Daerah

Tari Mistis ‘Pallawa Poppo’ Antarkan MAN Pinrang Jadi Jawara Festival Seni UMPAR 2025

Foto Kontributor
WAHYUDDIN

Kontributor

Minggu, 26 Oktober 2025
...

Parepare, (Kemenag Pinrang) – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pinrang kembali menorehkan prestasi membanggakan di ajang Festival Seni yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR) pada 24–25 Oktober 2025.

Dalam ajang bergengsi yang diikuti oleh berbagai sekolah dan madrasah dari wilayah Sulawesi Selatan, tim tari MAN Pinrang berhasil meraih Juara I melalui penampilan memukau bertajuk “Tari Pallawa Poppo.”

Tarian tersebut dibawakan oleh Putri Regina Ahmad, Risnayantih, Najwa Waqiah, Nurul Azkiyah, Wahdaniah putri Shafa dan Nurul Hikmah serta yang bertindak sebagai koreografer adalah St. Hajar Aswad dan Sartini Dwi Rismariyanti, penata kostum/proferty adalah Kartini dan sebagai penata musik adalah Adi Asri Hasan.

Tari Pallawa Poppo tidak sekadar menampilkan keindahan gerak dan harmoni musik, tetapi juga menyuguhkan kisah penuh makna tentang perjuangan masyarakat melawan kejahatan dan ketakutan melalui kekuatan doa, persatuan, dan kearifan lokal.

Cerita ini berakar dari kepercayaan masyarakat Bugis mengenai “poppo” atau ilmu hitam yang dipercaya datang pada malam hari untuk mengganggu manusia. Dari kegelisahan itulah lahir “pallawa poppo,” sebuah simbol perlindungan dan penolak bala yang mencerminkan nilai spiritual dan sosial masyarakat Bugis.

Tarian ini dibagi menjadi empat babak utama.
Babak I: suasana malam, poppo mengintai

Babak ini dibuka dengan tarian aktivitas malam yang damai, seperti masyarakat yang beristirahat atau berjaga. Perlahan, muncul gerakan-gerakan yang menggambarkan kegelisahan dan kepanikan. Penari yang memerankan Poppo masuk dengan gerakan mengintai.  hanya berupa bayangan atau siluet. Musik yang mengiringi didominasi oleh melodi minor yang menegangkan dan suara-suara perkusi yang menciptakan suasana mencekam, mencerminkan rasa terhantui dan ketakutan yang menyelimuti desa.

Babak II: Menggali Solusi (Siruntu Passangkamma)

Kepanikan di Babak I mencapai puncaknya, dan masyarakat akhirnya berkumpul. Tarian pada babak ini berfokus pada musyawarah dan kebersamaan. Gerakan penari menampilkan diskusi intens, mencari tahu penyebab teror, dan menggali kearifan lokal untuk menemukan cara menangkal Poppo. Salah satu penari  tokoh muncul dengan gerakan yang berwibawa dan penuh perhitungan, mewakili ditemukannya "Pallawa Poppo" yaitu ramuan, mantra, atau ritual khusus yang dipercaya bisa melemahkan atau mengusir makhluk tersebut.

Babak III: Pertarungan dan Kemenangan (Mallawa Poppo)

Babak ini adalah klimaks. Masyarakat bersatu dan mulai melakukan ritual penangkal yang dipimpin oleh tokoh adat. Gerakan tarian berubah menjadi kuat, serentak, dan penuh semangat juang. Mereka menggunakan yang diangkat tinggi-tinggi sebagai simbol perlawanan. Terdapat adegan konfrontasi di mana Poppo berusaha melawan ritual tersebut dengan gerakan-gerakan yang semakin agresif, namun akhirnya terjebak dan melemah oleh kekuatan persatuan dan penangkal tradisional. Poppo akhirnya diusir atau dinetralisir, meninggalkan panggung dalam gerakan yang kalah dan tak berdaya.

Penutup: Desa Kembali Damai

Tarian diakhiri dengan gerakan yang anggun, riang, lega, dan penuh syukur. Masyarakat desa kembali merayakan kedamaian yang telah direbut kembali. Gerakan dan musik kembali ceria dan harmonis, menunjukkan bahwa kearifan lokal dan semangat gotong royong berhasil mengatasi ketakutan terbesar mereka. Pesan utama tarian ini adalah pentingnya persatuan dalam menghadapi bahaya dan kekuatan tradisi sebagai pelindung masyarakat.

Kepala MAN Pinrang, Ansyar menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang tinggi atas capaian ini. “Kemenangan ini bukan sekadar prestasi di bidang seni, tetapi juga bentuk keberhasilan madrasah dalam menanamkan nilai budaya dan karakter pada peserta didik. Tari Pallawa Poppo mengajarkan bahwa persatuan dan doa adalah kekuatan terbesar dalam menghadapi setiap tantangan,” ujarnya.

Sementara itu, pembina tim tari MAN Pinrang, St. Hajar Aswad turut mengungkapkan rasa bangga dan harunya atas dedikasi peserta didik dalam mempersiapkan penampilan tersebut.

“Anak-anak menunjukkan kerja keras dan semangat luar biasa. Mereka tidak hanya menari, tetapi benar-benar menghidupkan cerita yang penuh makna. Pallawa Poppo kami hadirkan bukan sekadar pertunjukan, melainkan wujud pelestarian budaya lokal yang sarat nilai moral dan spiritual,” tutur St. Hajar Aswad.

Dengan kemenangan ini, MAN Pinrang semakin menegaskan diri sebagai madrasah yang unggul dalam prestasi akademik maupun seni dan budaya.
Tari Pallawa Poppo menjadi bukti bahwa seni tradisi dapat menjadi media pendidikan karakter, memperkuat jati diri, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya daerah. (Musakkir/Lentera)

Editor: Mawardi

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default