Tari Mistis ‘Pallawa Poppo’ Antarkan MAN Pinrang Jadi Jawara Festival Seni UMPAR 2025
Kontributor
Tarian tersebut
dibawakan oleh Putri Regina Ahmad, Risnayantih, Najwa Waqiah, Nurul Azkiyah, Wahdaniah
putri Shafa dan Nurul Hikmah serta yang bertindak sebagai koreografer adalah St. Hajar
Aswad dan Sartini Dwi Rismariyanti, penata kostum/proferty adalah Kartini dan sebagai
penata musik adalah Adi Asri Hasan.
Tari Pallawa
Poppo tidak sekadar menampilkan keindahan gerak dan harmoni musik, tetapi juga
menyuguhkan kisah penuh makna tentang perjuangan masyarakat melawan kejahatan
dan ketakutan melalui kekuatan doa, persatuan, dan kearifan lokal.
Cerita ini
berakar dari kepercayaan masyarakat Bugis mengenai “poppo” atau ilmu hitam yang
dipercaya datang pada malam hari untuk mengganggu manusia. Dari kegelisahan
itulah lahir “pallawa poppo,” sebuah simbol perlindungan dan penolak bala yang
mencerminkan nilai spiritual dan sosial masyarakat Bugis.
Babak ini
dibuka dengan tarian aktivitas malam yang damai, seperti masyarakat yang
beristirahat atau berjaga. Perlahan, muncul gerakan-gerakan yang menggambarkan kegelisahan
dan kepanikan. Penari yang memerankan Poppo masuk dengan gerakan mengintai. hanya berupa bayangan atau siluet. Musik yang
mengiringi didominasi oleh melodi minor yang menegangkan dan suara-suara
perkusi yang menciptakan suasana mencekam, mencerminkan rasa terhantui dan
ketakutan yang menyelimuti desa.
Babak II:
Menggali Solusi (Siruntu Passangkamma)
Kepanikan di
Babak I mencapai puncaknya, dan masyarakat akhirnya berkumpul. Tarian pada
babak ini berfokus pada musyawarah dan kebersamaan. Gerakan penari menampilkan diskusi
intens, mencari tahu penyebab teror, dan menggali kearifan lokal untuk menemukan
cara menangkal Poppo. Salah satu penari tokoh muncul dengan gerakan yang berwibawa dan
penuh perhitungan, mewakili ditemukannya "Pallawa Poppo" yaitu
ramuan, mantra, atau ritual khusus yang dipercaya bisa melemahkan atau mengusir
makhluk tersebut.
Babak III:
Pertarungan dan Kemenangan (Mallawa Poppo)
Babak ini
adalah klimaks. Masyarakat bersatu dan mulai melakukan ritual penangkal yang
dipimpin oleh tokoh adat. Gerakan tarian berubah menjadi kuat, serentak, dan
penuh semangat juang. Mereka menggunakan yang diangkat tinggi-tinggi sebagai simbol
perlawanan. Terdapat adegan konfrontasi di mana Poppo berusaha melawan ritual
tersebut dengan gerakan-gerakan yang semakin agresif, namun akhirnya terjebak
dan melemah oleh kekuatan persatuan dan penangkal tradisional. Poppo akhirnya diusir
atau dinetralisir, meninggalkan panggung dalam gerakan yang kalah dan tak
berdaya.
Penutup: Desa
Kembali Damai
Tarian diakhiri
dengan gerakan yang anggun, riang, lega, dan penuh syukur. Masyarakat desa
kembali merayakan kedamaian yang telah direbut kembali. Gerakan dan musik
kembali ceria dan harmonis, menunjukkan bahwa kearifan lokal dan semangat
gotong royong berhasil mengatasi ketakutan terbesar mereka. Pesan utama tarian
ini adalah pentingnya persatuan dalam menghadapi bahaya dan kekuatan tradisi
sebagai pelindung masyarakat.
Kepala MAN Pinrang, Ansyar menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang tinggi atas capaian ini. “Kemenangan ini bukan sekadar prestasi di bidang seni, tetapi juga bentuk keberhasilan madrasah dalam menanamkan nilai budaya dan karakter pada peserta didik. Tari Pallawa Poppo mengajarkan bahwa persatuan dan doa adalah kekuatan terbesar dalam menghadapi setiap tantangan,” ujarnya.
Sementara itu, pembina
tim tari MAN Pinrang, St. Hajar Aswad turut mengungkapkan rasa bangga dan
harunya atas dedikasi peserta didik dalam mempersiapkan penampilan tersebut.
“Anak-anak
menunjukkan kerja keras dan semangat luar biasa. Mereka tidak hanya menari,
tetapi benar-benar menghidupkan cerita yang penuh makna. Pallawa Poppo kami
hadirkan bukan sekadar pertunjukan, melainkan wujud pelestarian budaya lokal
yang sarat nilai moral dan spiritual,” tutur St. Hajar Aswad.