Rabu, 23 November 2011, 12:00 –
Metode Pembelajaran Diniyah Takmiliyah Harus Interaktif

Makassar, (Humas Sulsel). Metode pebelajaran Diniyah Takmiliyah yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam, dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, mendorong kreativitas dan kemandirian, serta menumbuhkan motivasi untuk hidup sukses.

Hal ini dikatakan Kabid Pekapontren Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulsel, Drs H Abd Wahid Thahir M Ag pada acara Workshop Program Diniyah Takmiliyah se Kota Makassar Tahun 2011, diselenggarakan Kantor Kemenag Kota Makassar, Rabu (23/11).

Menurut Kabid, saat ini tidak boleh lagi ada diskriminasi atara lembaga pendidikan agama, dan lembaga pendidikan umum, begitu pula sekolah swasta dan sekolah negeri, terlebih setelah keluarnya peraturan pemerintah (PP) No 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan.

Dikatakan Kabid, dalam PP itu disebutkan bahwa Diniyah Takmiliyah adalah lembaga pendidikan Islam yang secara signifikan ikut andil dalam mencerdaskan kehidupa bangsa. Sesuai denga namanya, Diniyah Takmiliyah mengambil peran sebagai lembaga pendidikan yang berupaya untuk melengkapi materi pendidikan agama Islam yang dirasa kurang, pada sekolah-sekolah umum.

``Sistem pembelajaran di lembga pendidikan ini, tumbuh secara natual melalui proses akulturasi yang berjalan secara dimamis sesuai dengan kebutuhan masyarakat,`` ungkapnya.

Sebagai bagian dari lembaga pendidikan non formal, lanjut Kabid, madrasah diniyah bertujuan (1) melayani warga belajar untuk tumbuh dan berkembang sedini mungkin dan sepanjang hayatnya, guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupannya.

(2) membina warga beljar agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ke tingkat dan jenjang yang lebih tinggi.

(3) memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidika sekolah.

Wahid menambahkan bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan yag diharapkan, setidaknya ada lima hal yang harus mendapat perhatian oleh penyelenggara pendidikan pondok pesantren, pertama, guru sebelum tampil di kelas perlu pembekalan, harus tahu apa yang akan disampaikan kepada santrinya;

Kedua, harus ada literatur bagi guru dalam pengembangan ilmu pengetahuan; Ketiga, dalam proses belajar mengajar (PBM), pimpinan pondok perlu melakukan pengawasan, memonitoring dan kalau perlu, ada pendampingan;

Keempat, perlu pemetaan ulang tentang pondok pesantren. Pesantren yang bisa eksis ialah yang punya guru, siswa, kitab, masjid dan pondokan. Dan kelima adalah penyelenggara harus mampu membangun baitul mal kerja sama yang baik dengn stake holder.

Sebelumnya Kasi Pekapontren Kemenag Kota Makassar Jamaruddin MAg menjelaskan, kualitas pendidikan keagamaan yang baik seperti yang diselenggarakan oleh Diniyah Takmiliyah akan akan mampu membentengi diri anak dari pengaruh dunia Barat, yang meronrong sendi-sendi agama dan budaya.

Menurut dia, perlu strategi yang matang dalam proses pembelajaran. Tiap guru dituntut tidak lagi menggunakan metode yang kaku, namun lebih bervariasi. ``Yang paling penting membangkitkan semangat belajar siswa``, ucapnya .

Workshop yang berlangsung dua hari dan diikuti sebanyak 40 orang lebih peserta ini, selain Kabid yang hadir sebagai nara sumber, juga tampak Kepala Kantor Kemenag Kota Makassar, H Abd Wahid SH, MH dan nara sumber lainnya dari akademisi. (dir)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.596601 detik
Diakses dari alamat : 10.1.7.64
Jumlah pengunjung: 945945
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.