagi kepada
yang membutuhkan.
Ia menjadi teladan
bahwa santri juga bisa tampil sebagai pelaku ekonomi yang tangguh, tanpa
meninggalkan jati diri dan nilai-nilai pesantren. Keberhasilannya meruntuhkan
sekat antara dunia pesantren dan dunia usaha, membuktikan bahwa keduanya dapat
berjalan selaras untuk menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas.
Gedung megah kini
berdiri kokoh di jantung Pondok Pesantren As’adiyah. Bangunan ini diharapkan
menjadi pusat kegiatan keilmuan, sosial, dan kebudayaan Islam, sekaligus
inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya. Tugas kita bersama kini
adalah merawat, menjaga, dan memanfaatkannya sebaik mungkin demi kemaslahatan
umat dan kemajuan pesantren.
Ucapan Selamat dan
sukses menggaung atas peresmian Gedung Serbaguna AGH. Muhammad Yusuf Surur,
sebuah karya yang tidak hanya menambah fasilitas, tetapi juga mengangkat
kembali semangat pengabdian yang diwariskan oleh para pendahulu.
Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Sulsel H. Muhammad Yunus secara khusus mengucapkan Terima kasih kepada sahabatnya H. Faisal, atas dedikasi dan kepedulian serta Jasanya yang tak akan terlupakan
“Tabe Sahabatku, izin menyapamu Santri Visioner Milyarder nan
Dermawan,” Ucap Muhammad Yunus